Abu Anak Krakatau Ancam Kesehatan 3,3 Juta Lansia

Jumlah tersebut menunjukkan besarnya beban kesehatan yang perlu diantisipasi di wilayah terdampak.

oleh Raynaldo Ghiffari LubabahDiterbitkan 07 September 2026, 11:12 WIB
Hujan Abu Anak Krakatau di Serang. Foto: ANTARA/Desi Purnama Sari

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memperkirakan sekitar 3,3 juta lansia berisiko mengalami gangguan kesehatan akibat erupsi Gunung Anak Krakatau. Jumlah tersebut menunjukkan besarnya beban kesehatan yang perlu diantisipasi di wilayah terdampak.

Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes Imran Pambudi mengatakan, abu vulkanik memiliki karakteristik berbeda dari debu biasa.

Kandungan silika yang tajam dapat membahayakan paru-paru, mata, dan kulit. Abu yang bercampur air juga dapat mengeras seperti semen sehingga membutuhkan penanganan khusus saat dibersihkan.

"Abu vulkanik memiliki karakteristik yang berbeda dengan debu biasa. Kandungan silika tajam membuatnya berbahaya bagi paru-paru, mata, dan kulit. Bila bercampur dengan air, abu dapat mengeras seperti semen sehingga salah cara membersihkan justru menambah risiko," kata Imran di Jakarta, Senin.

Menurut Imran, lansia termasuk kelompok yang rentan mengalami dampak kesehatan akibat paparan abu vulkanik. Gangguan yang dapat muncul antara lain infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), sesak napas, serta memburuknya kondisi asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).

Paparan partikel halus juga dapat memicu peradangan pada saluran pernapasan. Pada lansia, kondisi tersebut berpotensi memperburuk penyakit kronis dan meningkatkan risiko gangguan kardiovaskular, seperti kenaikan tekanan darah, serangan jantung, dan stroke.

Selain gangguan pernapasan, abu vulkanik dapat menyebabkan mata perih, berair, dan mudah teriritasi. Kulit juga berisiko mengalami gatal serta peradangan. Paparan berkepanjangan, ditambah proses evakuasi mendadak dan isolasi sosial, dapat meningkatkan beban psikologis lansia.

"Mata menjadi perih, berair, dan mudah teriritasi, sementara kulit mengalami gatal dan peradangan. Tidak jarang lansia juga mengalami kebingungan atau penurunan konsentrasi akibat paparan berkepanjangan. Trauma evakuasi mendadak dan isolasi sosial menambah beban psikologis berupa stres dan depresi," katanya.

Imran menjelaskan, dampak abu vulkanik berbeda dengan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Abu vulkanik lebih banyak menimbulkan iritasi fisik secara langsung, sedangkan asap karhutla mengandung karbon, gas beracun, dan partikel organik yang dapat memberikan dampak lebih lama terhadap kesehatan pernapasan dan kardiovaskular.

Aktivitas Gunung Anak Krakatau, kata Imran, perlu menjadi perhatian karena erupsi dapat menimbulkan ancaman kesehatan bagi masyarakat, terutama kelompok lansia.

Ia mencontohkan erupsi pada 2018 yang memicu tsunami di Selat Sunda serta aktivitas erupsi pada September 2026 yang menyebabkan sebaran abu hingga Lampung, Banten, DKI Jakarta, dan sebagian Jawa Barat.

Untuk mengurangi risiko, masyarakat diimbau menggunakan masker N95 atau KN95 dan kacamata pelindung. Warga juga perlu menutup celah rumah agar abu tidak masuk serta membasahi abu terlebih dahulu sebelum membersihkannya.

 

Keluarga Harus Proaktif

Keluarga dan caregiver diminta memastikan ketersediaan obat rutin lansia, memantau tanda-tanda bahaya, serta memberikan dukungan psikososial.

Sementara itu, fasilitas kesehatan di wilayah terdampak perlu menyiapkan oksigen konsentrator, obat ISPA, salep kulit, obat tetes mata, dan tenaga kesehatan untuk menghadapi kondisi darurat.

Imran mengingatkan, proses pembersihan abu harus dilakukan secara hati-hati. Abu vulkanik mengandung partikel silika yang tajam dan bersifat asam sehingga dapat merusak lantai, kaca, serta kendaraan apabila ditangani dengan cara yang keliru. Partikel tersebut juga berisiko membahayakan paru-paru jika terhirup.

Ia menilai erupsi Gunung Anak Krakatau menjadi pengingat bahwa bencana alam tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga dapat mengancam kesehatan masyarakat. Karena itu, lansia dengan keterbatasan fisik dan penyakit kronis perlu ditempatkan sebagai kelompok prioritas dalam strategi mitigasi.

"Dengan perlindungan individu, dukungan keluarga, dan kesiapan fasilitas kesehatan, risiko komplikasi dan mortalitas dapat ditekan, sehingga kelompok usia lanjut tetap terlindungi di tengah ancaman vulkanik yang terus berulang," ujarnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya