BRI Pastikan Likuiditas Terjaga di Tengah Kondisi Industri yang Ketat

BRI berkomitmen menjaga likuiditas dengan disiplin.

oleh Immanuel ChristianDiterbitkan 31 Agustus 2026, 12:15 WIB
Gedung BRI Jl. Jenderal Sudirman Kav.44-46, Jakarta 10210.

Liputan6.com, Jakarta - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) atau BRI  memastikan likuiditas perseroan tetap memadai pada awal semester II 2026 meskipun kondisi likuiditas industri perbankan masih menjadi perhatian.

Wakil Direktur Utama BRI Viviana Dyah Ayu Retno Kumalasari mengatakan, perseroan menjaga likuiditas dengan menyelaraskan pertumbuhan kredit dan kemampuan menghimpun dana.

"Memasuki semester II 2026, kami akan terus menjaga likuiditas secara disiplin, terutama dengan menyelaraskan antara pertumbuhan kredit dan kapasitas penghimpunan dana,” kata Viviana dalam konferensi pers kinerja keuangan triwulan II 2026 yang disiarkan daring, Senin (31/8/2026).

Viviana mengatakan, loan to deposit ratio (LDR) industri perbankan mencapai 88,3% pada kuartal II 2026, sedangkan LDR BRI berada pada 90,8%.

Menurut Viviana, posisi tersebut menunjukkan likuiditas perbankan nasional masih berada pada level memadai meskipun bank tetap perlu mengantisipasi dinamika likuiditas hingga akhir 2026.

BRI memperkuat likuiditas melalui peningkatan dana murah atau current account saving account (CASA) untuk menjaga struktur pendanaan tetap sehat dan efisien.

BRI juga mengandalkan sejumlah anchor client untuk memperkuat basis pendanaan dan menjaga keseimbangan antara ekspansi kredit dengan kapasitas penghimpunan dana.

"Kami masih harus terus mewaspadai dinamika likuiditas sampai dengan akhir tahun,” ujar Viviana.

Viviana mengatakan strategi pengelolaan likuiditas tersebut akan menjadi bagian penting dari ekspansi BRI pada semester II 2026 agar pertumbuhan kredit tetap berjalan seiring dengan kemampuan pendanaan perseroan.

Laba BRI Naik Tembus Rp 31,2 Triliun

Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) Hery Gunardi. BRI mencatat laba bersih Rp 31,2 triliun pada kuartal II 2026, tumbuh 17,5% secara tahunan. Foto: Arief Rahman Hakim/Liputan6.com

Sebelumnya, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) mencatat laba bersih Rp 31,2 triliun pada kuartal II 2026, tumbuh 17,5% secara tahunan, seiring dengan pertumbuhan kredit, efisiensi biaya dana, dan perbaikan kualitas aset.

Direktur Utama BRI Hery Gunardi mengatakan perseroan membukukan pertumbuhan bisnis yang lebih sehat karena ekspansi kredit berjalan bersama dengan penguatan fundamental dan manajemen risiko.

“Laba Rp 31,2 triliun ini adalah pertumbuhan yang sangat kuat, yaitu lebih dari 17%. Kami membangun dari fundamental yang sehat dan tetap mendukung ekonomi rakyat,” kata Hery dalam konferensi pers kinerja keuangan triwulan II 2026 yang disiarkan daring, Senin (31/8/2026).

BRI mencatat total aset Rp 2.352 triliun pada kuartal II 2026, tumbuh 11,7% secara tahunan, sedangkan kredit meningkat 16,2% menjadi Rp 1.646 triliun.

Pertumbuhan kredit tersebut BRI imbangi dengan penghimpunan dana pihak ketiga sebesar Rp 1.581 triliun yang tumbuh 6,7% secara tahunan.

BRI juga mencatat pendapatan sebesar Rp 80,5 triliun, tumbuh 9,9% secara tahunan dari Rp 73,3 triliun pada kuartal II 2025, sedangkan pre-provision operating profit (PPOP) meningkat 12,8% menjadi Rp 65,7 triliun.

Efisiensi pendanaan turut menopang kinerja karena cost of fund BRI turun dari 3% menjadi 2,4%, sementara cost to income ratio membaik dari 41,9% menjadi 39,2%.

 

Penurunan LAR

Gedung PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) (Foto: BRI)

Dari sisi risiko, BRI mencatat loan at risk (LAR) turun dari 9,6% pada Desember 2025 menjadi 9,1% pada akhir kuartal II 2026, sedangkan non-performing loan (NPL) turun dari 3,4% menjadi 3,1%.

Direktur Manajemen Risiko BRI Ety Yuniarti mengatakan penurunan LAR menunjukkan kualitas kredit baru semakin membaik dan memberikan ruang bagi perseroan untuk menjaga ekspansi secara lebih sehat.

“Penurunan ini mencerminkan semakin membaiknya kualitas booking pada kredit baru,” kata Ety.

Perbaikan kualitas aset juga menurunkan cost of credit dari 3,4% pada akhir 2025 menjadi 3,1% pada kuartal II 2026.

Hery mengatakan BRI tidak hanya mengejar pertumbuhan kredit, tetapi juga memastikan ekspansi tersebut menghasilkan kualitas aset dan profitabilitas yang berkelanjutan.

“Growth is back, strong. Kualitas pertumbuhan dari sisi risiko tetap kami jaga dan kami yakin optimistis ke depan,” ujar Hery.

BRI memperkuat strategi tersebut melalui transformasi BRIvolution Reignite dengan memperbesar dana murah, mengembangkan kanal digital, memperkuat ekosistem transaksi, serta memperbaiki bisnis mikro.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya