Enam Gunung Api Erupsi Serentak, PVMBG Ungkap Penyebabnya

Erupsi enam gunung api disebut sebagai dinamika vulkanik independen.

oleh Pebrianto Eko WicaksonoDiterbitkan 03 September 2026, 06:58 WIB
Enam gunung api erupsi serentak pada 31 Agustus 2026, Sinabung menjadi salah satu gunung api yang erupsi. (AFP/ YT Haryono)

Liputan6.com, Jakarta - Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM memastikan, fenomena enam gunung api di Indonesia yang erupsi secara bersamaan pada 31 Agustus 2026 merupakan dinamika vulkanik independen dan tidak saling memicu satu sama lain.

Enam gunung api yang erupsi serentak tersebut mencakup Gunung Ibu di Maluku Utara, Gunung Semeru di Jawa Timur, Gunung Lewotobi Laki-laki dan Gunung Ili Lewotolok di NTT, Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, serta Gunung Sinabung di Sumatera Utara.

Kepala PVMBG Badan Geologi, Rita Susilawati menjelaskan, posisi Indonesia di kawasan Cincin Api Pasifik (Ring of Fire) dengan 127 gunung api aktif memungkinkan terjadinya erupsi pada hari yang sama tanpa adanya keterkaitan sistemik.

"Kalau bahasa sederhananya dapurnya itu masing-masing, dapurnya itu sendiri-sendiri, begitu ya, dan proses menuju erupsi antara satu gunung dengan gunung yang lainnya itu juga berbeda-beda. Kami tidak menemukan bukti adanya satu proses geologi yang memicu seluruh erupsi tersebut secara bersamaan di tanggal 31 Agustus," kata Rita, melansir Antara, Kamis (3/9/2026).

Dinamika erupsi serentak ini turut diikuti kenaikan tingkat aktivitas Gunung Sinabung di Sumatera Utara dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) sejak 31 Agustus 2026 pukul 12.00 WIB. Kenaikan status tersebut dilakukan setelah Gunung Sinabung menyemburkan kolom abu vulkanik setinggi 3.500 meter di atas puncak.

Sementara itu, Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda masih berstatus Level III (Siaga), yang berlaku sejak 2 Juli 2026. Pada 31 Agustus 2026, gunung api tersebut mengalami erupsi dengan kolom abu setinggi 200 meter.

 

Dikaitkan dengan Gempa Bumi

Rita juga meluruskan persepsi publik terkait gempa bumi yang sering dikaitkan dengan erupsi gunung api. Menurut dia, gempa tektonik tidak otomatis memicu erupsi, kecuali terbukti melalui lonjakan data pemantauan internal gunung, seperti kegempaan dalam, deformasi tubuh gunung, hingga perubahan suhu dan pelepasan gas.

Merespons kekhawatiran warga pesisir Banten dan Lampung terkait potensi tsunami akibat letupan Gunung Anak Krakatau, PVMBG mengimbau masyarakat tidak panik. Erupsi gunung tersebut tidak serta-merta menimbulkan tsunami.

PVMBG meminta warga mematuhi rekomendasi bahaya, khususnya dengan mengosongkan zona bahaya radius 3 kilometer dari puncak Gunung Sinabung serta radius 6 kilometer pada sektor selatan-timur.

Masyarakat juga diminta mewaspadai ancaman lahar hujan di sepanjang aliran sungai yang berhulu dari puncak Gunung Sinabung.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya