Liputan6.com, Jakarta - TDS mengukur total padatan terlarut dalam air, dinyatakan dalam ppm. Angka TDS rendah tidak otomatis berarti air lebih sehat, karena mineral bermanfaat seperti kalsium dan magnesium juga terhitung sebagai padatan terlarut. TDS pen juga tidak mendeteksi bakteri, pestisida, maupun mikroplastik.
TDS pen atau TDS meter kini banyak dijual bebas di marketplace dengan harga terjangkau, membuat makin banyak orang mengecek sendiri "kualitas" air minum di rumah hanya bermodal mencelupkan alat kecil ini ke segelas air. Masalahnya, angka yang muncul di layar sering disalahartikan: banyak yang menganggap semakin kecil angkanya, semakin sehat airnya — padahal logika itu tidak sepenuhnya benar.
Artikel ini menjelaskan apa sebenarnya yang diukur TDS pen, berapa rentang angka yang dianggap baik menurut standar WHO dan regulasi kesehatan di Indonesia, cara mengukurnya dengan benar, serta batas kemampuan alat ini yang penting diketahui sebelum menyimpulkan air aman atau tidak untuk diminum.
Apa Itu TDS dan Bagaimana Alat Ini Bekerja?
TDS atau Total Dissolved Solids adalah ukuran total zat padat yang larut dalam air, mencakup mineral, garam, dan senyawa anorganik lain yang membentuk ion ketika larut. TDS pen sebenarnya tidak mengukur berat padatan secara langsung, melainkan mengukur daya hantar listrik (konduktivitas) air, lalu mengonversinya menjadi angka ppm (part per million) menggunakan faktor konversi tertentu. Karena prinsip kerjanya berbasis konduktivitas ion, TDS pen hanya "melihat" zat yang bermuatan listrik dalam air, bukan seluruh jenis kontaminan.
Berapa Angka TDS yang Bagus untuk Air Minum?
Badan Kesehatan Dunia (WHO) tidak menetapkan satu angka tegas sebagai batas sehat-tidak sehat, melainkan mengelompokkan air berdasarkan tingkat kenikmatan rasa (palatabilitas) hasil uji panel perasa. Sementara itu, regulasi di Indonesia melalui Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 2 Tahun 2023 tentang Kesehatan Lingkungan menetapkan batas maksimal TDS untuk air minum sebesar 300 mg/L — lebih ketat dibandingkan aturan sebelumnya (Permenkes No. 492/2010) yang mematok batas 500 mg/L.
| Rentang TDS (ppm/mg/L) | Kategori (Skala Palatabilitas WHO) | Catatan |
|---|---|---|
| < 300 | Sangat baik (excellent) | Sesuai batas maksimal air minum menurut Permenkes No. 2/2023 |
| 300 – 600 | Baik (good) | Masih dianggap layak dari sisi rasa menurut skala WHO, meski melebihi batas Permenkes terbaru |
| 600 – 900 | Cukup (fair) | Rasa mulai terasa berbeda, umumnya asin atau agak pahit |
| 900 – 1.200 | Kurang baik (poor) | Perlu dicurigai sumber airnya, sebaiknya diperiksa lebih lanjut |
| > 1.200 | Tidak layak (unacceptable) | Ditolak mayoritas panel perasa dalam uji WHO |
Penting dicatat, skala WHO ini pada dasarnya adalah skala rasa, bukan skala bahaya kesehatan langsung — sehingga angka TDS yang tinggi tidak otomatis berarti air itu berbahaya, dan angka yang rendah tidak otomatis berarti air itu paling sehat. Untuk konteks Indonesia, angka di bawah 300 mg/L adalah acuan resmi yang berlaku untuk air minum.
Cara Mengukur TDS Air dengan Benar
Agar hasil pengukuran TDS pen cukup dapat diandalkan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:
- Pastikan alat sudah dikalibrasi menggunakan larutan standar (misalnya larutan NaCl 342 ppm), karena tanpa kalibrasi, faktor konversi konduktivitas ke ppm bisa meleset dari kondisi sebenarnya.
- Ukur pada suhu air yang stabil, idealnya mendekati suhu ruang (sekitar 25°C), karena konduktivitas air dipengaruhi suhu. Alat yang punya kompensasi suhu otomatis (ATC) akan lebih stabil, tapi tetap sebaiknya tidak dipakai pada air yang masih panas.
- Celupkan probe sesuai batas yang ditentukan pada alat, tunggu sampai angka di layar stabil sebelum dibaca — jangan langsung mengambil angka yang masih naik-turun.
- Jaga kebersihan probe. Sisa mineral atau lapisan kotoran pada probe bisa mengganggu kontak ion dan membuat hasil bacaan bergeser dari nilai sebenarnya.
- Hindari mengukur air yang sangat asin, air aki, atau cairan di luar rentang kerja alat, karena berpotensi membuat alat error atau rusak.
