Liputan6.com, Jakarta - Kebutuhan likuiditas yang kian tinggi di masyarakat dan pelaku usaha mendorong Industri pergadaian nasional terus tumbuh. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), penyaluran pinjaman industri pergadaian secara nasional terus melaju kencang dengan pertumbuhan dua digit melebihi 33% Year-on-Year (YoY), dengan total penyaluran pinjaman menembus angka di atas Rp 103,36 triliun.
Saat ketidakpastian ekonomi makro global dan pelemahan daya beli membayangi setahun terakhir, industri gadai justru mencatatkan performa yang mengagumkan.
Advertisement
Peta persaingan pun kian berwarna. Tak lagi didominasi penuh BUMN, lanskap pergadaian nasional kini diwarnai ekspansi masif dari pemain gadai swasta berizin resmi OJK. Lokasinya bahkan tumbuh menjamur di sudut-sudut kota hingga pemukiman padat penduduk.
Kehadiran aturan tegas seperti POJK Nomor 39 Tahun 2024 dan UU P2SK kian mempercepat pembersihan pasar dari pemain gadai informal, menjadikan industri ini semakin modern dan terpercaya.
Pergadaian kini digandrungi karena skema penjaminan berbasis aset (collateral-based lending). Saat perbankan formal makin selektif menyalurkan kredit akibat kekhawatiran risiko, dan pinjaman online (pinjol) tergerus stigma bunga mencekik, gadai hadir sebagai katup pengaman yang aman, cepat, dan terprediksi.
Pergadaian kini tak lagi identik dengan masyarakat yang menggadaikan emas beberapa gram atau sepeda motor untuk memenuhi kebutuhan mendesak. Di segmen lain, transaksi gadai berlangsung lebih eksklusif dengan aset bernilai tinggi sebagai agunan.
Jam tangan Patek Philippe, Audemars Piguet, dan Rolex, tas Hermes Birkin, perhiasan berlian, hingga logam mulia dalam jumlah besar mulai menjadi bagian dari aset yang dapat diagunkan.
Direktur PT Lesca Gadai Premier, Bastian Purnama mengatakan kenaikan harga emas dapat dimanfaatkan pemilik aset untuk memperoleh likuiditas tanpa melepas kepemilikan.
"Melalui skema pendanaan berbasis aset atau asset-backed lending, mereka dapat memanfaatkan nilai laten dari koleksi premium tersebut secara maksimal," ujar dia, Kamis (27/8/2026).
Memasuki paruh kedua tahun 2026, kenaikan harga emas dunia yang menyentuh rekor tertinggi sepanjang sejarah di tengah ketidakpastian geopolitik global justru membuka peluang emas bagi para pebisnis.
Skema Pendanaan Aset
Dia menjelaskan, dalam manajemen kekayaan modern, menjual aset fisik premium yang nilainya sedang menguat secara konsisten saat membutuhkan likuiditas adalah keputusan yang kurang taktis.
"Kenaikan harga emas perhiasan dan logam mulia di pasar global saat ini adalah kesempatan emas bagi para kolektor dan pengusaha. Melalui skema pendanaan berbasis aset (asset-backed lending) yang ditawarkan, mereka dapat memanfaatkan nilai laten dari koleksi premium tersebut secara maksimal. Mereka bisa mendapatkan pencairan dana hingga miliaran rupiah berdasarkan taksiran harga pasar terkini yang sedang tinggi, namun aset fisik mereka tetap utuh di bawah kepemilikan mereka," ungkap Bastian.
Tantangan terbesar bagi para CEO, pendiri startup, dan pengusaha kelas atas dalam mencari dana cepat adalah risiko reputasi (reputational risk). Mengajukan pinjaman institusional berskala besar atau menjual aset operasional secara mendadak sering kali memicu signaling effect negatif di mata investor dan kompetitor di mana pasar bisa mengira mereka sedang mengalami krisis arus kas.
Dia mengatakan, bagi para pemimpin bisnis, waktu dan reputasi adalah komoditas yang paling berharga. "Menunggu proses persetujuan kredit perbankan konvensional yang memakan waktu berminggu-minggu tentu akan membuat momentum ekspansi hilang. Di sisi lain, mereka tidak ingin pasar mencium bahwa mereka sedang membutuhkan dana taktis. Di sinilah konsep Discreet Liquidity," tegas Bastian.
Bagi segmen kelas atas, efisiensi biaya modal (cost of capital) dan perlindungan reputasi adalah kunci. Meminjam dana dengan jaminan aset mewah yang sedang menguat nilainya jauh lebih efisien dibandingkan harus menarik deposito berjangka lebih awal atau menjual kepemilikan saham di saat pasar saham sedang bergejolak.