Liputan6.com, Jakarta - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terus mengintensifkan upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melalui kolaborasi antara satgas udara dan satgas darat.
Meski ketersediaan air di daratan mulai berkurang, petugas di lapangan terus melakukan berbagai inovasi untuk menjangkau titik api. Hal itu seperti disampaikan Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan.
Advertisement
Dia menjelaskan, BNPB saat ini fokus pada penyediaan akses air di lokasi terdampak. Langkah-langkah seperti kanalisasi dan pembuatan sumur bor menjadi prioritas agar pemadaman darat berjalan lebih efektif.
"Jumlah air yang ada di darat juga terus berkurang. Namun demikian, kami tetap melakukan kanalisasi, penggalian sumur bor, dan juga melakukan penyekatan di beberapa titik sehingga air bisa diambil melalui darat dengan lebih gampang dan dekat dengan titik api ataupun titik panas," ujar Berton dalam konferensi pers bersama Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) di Gedung BNPB, Senin (31/8/2026).
Dia menambahkan, koordinasi antara tim di lapangan dan di udara menjadi kunci keberhasilan pemadaman.
"Saat satgas darat berjuang dengan selang dan sumber air dari kanal, helikopter water bombing memberikan dukungan dari atas dengan menyebarkan air tepat di titik panas," ucap Berton.
"Upaya ini dipadukan agar hasilnya lebih maksimal. Ini merupakan pekerjaan yang sulit, tetapi personel kita sudah sangat terlatih untuk melaksanakannya," sambung dia.
Operasi Modifikasi Cuaca
Menurut Berton, selain pemadaman langsung, BNPB juga mengandalkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk memicu hujan buatan.
Dia mengatakan, jumlah total NaCl atau garam yang disemaikan adalah sebesar 5.600 kilogram. Meski begitu, kata dia, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) tentu mempertimbangkan adanya bibit awan yang ada di atmosfer.
"Sekecil apa pun potensi terjadinya atau optimalisasi hujan, tetap akan kami pertimbangkan. Di Riau, dilakukan dua sorti dengan menyebarkan sebanyak 2.000 kilogram NaCl. Di Jambi juga dilakukan hal serupa," ucap Berton.
"Di Kalimantan Barat dilakukan satu sorti dengan 800 kilogram NaCl, dan di Lampung tetap dilakukan sebanyak satu sorti. Sedangkan di provinsi lain seperti Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, maupun Kalimantan Tengah, hal ini belum bisa dilaksanakan karena memang tidak adanya informasi mengenai titik-titik awan di atmosfer," sambung dia.
Hasil Modifikasi Cuaca
Berton menilai, hasilnya cukup signifikan, di mana intensitas hujan ringan hingga lebat mulai mengguyur sejumlah wilayah di Riau, Jambi, dan Lampung. Namun, Berton mengakui, OMC tidak bisa dilakukan di semua wilayah.
"Di provinsi lain seperti Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, maupun Kalimantan Tengah, hal ini belum bisa dilaksanakan karena memang tidak adanya informasi mengenai titik-titik awan di atmosfer. Sekecil apa pun potensi terjadinya hujan, tetap akan kami pertimbangkan," kata dia.
Terkait kondisi di Sumatera Selatan, Berton mengungkapkan, Menteri Kehutanan bersama Kepala BNPB telah melakukan rapat koordinasi langsung di lapangan.
"Berdasarkan data per 29 Agustus 2026 lalu, tercatat ada 11 titik api dengan luas lahan terbakar mencapai 60 hektare. Dari jumlah tersebut, 15 hektar telah dipadamkan, dan saat ini tersisa 45 hektar yang masih dalam penanganan. Operasi pemadaman melalui satgas darat ini memberikan hasil yang signifikan dibandingkan upaya lainnya," ungkap Berton.
"Operasi pemadaman melalui satgas darat ini memberikan hasil yang signifikan dibandingkan upaya lainnya. Oleh karena itu, BNPB dan pemerintah daerah akan memperkuat satgas darat dengan penambahan personel dan dukungan peralatan," tutup dia.