Liputan6.com, Jakarta - Bayangkan Mercedes-Benz G-Class yang biasanya diajak menerjang lumpur dan bebatuan, tiba-tiba dibuat ceper hingga nyaris mencium aspal. Bukan sekadar modifikasi biasa, SUV legendaris ini disulap menjadi mobil bergaya balap dengan sentuhan Mercedes-Benz 190E 2.5-16 Evolution II.
Karya tersebut merupakan hasil rekayasa digital dari seniman otomotif Abimelec Design. Konsepnya terbilang nekat: mengawinkan karakter tangguh G-Wagen dengan aura agresif sedan balap legendaris Mercedes-Benz.
Advertisement
Hasilnya? G-Class yang kehilangan sebagian besar kemampuan off-road-nya, tetapi justru mendapatkan penampilan yang jauh lebih liar.
Melansir dari Carscoops, Senin (30/8/2026), G-Wagen dalam desain digital tersebut dibuat sangat rendah. Ground clearance-nya hanya menyisakan beberapa inci dari permukaan jalan, membuat SUV ini lebih terlihat siap masuk lintasan ketimbang melibas jalur berlumpur.
Ubahan paling mencolok terlihat dari wajahnya. Bumper dan splitter bergaya 190E EVO II kini menempel di bagian depan G-Class. Menariknya, desain tersebut tetap mempertahankan lampu depan bulat yang menjadi salah satu ciri khas G-Wagen.
Perpaduan tersebut menghasilkan wajah yang unik. Bentuk kotak khas G-Class masih terlihat jelas, tetapi aura off-road-nya seolah digantikan karakter mobil balap.
Fender flare ekstra lebar membuat bodi G-Class terlihat mengembang. Side skirt yang dibuat sangat rendah ikut mempertegas posisi ceper, sementara pelek enam palang bergaya klasik memberikan sentuhan motorsport yang kental.
Namun, bagian paling mencolok justru berada di belakang. Sebuah spoiler berukuran jumbo bertengger di bagian atap belakang. Bentuknya langsung mengingatkan pada mobil-mobil balap touring era 1990-an sekaligus menjadi penanda bahwa G-Class ini sudah keluar jauh dari habitat aslinya.
Jika G-Wagen standar dirancang untuk menghadapi medan berat, konsep ini justru terlihat seperti sedang mencari lintasan balap.
Kombinasi widebody, bodi ceper, pelek klasik, splitter, dan spoiler besar membuat G-Class tampil bak mobil balap yang salah kostum.
Tentu saja, ada harga yang harus dibayar untuk penampilan ekstrem tersebut.
Ground clearance yang sangat rendah praktis akan menghilangkan salah satu keunggulan utama G-Class. Mobil ini akan kesulitan ketika harus berhadapan dengan medan berbatu, jalan berlumpur, tanjakan ekstrem, atau permukaan tidak rata.
Side skirt rendah dan komponen aerodinamika berukuran besar juga bukan kombinasi ideal untuk aktivitas off-road. Namun, justru di situlah daya tarik konsep ini.
Modifikasi mobil memang tidak selalu soal meningkatkan fungsi. Ada kalanya sebuah mobil dibangun hanya untuk menciptakan tampilan yang berbeda dan menjadi pusat perhatian.
Bukan Mustahil untuk Diwujudkan
Meski masih sebatas karya digital, konsep seperti ini bukan sesuatu yang mustahil diwujudkan.
Pemilik G-Class berkantong tebal bisa saja tertarik membawa desain tersebut ke dunia nyata. Apalagi tren restomod dan widebody ekstrem terus menemukan penggemarnya di dunia modifikasi.
Tantangannya hanya satu: apakah ada pemilik G-Wagen yang rela mengorbankan kemampuan off-road legendaris mobilnya demi mendapatkan tampilan seperti ini?
Jika jawabannya iya, G-Class tersebut berpotensi menjadi salah satu mobil paling mencolok yang berkeliaran di jalan raya.
Di balik tampilannya yang kontroversial, eksperimen Abimelec Design sebenarnya menunjukkan satu hal menarik: desain otomotif tidak selalu harus tunduk pada fungsi.
G-Class mewakili dunia SUV dan off-road, sedangkan 190E 2.5-16 Evolution II membawa DNA motorsport yang sangat kuat. Keduanya memiliki karakter berbeda, tetapi ketika elemen desainnya digabungkan, hasilnya justru terasa segar.
Memang, G-Class ceper dengan spoiler jumbo bukanlah pilihan paling rasional jika tujuan utamanya menjelajah medan ekstrem.