TDS Rendah, Artinya Apa?
Angka TDS yang sangat rendah, misalnya mendekati nol, umumnya berasal dari air yang sudah melewati proses penyaringan intensif seperti reverse osmosis (RO) atau distilasi. Air semacam ini memang bebas dari sebagian besar zat terlarut, tapi itu juga berarti mineral alami yang bermanfaat seperti kalsium dan magnesium ikut terbuang, sehingga air terasa hambar. Sejumlah kajian kualitas air bahkan menyebut air dengan TDS terlalu rendah cenderung bersifat "agresif" dan justru dapat melarutkan mineral dari wadah atau pipa yang dilaluinya.
Dengan kata lain, TDS rendah bukan jaminan air lebih sehat secara mutlak — ini kembali ke prinsip bahwa TDS mengukur jumlah total zat terlarut, bukan jenisnya. Air dengan TDS sedikit lebih tinggi karena kandungan mineral alami justru bisa jadi pilihan yang lebih seimbang dibanding air yang benar-benar nol TDS.
Apakah Alat TDS Pen Akurat?
Dari sisi mengukur jumlah total ion terlarut, TDS pen yang terkalibrasi dengan baik cukup bisa diandalkan untuk memberi gambaran kasar. Namun ada batasan penting yang sering luput dipahami pengguna awam: karena prinsip kerjanya mengandalkan konduktivitas listrik, TDS pen hanya mendeteksi zat yang bersifat ionik. Bakteri, virus, sebagian besar pestisida, serta partikel mikroplastik pada dasarnya tidak bermuatan listrik dalam jumlah yang cukup untuk terbaca signifikan oleh sensor konduktivitas semacam ini.
Artinya, air dengan angka TDS yang terlihat "bagus" di layar TDS pen tetap bisa saja terkontaminasi bakteri patogen, residu pestisida, atau mikroplastik — jenis pencemaran yang hanya bisa dipastikan lewat uji laboratorium mikrobiologi dan kimia khusus, bukan sekadar TDS pen. Sebaliknya, air dengan TDS agak tinggi karena kandungan mineral alami belum tentu berbahaya. TDS pen sebaiknya diposisikan sebagai alat bantu skrining awal atau indikator kasar, bukan alat pembuktian keamanan air secara menyeluruh.
Mitos vs Fakta Seputar TDS Air Minum
| Mitos | Fakta |
|---|---|
| Semakin rendah angka TDS, semakin sehat airnya | TDS rendah hanya berarti sedikit zat terlarut secara total, bisa juga karena mineral bermanfaat ikut hilang lewat proses filtrasi berlebihan |
| Air dengan TDS 0 paling aman diminum | Air TDS mendekati nol justru kehilangan mineral alami dan bisa bersifat "agresif" terhadap wadah/pipa yang dilaluinya |
| Kalau angka TDS bagus, berarti air pasti bebas bakteri | TDS pen tidak mendeteksi bakteri, virus, pestisida, atau mikroplastik karena alat ini hanya membaca konduktivitas ion |
| Semua TDS pen di marketplace pasti akurat begitu dinyalakan | Akurasi bergantung pada kalibrasi alat, kebersihan probe, dan kompensasi suhu saat pengukuran |
FAQ Seputar TDS Air Minum
Berapa angka TDS yang dianggap aman untuk air minum di Indonesia? Mengacu Permenkes No. 2 Tahun 2023, batas maksimal yang berlaku adalah 300 mg/L untuk air minum.
Apakah air minum dalam kemasan (AMDK) wajib mencantumkan angka TDS di label? Nilai TDS bukan parameter yang wajib dicantumkan di label kemasan, sehingga konsumen yang ingin mengetahuinya perlu mengukur sendiri atau merujuk pada hasil uji laboratorium produsen bila tersedia.
Apakah boleh terus-menerus minum air dengan TDS 0 dari mesin RO? Air TDS sangat rendah umumnya tetap aman dikonsumsi, tetapi karena minim mineral, sebagian ahli kualitas air menyarankan kebutuhan mineral tetap dipenuhi dari makanan atau menambahkan kembali mineral pada air hasil RO.
Kesimpulan
Angka TDS yang "bagus" untuk air minum bukan soal mengejar angka serendah mungkin, melainkan berada dalam rentang wajar sesuai standar yang berlaku — di Indonesia, di bawah 300 mg/L menurut Permenkes No. 2 Tahun 2023. Yang tak kalah penting, TDS pen punya keterbatasan mendasar: alat ini hanya mengukur total zat terlarut yang bersifat ion, bukan alat deteksi keamanan air secara menyeluruh. Untuk memastikan air benar-benar aman dari bakteri, pestisida, atau mikroplastik, TDS pen perlu dilengkapi dengan uji laboratorium yang sesuai, bukan dijadikan satu-satunya patokan.