Belajar dari Insiden British Airways, Bahaya Abu Anak Krakatau Bagi Pesawat

Sebaran abu vulkanik Anak Krakatau menjadi ancaman fatal bagi penerbangan.

oleh Idris Rusadi PutraDiterbitkan 06 September 2026, 12:21 WIB
Ilustrasi Boeing 777 milik penerbangan British Airways. (Sumber British Airways)

Liputan6.com, Jakarta - Keputusan otoritas penerbangan untuk menutup sementara ruang udara Jakarta dan sekitarnya imbas erupsi Gunung Anak Krakatau dinilai sebagai langkah tepat. Pengamat penerbangan Alvin Lie menegaskan bahwa sebaran abu vulkanik merupakan ancaman fatal bagi keselamatan penerbangan yang tidak boleh dikompromikan.

Berdasarkan laporan meteorologi BMKG, ketinggian semburan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau mencapai 50.000 kaki. Angka ini berada jauh di atas jelajah terbang normal pesawat komersial yang berkisar antara 30.000 hingga 35.000 kaki, dengan batas tertinggi 40.000 kaki. 

"Sudah benar keputusan untuk sementara waktu menutup ruang udara di Jakarta, Bandung, dan sekitarnya. Perkembangan ke depan sangat bergantung pada arah dan kecepatan angin," ujar Alvin Lie saat dihubungi Liputan6.com, Minggu (6/9/2026).

Ia menjelaskan bahwa jika pergerakan angin berembus ke barat menuju Lampung atau Palembang, ruang udara Jawa Bagian Barat bisa segera dibuka kembali. Namun, jika angin berembus ke timur, cakupan dampak abu vulkanik berpotensi meluas hingga Semarang, Yogyakarta, dan Solo.

Alvin juga kembali mengingatkan peristiwa British Airways 009 tahun 1980-an, di mana 4 mesin pesawat semua mati. Beruntung ketika turun pada ketinggian 10.000 di mana udara itu sudah lebih pekat, masih bisa menghidupkan mesinnya dan bisa mendarat di Bandara Halim Perdanakusuma.

Insiden Mencekam British Airways 009

Ilustrasi maskapai British Airways. (dok. Skeeze/Pixabay/Tri Ayu Lutfiani)

Ancaman abu vulkanik terhadap penerbangan bukanlah sekadar teori. Sejarah mencatat peristiwa mencekam pada 24 Juni 1982 yang menimpa penerbangan British Airways Flight 009 rute London–Auckland.

Saat melintas di atas Pelabuhan Ratu, Jawa Barat, pesawat Boeing 747 tersebut terjebak dalam awan abu vulkanik dari erupsi Gunung Galunggung yang membumbung tinggi. Akibat partikel abu halus masuk dan menyumbat pembakaran, keempat mesin jet pesawat mati total secara berurutan di udara.

Dalam situasi krisis tanpa dorongan mesin, sang pilot berjuang melakukan manuver meluncur (gliding) keluar dari paparan awan abu menuju Jakarta. Beruntung, saat pesawat turun ke ketinggian 10.000 kaki di mana kerapatan udara lebih pekat, keempat mesin berhasil dihidupkan kembali satu per satu.

Pesawat akhirnya berhasil melakukan pendaratan darurat dengan selamat di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta.

Pengalaman traumatis meluncur tanpa mesin di atas langit Jawa tersebut menginspirasi salah satu penumpang, Betty Tootell, untuk menulis buku legendaris berjudul All Four Engines Have Failed. Para penumpang selamat bahkan membentuk komunitas bernama Galunggung Gliding Club untuk mengenang momen hidup-mati tersebut.

Peristiwa historis ini menjadi bukti mendasar bagi industri penerbangan global bahwa material abu vulkanik—sekecil apa pun partikelnya mampu melumpuhkan total mesin jet, sehingga penutupan ruang udara saat erupsi gunung berapi merupakan prosedur keselamatan mutlak yang wajib dipatuhi.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya