Liputan6.com, Jakarta - Pernah melihat dua orang sebaya, tapi kondisi kulit mereka tampak berbeda? Salah satunya mungkin masih memiliki tekstur kulit yang terjaga, sementara yang lain mulai mengalami kerutan, pigmentasi, kulit kendur, bahkan proses pemulihan yang lebih lambat.
Perbedaan ini tidak semata-mata dipengaruhi usia kronologis, tapi juga faktor genetik, serta berbagai paparan yang dialami sepanjang hidup. Dermatolog asal India, Dr. Anurag Tiwari, menjelaskan konsep exposome sebagai cara memahami proses penuaan melalui interaksi antara faktor bawaan dan pengalaman hidup.
Advertisement
"Apa yang kamu makan, apa yang kamu lakukan, dan apa yang ada di sekitarmu menentukan dirimu secara keseluruhan seiring bertambahnya usia," katanya di sesi Scientific Lecture dalam rangkaian Aruna International Summit di Jakarta, Jumat, 4 September 2026.
Konsep tersebut mencakup beragam paparan, mulai dari lingkungan fisik, faktor kimia dan biologis, perilaku, kondisi psikososial, hingga gaya hidup. Seluruhnya berinteraksi dengan tubuh dan terakumulasi dari waktu ke waktu.
Karena itu, dua orang dengan usia kronologis yang sama belum tentu menunjukkan kondisi kulit atau proses penuaan yang serupa. Menurut Tiwari, pendekatan ini memperluas pemahaman tentang penuaan yang selama ini banyak dikaitkan dengan proses intrinsik dan photoaging.
Melalui konsep exposome, pengalaman hidup turut menjadi bagian penting dalam melihat bagaimana kondisi tubuh dan kulit berubah dari waktu ke waktu.
"Ini merupakan sesuatu yang melibatkan banyak aspek. Kita membicarakan faktor fisik, kimia, biologis, dan lainnya. Yang terpenting adalah faktor-faktor tersebut berlangsung sepanjang waktu dan banyak di antaranya dapat diubah. Itulah kuncinya," tambahnya.
Sinar Matahari hingga Stres Berkontribusi
Berbagai paparan sehari-hari dapat menjadi bagian dari skin aging exposome. Tiwari menyebut, radiasi ultraviolet, polusi udara, asap tembakau, pola makan, dehidrasi, kualitas tidur, stres psikologis, mikrobioma kulit dan usus, serta kondisi iklim sebagai faktor yang dapat memengaruhi penuaan kulit.
Setiap paparan bekerja melalui mekanisme berbeda. Partikel polusi seperti PM2.5 dapat memicu stres oksidatif dan mengganggu skin barrier, sedangkan nitrogen dioksida berkaitan dengan peningkatan pigmentasi.
Asap rokok juga menambah beban oksidatif, serta memengaruhi pembuluh darah dan proses degradasi enzimatik pada kulit. "Semua faktor ini secara bersama-sama dapat memicu stres oksidatif, sitokin inflamasi, dan peningkatan ekspresi MMP-1 yang kemudian menyebabkan kerusakan skin barrier, kerusakan kulit, serta penuaan dini," jelasnya.
Ia menambahkan, makanan dengan indeks glikemik tinggi berkaitan dengan glikasi, sementara kualitas tidur yang buruk dapat memperlambat pemulihan skin barrier setelah mengalami stres.
Kembar Identik pun Bisa Menua Berbeda
Faktor genetik memang berperan dalam menentukan karakteristik seseorang, tapi tidak berarti individu dengan kemiripan genetik tinggi akan mengalami penuaan kulit dengan cara yang sama. Tiwari menggunakan studi terhadap pasangan kembar untuk menunjukkan bagaimana paparan non-genetik turut memengaruhi proses tersebut.
"Kita menua secara berbeda karena faktor genetik. Hal itu juga terlihat dalam studi terhadap pasangan kembar, ketika skor kerusakan akibat paparan sinar matahari pada dua individu dalam satu pasangan menunjukkan korelasi yang tinggi. Namun, seiring waktu, mulai terlihat perbedaan di antara keduanya," ujar dia.
Menurutnya, perbedaan semakin jelas ketika pengalaman hidup masing-masing individu mulai tidak sama. Kebiasaan merokok, berat badan, dan penggunaan tabir surya dapat memengaruhi kondisi kulit dan membuat tingkat penuaannya berbeda, bahkan pada kembar identik.
Hal ini menunjukkan bahwa faktor lingkungan dan gaya hidup dapat ikut menentukan bagaimana kulit menua.
Kelola Paparan, Bukan Sekadar Tanda Penuaan
Pemahaman tentang exposome membuka pendekatan yang lebih menyeluruh dalam mencegah penuaan kulit. Tiwari menekankan bahwa banyak faktor yang memengaruhi proses tersebut masih dapat dimodifikasi melalui kebiasaan sehari-hari, sehingga perawatan sebaiknya tidak hanya berfokus pada tanda penuaan yang sudah terlihat.
"Anda perlu mengubah faktor-faktor tersebut dan memperhatikan segala sesuatu yang terjadi pada diri Anda," katanya.
Upaya pencegahan dapat dilakukan melalui fotoproteksi, menjaga skin barrier, memperhatikan asupan makanan tinggi glikemik, rutin beraktivitas fisik, serta menerapkan gaya hidup sehat.
Kemajuan teknologi juga memungkinkan risiko penuaan dianalisis secara lebih personal melalui biomarker, skin metabolomics, genomik, dan analisis exposome.
"Jadi, penuaan kronologis dan faktor genetik hanya menjelaskan sebagian kecil dari perubahan kulit yang terlihat. Faktor genetik dan lingkungan turut berperan. Ingat, sebagian besar faktor tersebut dapat dimodifikasi dan kita bisa melakukannya," tandasnya.