Liputan6.com, New York - Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) pada Kamis (3/9/2026) memperingatkan El Nino akan semakin menguat dan hampir pasti bertahan hingga Februari 2027.
Fenomena ini diperkirakan mencapai puncaknya menjelang akhir tahun, sementara dampaknya terhadap iklim dapat berlangsung lebih lama. Pasalnya, panas dari laut dilepaskan lebih lambat ke atmosfer sehingga dapat mendorong kenaikan suhu global pada tahun berikutnya.
Advertisement
El Nino merupakan fenomena iklim alami dan bukan disebabkan oleh perubahan iklim.
Meski demikian, para ilmuwan memperkirakan El Nino kali ini akan memperparah panas di Bumi yang sudah meningkat akibat pembakaran bahan bakar fosil. Fenomena tersebut juga berpotensi memperburuk cuaca ekstrem.
"El Nino semakin membesar di depan mata kita," kata Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres seperti dilaporkan CNA.
"Ilmu pengetahuan tidak menyisakan keraguan: planet ini memasuki kondisi yang belum pernah kita hadapi sebelumnya, dan lautan terus memanas. Suhu permukaan laut meningkat, suhu terus naik, dan dunia kini berada di zona bahaya cuaca ekstrem."
Ia menambahkan, "Sekarang kita berpacu antara risiko yang terus meningkat dan komitmen untuk mengambil tindakan menghadapi perubahan iklim serta melindungi masyarakat. Perlombaan ini harus kita menangkan."
WMO Minta Dunia Bersiap Hadapi El Nino
Rekor tahun terpanas dunia saat ini masih dipegang 2024, yang terjadi setelah El Nino sebelumnya.
"El Nino yang luar biasa ini ... berpotensi menjadi pukulan besar bagi masyarakat dan perekonomian di seluruh dunia," kata Sekretaris Jenderal WMO Celeste Saulo.
"Kita sudah melihat kerusakan dan gangguan akibat kekeringan serta banjir. Dampaknya diperkirakan semakin besar ketika El Nino menguat."
Saulo mengingatkan lembaga penanggulangan bencana dan berbagai sektor yang sangat dipengaruhi kondisi cuaca, seperti pertanian, kesehatan, energi, dan air, agar segera melakukan persiapan.
Menurut dia, tidak ada waktu lagi untuk menunda langkah antisipasi.
El Nino terjadi ketika suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur, terutama di sekitar khatulistiwa, menjadi lebih hangat dari biasanya. Perubahan suhu laut tersebut kemudian memengaruhi pola angin, tekanan udara, dan hujan di berbagai wilayah dunia.
Fenomena ini biasanya muncul setiap dua hingga tujuh tahun sekali dan berlangsung sekitar sembilan hingga 12 bulan.
Dalam siklus tersebut, kondisi dapat berganti dari El Nino ke La Nina, yang merupakan kebalikannya, dengan periode netral di antara keduanya.
"Dengan suhu laut yang luar biasa hangat di kawasan tropis Pasifik, El Nino diperkirakan terus menguat dalam beberapa bulan mendatang hingga mencapai kategori sangat kuat," kata WMO.
WMO membagi kekuatan El Nino menjadi empat kategori, yakni lemah, sedang, kuat, dan sangat kuat. Artinya, El Nino kali ini diperkirakan mencapai tingkat tertinggi.
WMO menyebut peluang El Nino bertahan hingga Februari mendekati 100 persen.
Pasifik Terus Menghangat
Dampak El Nino tidak hanya dirasakan di sekitar Samudra Pasifik. Fenomena ini dapat mengubah pola cuaca dan iklim hingga ribuan kilometer dari wilayah tempat El Nino terbentuk.
Dampak setiap El Nino memang tidak selalu sama. Namun, El Nino besar kerap menyebabkan kekeringan di sebagian wilayah Amazon, Indonesia, dan Australia. Fenomena ini juga dapat mengganggu musim hujan di India serta mengubah pola hujan di berbagai kawasan tropis.
Untuk periode September hingga November, WMO memperkirakan suhu di atas normal berpeluang terjadi di hampir seluruh wilayah daratan dunia.
Pola hujan pada periode yang sama mulai menunjukkan ciri yang biasanya muncul ketika El Nino kuat berkembang di Samudra Pasifik, menurut WMO.
Penguatan El Nino terlihat pula dari kenaikan suhu permukaan laut di wilayah tengah dan timur Samudra Pasifik sekitar khatulistiwa.
Pada Mei hingga Juli, suhu permukaan laut di kawasan tersebut rata-rata sekitar 1,5 derajat Celsius lebih tinggi dari kondisi normal.
Kemudian, dari akhir Juli hingga pertengahan Agustus, selisih suhu mingguan meningkat menjadi sekitar 2,2 hingga 2,6 derajat Celsius di atas rata-rata. Data tersebut menunjukkan El Nino masih terus menguat.
Bahkan, di beberapa wilayah, suhu air laut di bawah permukaan tercatat lebih dari 8 derajat Celsius di atas rata-rata sepanjang Juli hingga awal Agustus.