7 Perusahaan Proses IPO di BEI, Mayoritas di Sektor Kesehatan

Ada tujuh perusahaan tercatat atau emiten telah mencatatkan saham di BEI hingga 28 Agustus 2026.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 29 Agustus 2026, 20:03 WIB
Karyawan memfoto layar pergerakan IHSG, Jakarta. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Bursa Efek Indonesia (BEI) menyampaikan tujuh perusahaan telah mencatatkan saham di BEI hingga 28 Agustus 2026 dengan dana dihimpun Rp 2,16 triliun. Hingga kini ada tujuh perusahaan dalam proses penawaran saham perdana ke publik atau initial public offering (IPO).

“Hingga saat ini, terdapat tujuh perusahaan dalam pipeline pencatatan saham BEI,” ujar Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Saidu Solihin, Sabtu (29/8/2026).

Berdasarkan klasifikasi aset perusahaan yang saat ini berada dalam pipeline merujuk pada POJK Nomor 53/POJK.04/2017 antara lain:

  • 2 perusahaan aset skala kecil (aset di bawah Rp 50 miliar)
  • 2 perusahaan aset skala menengah (aset antara Rp 50 miliar-Rp 250 miliar)
  • 3 perusahaan aset skala besar (aset di atas Rp 250 miliar)

Untuk rincian sektornya antara lain:

  • 0 perusahaan dari sektor basic materials
  • 0 perusahaaan dari sektor consumer siklikal
  • 1 perusahaan dari sektor consumer nonsiklikal
  • 1 perusahaan dari sektor energi
  • 0 perusahaan dari sektor keuangan
  • 4 perusahaan dari sektor perawatan kesehatan
  • 1 perusahaan dari sektor industri
  • 0 perusahaan dari sektor infrastruktur
  • 0 perusahaan dari sektor properti dan real estate
  • 0 perusahaan dari sektor teknologi
  • 0 perusahaan dari sektor transportasi dan logistik

Selain itu, BEI mencatat telah diterbitkan 122 emisi dari 62 penerbit efek bersifat utang dan sukuk (EBUS) dengan dana dihimpun Rp 112 triliun.

“Sampai dengan 28 Agustus 2026 terdapat 14 emisi dari 9 penerbit EBUS yang sedang berada dalam pipeline,” ujar Saidu.

Berikut klasifikasi sektornya:

  • 2 perusahaan dari sektor basic materials
  • 0 perusahaan dari sektor consumer siklikal
  • 0 perusahaan dari sektor consumer nonsiklikal
  • 3 perusahaan dari sektor energi
  • 1 perusahaan dari sektor keuangan
  • 0 perusahaan dari sektor perawatan kesehatan
  • 1 perusahaan dari sektor industri
  • 2 perusahaan dari sektor infrastruktur
  • 0 perusahaan dari sektor properti dan real estate
  • 0 perusahaan dari sektor teknologi
  • 0 perusahaan dari sektor transportasi dan logistik

Tak hanya itu, BEI juga mencatat terdapat 15 emiten yang telah menerbitkan rights issue dengan total nnilai Rp 15,85 triliun hingga 28 Agustus 2026. Said menuturkan, masih terdapat satu emiten dalam pipeline rights issue yakni satu perusahaan dari sektor properti dan real estate.

Kinerja IHSG Sepekan

Seorang pria melihat ponselnya di depan layar yang menampilkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) (BAY ISMOYO/AFP)

Sebelumnya, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah tipis pada perdagangan 24-28 Agustus 2026. Koreksi IHSG sepekan dipengaruhi sejumlah sentimen internal dan eksternal. Salah satunya arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat (AS) atau the Federal Reserve (the Fed).

Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Sabtu (29/8/2026), IHSG turun 0,12% sehingga ditutup ke 6.518,12 dari pekan lalu di posisi 6.525,69.

Sementara itu, kapitalisasi pasar terpangkas 0,16% menjadi Rp 11.431 triliun dari Rp 11.449 triliun pada pekan lalu.

Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana menuturkan, sepanjang pekan ini, IHSG bergerak terkoreksi 0,12% dan disertai dengan munculnya tekanan jual, tetapi pergerakannya masih mampu berada di atas MA20. Dari sisi sentimen, pihaknya memperkirakan sejumlah faktor.

Kinerja Perdagangan Saham

Pejalan kaki melintas dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di kawasan Jakarta, Senin (13/1/2020). IHSG sore ini ditutup di zona hijau pada level 6.296 naik 21,62 poin atau 0,34 persen. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Pertama, investor mencermati Jackson Hole Symposium yang berlangsung pada pekan ini untuk melihat arah kebijakan The Federal Reserve (the Fed) ke depan, meskipun secara probabilitas The Fed masih cenderung mempertahankan suku bunga acuannya di level 3,50%-3,75%.

Kedua, pergerakan harga emas dan minyak dunia yang masih konsolidasi di tengah menurunnya tensi geopolitik Timur Tengah. Ketiga, rebalancing MSCI diperkirakan masih menjadi perhatian investor yang disebabkan masa efektif per 1 September 2026, di mana dikhawatirkan akan adanya potensi outflow yang besar.

“Adanya gejolak politik dalam negeri yang menyebabkan adanya aksi demonstrasi dari masyarakat, namun sudah berangsur kondusif,” ujar Herditya.

Selain itu, rata-rata nilai transaksi harian juga susut 1,84% menjadi Rp 15,29 triliun dari Rp 15,57 triliun pada pekan lalu. Rata-rata volume transaksi harian BEI terpangkas 28,33% menjadi 36,05 miliar saham dari pekan sebelumnya 50,30 miliar saham. Di sisi lain, rata-rata frekuensi transaksi harian juga terpangkas 2,64% menjadi 2,15 juta kali transaksi dari 2,21 juta kali transaksi pada pekan lalu.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya