Liputan6.com, Jakarta - Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) terus digencarkan di Provinsi Lampung untuk meningkatkan curah hujan di tengah kekeringan dan meningkatnya ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Pada sorti pertama, pesawat OMC menyasar wilayah Lampung Timur dan sebagian kawasan yang berbatasan dengan Lampung Selatan. Penentuan lokasi penyemaian dilakukan berdasarkan pemantauan citra satelit BMKG yang mendeteksi sejumlah titik panas atau hotspot dengan tingkat kepercayaan sedang hingga tinggi.
Advertisement
Namun, pelaksanaan OMC menghadapi kendala. Pertumbuhan awan hujan di sejumlah wilayah Lampung masih terbatas akibat kondisi atmosfer yang kurang mendukung.
Prakirawan BMKG Iqbal mengatakan tim OMC harus menunggu terbentuknya awan secara alami yang berpotensi menghasilkan hujan sebelum melakukan penyemaian.
“Memang dari kondisi sirkulasi saat ini, sangat sulit mencari awan yang berpotensi menghasilkan hujan. Selagi terdapat potensi awan yang cukup bagus dan daerah tersebut ada hotspot, semaksimal mungkin disemai agar membasahi daerah tersebut,” kata Iqbal saat dikonfirmasi, Jumat (28/8/2026).
Iqbal mengatakan BMKG masih memantau perkembangan awan di sejumlah wilayah Lampung untuk menentukan sasaran penyemaian pada sorti berikutnya.
Beberapa wilayah yang menjadi perhatian antara lain Lampung Barat, Tanggamus, Lampung Tengah, dan Lampung Utara. Namun, penentuan lokasi penyemaian tidak hanya didasarkan pada wilayah yang mengalami kekeringan.
Tim juga mempertimbangkan keberadaan hotspot serta potensi terbentuknya awan yang dapat menghasilkan hujan.
“Dengan kondisi ini, operasi tidak hanya mempertimbangkan lokasi yang mengalami kekeringan, tetapi juga peluang terbentuknya awan yang cukup potensial untuk menghasilkan hujan,” ujarnya.
Modifikasi Cuaca 5 Hari
Kepala BPBD Provinsi Lampung Rudy Sjawal Sugiarto mengatakan OMC akan dimaksimalkan selama sekitar lima hari hingga 30 Agustus 2026.
Operasi tersebut diharapkan dapat membasahi kawasan yang rawan karhutla sekaligus menambah ketersediaan air di wilayah yang mulai terdampak kekeringan.
Tambahan curah hujan diharapkan dapat mengisi kembali sumber-sumber air, termasuk waduk dan lahan pertanian yang membutuhkan pasokan.
“Kita bisa memaksimalkan ikhtiar kita ini untuk meningkatkan tutupan air di wilayah Lampung, terutama di waduk-waduk yang memang ada beberapa laporan sudah mengalami kekeringan dan daerah-daerah pertanian yang menjadi lumbung pangan,” kata Rudy.
Selain mengandalkan OMC, Pemprov Lampung juga menyiapkan operasi water bombing untuk menangani titik api yang telah muncul.
Dua Pesawat Dikerahkan
Dua pesawat didatangkan untuk mendukung penanganan karhutla. Keduanya memiliki tugas berbeda, yakni melakukan pemadaman dan patroli untuk memantau perkembangan kebakaran.
Sebelumnya, tim water bombing telah melakukan satu sorti pemadaman di kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur.
Operasi tersebut menyasar hotspot yang terdeteksi untuk memadamkan api sekaligus mencegah kebakaran meluas ke kawasan lain.
“Kebijakan ini diharapkan memberikan manfaat langsung berupa berkurangnya ancaman kebakaran, terjaganya sumber air, serta tersedianya pasokan air bagi lahan pertanian,” ujar Rudy.