Fakta Baru Rumah Warga Pati Diduga Jadi Sasaran Tembak

Polisi memastikan kerusakan kaca bukan akibat tembakan gotri dari luar rumah.

oleh Arief PramonoDiterbitkan 27 Agustus 2026, 21:48 WIB
Polisi olah TKP kasus dugaan penembakan rumah warga Pati

Liputan6.com, Jakarta - Misteri pecahnya kaca pintu rumah warga Desa Kajar, Kecamatan Trangkil, Kabupaten Pati, mulai menemui titik terang. Peristiwa ini sempat membuat heboh, sebab bersamaan sejumlah warga Pati berunjuk rasa di DPR.

Dari hasil penyelidikan sementara, polisi memastikan kerusakan kaca bukan akibat tembakan gotri dari luar rumah, melainkan terdapat indikasi tekanan dari arah dalam.

Selain itu, polisi juga menemukan sebanyak 11 butir gotri di sekitar lokasi, tepatnya di dalam rumah anak salah satu aktivis AMPB. Barang bukti tersebut kini diamankan polisi untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Sejumlah fakta baru tersebut terungkap, setelah tim Laboratorium Forensik (Labfor) Polda Jawa Tengah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) lanjutan, Rabu (26/8/2026).

Katim Kasubbid Balistik Metalurgi (Balmet) Bidlabfor Polda Jateng, AKBP Totok Tri Kusuma menjelaskan, polisi telah melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap kondisi kaca dan menemukan sejumlah barang bukti di lokasi.

"Dalam pemeriksaan TKP tersebut, kita mendapatkan empat butir gotri. Rumah posisi menghadap ke selatan. Ada sebuah kerusakan kaca pada sebelah kiri, ada kerusakan lubang kecil," ujar Totok di Polresta Pati, Kamis (27/8/2026).

Totok menyebut, temuan gotri pertama kali dilaporkan oleh Sri Suryati, ibu dari pemilik rumah bernama Exsa. Pada Senin (24/8/2026), Sri menemukan empat butir gotri di sekitar lokasi.

Tim Labfor selanjutnya melakukan olah TKP lanjutan dan menemukan tujuh gotri tambahan. Dengan demikian, total barang bukti gotri yang ditemukan 11 butir.

"Kita dapatkan lagi 4 gotri dan 3 gotri di luar. Semula ada 4 gotri menjadi 11 gotri yang ditemukan di lokasi. Kita cek kembali dan kita ukur semua," terangnya.

Namun, hasil pengukuran justru menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara ukuran lubang pada kaca dan diameter gotri yang ditemukan.

Totok menyebut diameter lubang pada kaca yang pecah sekitar 4,6 milimeter. Sementara diameter gotri yang ditemukan mencapai 6,39 milimeter.

"Lubang pecahan kaca tersebut berdiameter 4,6 milimeter dan kemudian kita ukur gotri diameter 6,39 milimeter," terang Totok.

Polisi olah TKP kasus dugaan penembakan rumah warga Pati

Gotri Tidak Melewati Lubang Kaca

Perbedaan ukuran tersebut menjadi salah satu temuan penting dalam penyelidikan. Berdasarkan hasil pengukuran, gotri berdiameter lebih besar dibandingkan lubang pada kaca.

"Hasil lubang dan ukuran diameter gotrinya berbeda, maka gotri tersebut tidak melewati lubang tersebut," ungkap Totok.

Tim Labfor juga menganalisis struktur pecahan kaca serta pola tekanan yang menyebabkan kaca berlubang dan retak.

Dari pemeriksaan tersebut, Bidlabfor Polda Jateng menyimpulkan adanya indikasi tekanan dari sisi interior rumah.

"Lubang bekas gotri atau sentuhan tekanan kaca terjadi pada bagian dalam rumah. Saya pelajari hasilnya lubang tersebut ada sentuhan gotri dari dalam," papar Totok.

Meski demikian, Totok mengatakan pemeriksaan belum berhenti pada temuan di lokasi. Seluruh barang bukti gotri telah diamankan untuk menjalani pemeriksaan dan pengujian lebih lanjut. Hal itu guna memastikan keterkaitannya dengan kerusakan kaca.

 

Polisi olah TKP kasus dugaan penembakan rumah warga Pati

Dalami Penyebab Kaca Pecah

Wakapolresta Pati AKBP Ardyan Ukie Hercahyo membenarkan adanya perusakan kaca yang diduga menggunakan gotri. Namun berdasarkan hasil pemeriksaan sementara, arah tekanan material tersebut justru berasal dari dalam rumah.

"Kesimpulan sesuai fakta memang terjadi perusakan diduga menggunakan gotri. Arah gotri dari dalam rumah, bisa kita lihat kaca yang menunjukkan tekanan dari dalam," ujar Ardyan.

Meski telah memperoleh gambaran awal mengenai arah tekanan, polisi masih melakukan pendalaman untuk mengungkap penyebab pasti pecahnya kaca pintu rumah tersebut.

Ardyan juga membantah adanya keterkaitan antara insiden di Desa Kajar, dengan aksi unjuk rasa di depan Gedung DPR yang belakangan ramai menjadi perhatian publik.

"Belum ada hubungan konten unjuk rasa dengan kejadian tersebut," tegasnya.

Polisi kini masih menunggu hasil pemeriksaan lanjutan terhadap barang bukti dan temuan di TKP. Hasil pemeriksaan tersebut, diharapkan mengungkap secara lebih jelas bagaimana kaca rumah warga Desa Kajar bisa pecah. Selain itu, dari mana sebenarnya tekanan yang menyebabkan kerusakan itu berasal.

Diberitakan sebelumnya, suasana menjelang keberangkatan massa dari Pati menuju Jakarta untuk mengikuti aksi unjuk rasa pada Kamis (27/8/2026), diwarnai dugaan sejumlah kejadian.

Jendela kaca rumah Sri Suryati berlubang dan retak. Empat butir gotri atau peluru, juga sempat ditemukan di lantai bagian dalam rumah.

Informasi yang diterima Liputan6.com menyebutkan, kejadian tersebut pada Rabu (26/8/2026) pukul 10.00 WIB. Sri Suryanti yang merupakan pemilik rumah saat itu sedang menyapu rumah.

“Tahunya pagi jam 10-an saat saya menyapu rumah, ada peluru empat biji di dalam dekat pintu,” tutur Sri Suryanti saat didatangi salah satu personil polisi pada Rabu (26/8/2026).

Ia menduga aksi peristiwa tersebut berkaitan dengan rencana keberangkatan suaminya ke Jakarta untuk mengikuti aksi. Sri khawatir kejadian itu sebagai bentuk intimidasi. Namun, tidak ada anggota keluarganya yang terluka dari peristiwa itu.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya