Bursa Asia Kompak Melemah, Investor Waspadai Kenaikan Harga Minyak

Bursa Asia bergerak melemah di awal September setelah Wall Street ditutup turun dan harga minyak melonjak akibat konflik AS-Iran.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 01 September 2026, 08:25 WIB
Orang-orang berjalan melewati layar monitor yang menunjukkan indeks bursa saham Nikkei 225 Jepang dan lainnya di sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo, Jepang. (AP Photo/Eugene Hoshiko)

Liputan6.com, Jakarta - Bursa Asia bergerak melemah pada perdagangan awal September 2026. Investor mencermati tekanan dari kenaikan harga minyak dan prospek suku bunga setelah Wall Street mengakhiri perdagangan dengan penurunan.

Mengutip CNBC, Selasa (1/9/2026), di Jepang, indeks Nikkei 225 turun 0,91%, sedangkan indeks Topix bergerak datar. Di Korea Selatan, indeks Kospi dan indeks saham berkapitalisasi kecil Kosdaq masing-masing merosot lebih dari 1% pada awal perdagangan.

Sementara itu, indeks acuan Australia S&P/ASX 200 turun 0,36%.

Pergerakan negatif Bursa Asia terjadi setelah bursa saham Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada perdagangan sebelumnya.

Di pasar berjangka AS, pergerakan indeks relatif stabil. Kontrak berjangka Dow Jones Industrial Average naik 48 poin, sementara kontrak berjangka S&P 500 menguat kurang dari 0,1%. Kontrak berjangka Nasdaq-100 juga bergerak relatif datar.

Meski mengakhiri perdagangan terakhir dengan penurunan, ketiga indeks utama Wall Street tetap mencatat kenaikan sepanjang Agustus.

Indeks S&P 500 naik 2,6% selama Agustus, sedangkan Nasdaq Composite melonjak 3,9%. Dow Jones juga menguat 1,3%, sekaligus mencatat kenaikan bulanan kelima secara beruntun.

Harga Minyak Naik, Wall Street Berakhir di Zona Merah

Spesialis Michael Mara (kiri) dan Stephen Naughton berunding saat bekerja di New York Stock Exchange, AS. (AP Photo/Richard Drew)

Wall Street justru mengakhiri perdagangan terakhir Agustus dengan tekanan. Indeks Dow Jones turun lebih dari 370 poin dalam perdagangan reguler.

Penurunan terjadi ketika harga minyak melonjak setelah pasukan AS menyerang dua peluncur roket di Pulau Larak, Iran. Kenaikan harga minyak memicu kekhawatiran terhadap inflasi dan berpotensi mendorong suku bunga tetap tinggi.

Indeks S&P 500 dan Nasdaq Composite juga ditutup melemah pada hari tersebut.

Analis Goldman Sachs menilai pasar saham mulai menunjukkan tanda-tanda kegelisahan meskipun indeks utama masih berada tidak jauh dari rekor tertingginya.

“Despite trading less than 115bps from ATHs going into today’s session, the market is exhibiting signs of nervousness across myriad of indicators,” tulis para trader Goldman Sachs.

Jika diterjemahkan, Goldman Sachs menilai pasar menunjukkan tanda-tanda kegelisahan meskipun perdagangan berlangsung kurang dari 115 basis poin dari level tertinggi sepanjang masa.

Goldman Sachs juga mengacu pada data terbaru American Association of Individual Investors Sentiment Survey.

“Meskipun demikian, sikap terhadap risiko ini bukan sekadar teori. Investor benar-benar menempatkan uang mereka sesuai dengan pandangan tersebut dalam hal alokasi risiko portofolio,” tulis Goldman Sachs.

Investor Bersiap Hadapi Data Ekonomi AS

Seorang wanita berjalan melewati layar monitor yang menunjukkan indeks bursa saham Nikkei 225 Jepang dan lainnya di sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo, Jepang. (AP Photo/Eugene Hoshiko)

Investor Bursa Asia juga menghadapi tantangan dari faktor musiman. September secara historis menjadi salah satu bulan yang kurang baik bagi pasar saham.

Faktor musiman tersebut, ditambah padatnya agenda ekonomi pada pekan ini, diperkirakan membuat investor lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi.

Sejumlah data ekonomi AS akan menjadi perhatian pasar. Data sektor manufaktur dan jasa dijadwalkan dirilis pada Selasa dan Rabu.

Selanjutnya, perhatian investor akan tertuju pada laporan ketenagakerjaan AS yang akan dirilis Jumat.

Data nonfarm payrolls (NFP) Agustus diperkirakan menunjukkan penambahan 53.000 lapangan kerja sepanjang bulan tersebut, berdasarkan jajak pendapat Dow Jones terhadap para ekonom.

Data ketenagakerjaan menjadi penting karena dapat memberikan gambaran mengenai kondisi ekonomi AS sekaligus menjadi salah satu pertimbangan Federal Reserve (The Fed) dalam menentukan arah kebijakan suku bunga.

Bagi Bursa Asia, perkembangan harga minyak, kebijakan suku bunga AS, serta data ekonomi Negeri Paman Sam akan menjadi sejumlah faktor penting yang menentukan arah perdagangan dalam beberapa hari ke depan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya