Beras Premium Langka di Ritel, Mendag Senggol Bulog

Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso merespons keluhan beras premium kemasan 5 kg yang langka dengan terus berkoordinasi dengan Aprindo.

oleh Thurfah Mahira AhnafDiterbitkan 02 September 2026, 17:00 WIB
Menteri Perdagangan, Wakil Menteri Perdagangan, Kepala LAN, dan Kepala BPSDMP menjawab pertanyaan wartawan pada Peluncuran Cetak Biru Pengembangan SDM Perdagangan Menuju Indonesia Emas 2045 dan Trade Corporate University Kementerian Perdagangan, Jakarta, Rabu (2/9/2026)

Liputan6.com, Jakarta - Merespons kelangkaan beras premium kemasan 5 kg di ritel modern, Mendag Budi Santoso mendorong Perum Bulog menggenjot pasokan beras BFood ke jaringan Aprindo.

Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso merespons kelangkaan beras premium kemasan 5 kg yang belakangan dikeluhkan di sejumlah ritel modern. Ia menegaskan Kementerian Perdagangan (Kemendag) terus berkoordinasi dengan Perum Bulog dan Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) agar pasokan beras Bulog bisa segera memenuhi rak-rak ritel.

Hal tersebut disampaikan Budi di sela acara Peluncuran Cetak Biru Pengembangan SDM Perdagangan Menuju Indonesia Emas 2045 dan Trade Corporate University Kemendag, Rabu (2/9/2026).

Mengenai kemungkinan masuknya beras Bulog ke jaringan ritel anggota Aprindo, Budi menjelaskan bahwa produk tersebut sebenarnya sudah tersedia di pasaran.

"Sekarang kan ada beras premium juga dari Bulog, namanya BFood," ujar Budi.

Ia menambahkan, Kemendag terus mendorong agar beras Bulog, termasuk lini produk BFood (BeFood), dapat dipasok lebih masif guna mengatasi kelangkaan beras premium 5 kg di masyarakat.

"Aprindo kan yang jualan ya, jadi kita koordinasi terus justru supaya Bulog bisa memasok ke Aprindo," jelasnya.

Selain beras premium, Budi mengungkapkan bahwa Kemendag dan Bulog tengah menyiapkan varian beras medium yang rencananya turut didistribusikan ke jaringan ritel modern dalam waktu dekat.

BPS Ungkap Alasan Harga Beras Naik di Agustus 2026

Warga saat membeli beras di Pasar Induk Cipinang, Jakarta Timur. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kenaikan harga beras, baik kualitas medium maupun premium, pada Agustus 2026. Penurunan potensi luas panen hingga hambatan distribusi beras ke pasar menjadi faktor utama pemicu kenaikan harga tersebut.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menyampaikan bahwa inflasi beras tercatat terjadi baik secara bulanan (month-to-month/mtm) maupun tahunan (year-on-year/yoy) pada Agustus 2026. Inflasi ini sejalan dengan penurunan potensi luas panen pada periode tersebut.

"Inflasi yang terjadi pada beras pada Agustus ini tercermin dari penurunan potensi luas panen dan produksi beras pada Agustus 2026," kata Ateng dalam konferensi pers Berita Resmi Statistik, Selasa (1/9/2026).

"Kendati demikian, inflasi beras tidak semata-mata disebabkan oleh produksi padi di lapangan, tetapi juga dipengaruhi terutama oleh faktor distribusi beras ke pasar," imbuhnya.

BPS mencatat beras di tingkat eceran mengalami inflasi sebesar 0,42% secara bulanan pada Agustus 2026, serta mencatatkan inflasi 2,77% secara tahunan.

"Secara historis, bulan Agustus mulai memasuki fase transisi setelah melewati puncak panen raya. Oleh karena itu, kami mencatat kondisi beras mengalami inflasi pada Agustus," terang Ateng.

Kenaikan Harga Beras Premium Lebih Tinggi dari Medium

Daftar harga berbagai jenis beras yang dijual di Pasar Induk Cipinang, Jakarta Timur. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

BPS mencatat rata-rata harga beras di tingkat penggilingan pada Agustus 2026 secara keseluruhan naik 1,32% mtm dan 5,52% yoy.

Jika dipilah berdasarkan kualitasnya di penggilingan, beras premium naik 1,22% mtm dan melonjak 10,07% yoy. Sementara itu, beras medium naik 1,48% mtm serta menguat 4,03% yoy.

"Jadi secara year-on-year, kenaikan harga beras premium memang lebih tinggi dibandingkan dengan beras medium," jelas Ateng.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya