Liputan6.com, Jakarta - Setelah hampir setahun menantang bahaya menyeberangi derasnya Sungai Cimandiri menggunakan perahu karet, warga dan pelajar di Kampung Leuwidingding, Desa Tanjungsari, Kecamatan Jampangtengah, Kabupaten Sukabumi kini mendapat angin segar.
Pembangunan kembali Jembatan Leuwidingding resmi dimulai melalui aksi gotong royong pembersihan bantaran sungai pada Jumat (4/9/2026).
Advertisement
Ratusan personel gabungan dari TNI-Polri, Pemerintah Kabupaten Sukabumi, dan masyarakat setempat turun langsung menyiapkan lokasi tapak jembatan sepanjang 40 meter tersebut. Aksi ini juga digelar dalam rangka memperingati HUT ke-81 TNI AL dan Hari Jadi ke-156 Kabupaten Sukabumi.
Asisten Teritorial Koarmada RI, Laksamana Budi Mulyadi membacakan amanat Panglima Koarmada RI Laksamana Madya TNI Dr. Denih Hendrata, menegaskan pentingnya menjaga kebersihan area sebelum fisik jembatan dibangun.
"Kebersihan lingkungan tidak dapat dijaga oleh satu pihak saja. Dibutuhkan kepedulian dan partisipasi bersama, mulai dari pemerintah, TNI-Polri, hingga seluruh lapisan masyarakat," ujar Laksamana Budi Mulyadi.
Dia menambahkan bahwa tumpukan sampah di aliran sungai berpotensi memicu bencana ekologis lanjutan. Oleh karena itu, penataan area menjadi langkah awal untuk memastikan keamanan lokasi konstruksi.
Di lokasi sama, Sekretaris Daerah Kabupaten Sukabumi, Ade Suryaman, mengapresiasi tinggi sinergi seluruh pihak.
Saat meninjau lokasi dengan perahu karet, Sekda menekankan betapa pentingnya jembatan ini bagi kehidupan masyarakat desa.
"Kehadiran Jembatan Leuwidingding kelak diharapkan menjadi katalisator pergerakan ekonomi warga Jampangtengah dan sekitarnya," kata Ade Suryaman.
Ade menyebutkan bahwa kelancaran konektivitas wilayah akan berdampak langsung pada perekonomian lokal dan sektor pendidikan.
"Aksesibilitas yang terhubung dengan baik akan memangkas rantai distribusi hasil pertanian, mempermudah akses pendidikan, serta mempererat integrasi wilayah," ujar dia.
Sebelum pengerjaan dimulai, akses penyeberangan ini terputus total akibat luapan sungai pada akhir Desember 2025 lalu. Keadaan tersebut sempat membuat keselamatan para pelajar terancam setiap harinya.
Kepala Desa Tanjungsari, Dilah Habillah, sebelumnya sempat menumpahkan kekhawatirannya atas kondisi membahayakan yang dialami para siswa SDN Kadupugur dan SDN Leuwidinding.
"Kami sangat khawatir dengan keselamatan mereka. Setiap hari ratusan nyawa pelajar bergantung pada seutas tali perahu di atas derasnya Cimandiri," tegas Dilah Habillah.
Kini, dimulainya tahap pembersihan bantaran sungai menandai langkah konkret pemulihan aksesibilitas warga Jampangtengah agar aktivitas harian dan pendidikan dapat kembali normal.