17 Juta Barel Minyak Lewati Selat Hormuz, Tertinggi Sejak Perang Iran

Lebih dari 17 juta barel minyak melewati Selat Hormuz pada Senin, menjadi rekor sejak perang Iran dimulai akhir Februari.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 03 September 2026, 09:20 WIB
Sebuah perahu motor kecil melewati kapal-kapal yang berlabuh di Selat Hormuz di lepas pantai Bandar Abbas, Iran, Kamis, 11 Juni 2026. (Amirhosein Khorgooi/ISNA via AP)

Liputan6.com, Jakarta - Lebih dari 17 juta barel minyak diangkut melalui Selat Hormuz menggunakan kapal pada Senin. Angka tersebut menjadi yang tertinggi sejak perang Iran dimulai pada akhir Februari.

Menteri Energi Amerika Serikat (AS) Chris Wright mengatakan volume ekspor minyak dari kawasan tersebut pada Senin bahkan lebih tinggi dibandingkan sebelum perang jika aliran minyak melalui jaringan pipa Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) yang menghindari Selat Hormuz turut diperhitungkan.

Sebelum perang dimulai pada 28 Februari, sekitar 20 juta barel minyak mentah dan produk minyak per hari melewati selat strategis tersebut.

Wright mengatakan Iran mulai kehilangan kemampuannya untuk menjadikan perekonomian dunia sebagai alat tekanan karena militer AS membantu kapal tanker melintasi Selat Hormuz.

“Iran menyebabkan beberapa gangguan, tetapi mereka kehilangan kartu tersebut,” kata Wright dikutip dari CNBC, Kamis (3/9/2026).

Ia berbicara kepada Brian Sullivan dari CNBC di Venezuela, lima hari setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan kesepakatan minyak besar dengan pemerintahan sementara di Caracas.

 

AS Kawal Kapal Tanker Lewati Selat Hormuz

Sebuah kapal tanker berlabuh di Selat Hormuz di lepas pantai Pulau Qeshm, Iran, Sabtu, 18 April 2026. (AP Photo/Asghar Besharati)

Pemerintah AS menyebut memiliki data ekspor minyak melalui Selat Hormuz yang lebih tinggi dibandingkan laporan perusahaan pelacak kapal independen. Wright mengatakan militer AS dan Departemen Energi memiliki data terbaik karena perusahaan swasta kerap tidak mendeteksi pelayaran secara rahasia.

Harga minyak mentah AS turun sekitar 1% pada Rabu. Namun, kontrak berjangka sempat berada di sekitar US$ 90 per barel ketika AS dan Iran kembali saling melancarkan serangan militer.

Militer AS telah membentuk koridor pelayaran di sepanjang pesisir Oman yang digunakan kapal tanker dari negara-negara sekutu AS di kawasan Teluk untuk melewati Selat Hormuz. Kapal-kapal tersebut kerap berlayar pada malam hari dengan transponder dimatikan untuk mengurangi risiko serangan.

“Dengan atau tanpa Iran, minyak dan gas akan mengalir keluar dari kawasan Teluk Arab dan itu sedang terjadi,” kata Wright.

Iran berulang kali menyerang kapal tanker yang menggunakan jalur tersebut dan meminta kapal komersial melewati koridor utara melalui perairannya.

Sedikitnya dua kapal tanker telah diserang di Selat Hormuz pekan ini, berdasarkan laporan insiden dari United Kingdom Maritime Trade Operations Centre.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya