Liputan6.com, Jakarta - Kripto kapitalisasi pasar terbesar yakni Bitcoin (BTC) telah melewati masa terburuk dalam siklus saat ini. Harga bitcoin pun dinilai berada di jalur tempat untuk mencapai US$ 150.000 atau Rp 2,65 miliar (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 17.710).
Hal itu berdasarkan prediksi mantan Global Head of Valuation Risk Credit Suisse, CK Zheng, seperti dikutip dari Yahoo Finance, Selasa (1/9/2026).
Advertisement
Ia menyoroti kepastian regulasi yang lebih baik sebagai katalis yang dapat menarik minat institusi mulai berinvestasi.
Dalam wawancara dengan Investing.com, Zheng yang kini menjabat sebagai salah satu pendiri dan CIO ZX Squared Capital berpendapat bahwa penurunan harga terkini mencerminkan kematangan kelas aset tersebut, bukan jenis keruntuhan pasar seperti yang terjadi sebelumnya.
"Selama siklus pasar bearish tahun 2022, industri kripto menghadapi kegagalan bisnis yang meluas," ujar dia.
Ia menyebutkan kegagalan Terra/Luna, Celsius, Voyager, dan FTX.
"Sebagai perbandingan, kondisi industri jauh lebih sehat selama pasar bearish kali ini berkat pesatnya adopsi oleh institusi," ia menambahkan.
Ia mencatat, pasar ETF kripto dan perusahaan yang mengalokasikan kas korporasi ke aset ini lebih banyak menarik investor jangka panjang dibandingkan sekadar antusiasme sesaat dari investor ritel.
Terkait waktu, Zheng menyatakan, siklus empat tahunan masih berlaku secara struktural dan memperkirakan pasar bullish baru akan dimulai pada akhir tahun ini atau awal tahun depan.
"Pengesahan Undang-Undang CLARITY akan mendatangkan lebih banyak investor institusi ke kelas aset baru ini, yang pada gilirannya akan memicu lonjakan harga (bull run) baru," tutur dia.
Sentimen Harga Kripto
Ia juga mengaitkan target harga US$ 150.000 tersebut dengan tekanan fiskal, perkiraan utang AS akan meningkat dengan laju yang belum pernah terjadi sebelumnya pada 2027.
"Investor institusi yang serius perlu melakukan lindung nilai terhadap risiko penurunan nilai mata uang dolar dengan berinvestasi pada emas dan bitcoin," kata dia.
Ia menambahkan, kelangkaan pasokan dan adopsi yang meluas akan mendorong kenaikan harga seiring munculnya fenomena FOMO (fear of missing out) di kalangan institusi.
Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.