Liputan6.com, Jakarta - Tren kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), khususnya agentic AI, menuntut perusahaan bertransformasi cepat. Namun, kendala utama yang sering dihadapi sektor korporasi adalah fragmentasi infrastruktur.
Aplikasi dan data krusial umumnya masih tersebar di lingkungan virtualisasi maupun container, sehingga adopsi AI kerap memaksa perusahaan merombak total sistem TI atau membangun silo baru yang memicu pembengkakan biaya.
Advertisement
Menjawab tantangan tersebut, Nutanix memperkenalkan Nutanix Enterprise AI (NAI) 2.8 serta mengumumkan Nutanix Kubernetes Platform (NKP) 2.19 yang akan segera hadir.
Melalui pembaruan ini, Nutanix menawarkan arsitektur dual-native yang memungkinkan aplikasi tradisional dan AI modern berjalan secara berdampingan tanpa perlu re-architecting atau migrasi data yang berisiko tinggi.
“Penerapan Enterprise AI seharusnya tidak menuntut pelanggan untuk membangun ulang sistem yang selama ini menjalankan bisnis mereka,” ujar Executive Vice President Product Management Nutanix, Thomas Cornely, dikutip Sabtu (29/8/2026).
Ia menjelaskan bahwa pendekatan dual-native memungkinkan perusahaan membawa kapabilitas AI langsung ke lokasi data berada.
"Dengan operasional dan tata kelola yang konsisten di seluruh lingkungan virtualisasi, container, dan AI, organisasi mendapatkan jalur adopsi AI yang praktis menuju tahap produksi," ucap Thomas menambahkan.
Fondasi Keamanan untuk Agentic AI
Adopsi agentic AI--sistem AI yang mampu beroperasi secara mandiri mengambil tindakan--membawa tantangan baru terkait tata kelola dan keamanan, terutama risiko rogue AI atau model yang keluar dari batasan.
Dalam pembaruan NAI 2.8, Nutanix menghadirkan Agent Gateway yang mencakup Model Context Protocol (MCP) Gateway dan MCP Server. Fitur ini berfungsi sebagai pintu masuk aman bagi agen AI untuk mengakses alat dan data perusahaan.
Dari sisi keamanan, NAI menyediakannya melalui Identity and Access Management (IAM) terperinci, custom roles, serta integrasi aman pada lingkungan air-gapped (terisolasi dari jaringan luar).
Selain itu, kapabilitas Private Inference pada NAI kini mendukung multi-GPU serving dan Parameter-Efficient Fine-Tuning (LoRA) untuk Large Language Models (LLM).
Fitur speculative decoding yang disematkan juga diklaim mampu mempercepat pembuatan token saat proses inference hingga 2,5 kali lipat, sehingga memangkas latensi output secara signifikan.
Satu Control Plane untuk Aplikasi Modern
Pada lapisan pengelolaan container, Nutanix menyiapkan NKP 2.19 untuk menyederhanakan operasional di atas bare metal maupun lingkungan virtualisasi melalui satu control plane terpadu. Platform ini membawa dua opsi deployment utama:
- NKP Metal: Memberikan kemudahan skala Hyperconverged Infrastructure (HCI) ke Kubernetes bare metal dengan otomatisasi OS, firmware, dan penyimpanan persisten.
- NKP Full Stack (pada AHV): Dipadukan dengan Nutanix Flow untuk menyediakan sandboxing tingkat jaringan guna mengisolasi risiko serangan pada agen AI.
NKP juga telah mengantongi sertifikasi CNCF Certified Kubernetes AI Conformant Platform dan menyediakan AI Applications Catalog bawaan (seperti Kubeflow, Milvus, dan Slurm) untuk memangkas proses integrasi manual.
Akselerasi Performa Data dan Ekosistem Mitra
Dari sisi perangkat keras, Nutanix Unified Storage (NUS) telah meraih validasi NVIDIA-Certified Storage tingkat enterprise.
Sertifikasi ini memastikan ketersediaan jalur data berlatensi rendah dan throughput tinggi langsung ke GPU, sehingga pemanfaatan GPU untuk beban kerja AI skala besar dapat berjalan maksimal.
Guna mendukung adopsi di tingkat kawasan, Vice President and General Manager APJ Nutanix, Jay Tuseth, menekankan pentingnya fleksibilitas bagi korporasi di Asia Pasifik.
"Prioritas utama saat ini adalah menemukan cara paling sederhana untuk menjalankan AI dalam skala besar tanpa mengorbankan keamanan," tuturnya.
Bersamaan dengan pembaruan platform ini, Nutanix merilis program Powered by Nutanix: Verified Services dan Service Provider (SP) Central. Inisiatif ini dirancang untuk membantu para mitra penyedia layanan (service provider) membangun layanan cloud terkelola, cloud-native, dan AI yang adaptif sesuai kebutuhan transformasi digital pelanggan.