Intip Kastil Gotik Abad 19 Milik Mark Zuckerberg di Irlandia

CEO Meta Mark Zuckerberg menambah portofolio propertinya dengan membeli kastil bergaya Gotik di Irlandia senilai hingga US$ 35 juta.

oleh Cahya Alena FauzaDiterbitkan 29 Agustus 2026, 07:00 WIB
CEO Facebook Mark Zuckerberg (AP Photo/Paul Sakuma, File)

Liputan6.com, Jakarta - Banyak orang kaya Amerika Serikat (AS) yang selama ini tinggal di rumah mewah kawasan California hingga penthouse New York kini mulai berburu hunian bersejarah di luar negeri. Salah satunya adalah CEO Meta, Mark Zuckerberg, yang baru saja menambah portofolio propertinya dengan membeli sebuah kastil bergaya Gotik berusia 196 tahun di Irlandia.

Melansir Yahoo! Finance, Sabtu (29/8/2026), Zuckerberg dan istrinya, Priscilla Chan, membeli Kastil Strancally di Waterford, Irlandia. Hunian mewah abad ke-19 bergaya Gotik Revival ini menawarkan pemandangan indah Sungai Blackwater di wilayah tenggara negara tersebut.

Bangunan tiga lantai yang didirikan pada 1830 dan direnovasi besar-besaran pada 2003 ini memiliki 11 kamar tidur utama, fasad batu pahat, serta luas ruang hunian mencapai 16.000 kaki persegi (sekitar 1.486,4 meter persegi). Kastil ini berdiri di atas hamparan lahan seluas 440 acre (sekitar 178 hektare).

Nilai transaksi ini tidak tercantum secara resmi dalam pendaftaran harga properti negara Irlandia. Namun, Irish Times memperkirakan harga kastil baru sang miliarder berada di rentang 20 juta euro hingga 30 juta euro atau sekitar US$ 23,3 juta hingga US$ 35 juta setara Rp 414,3 miliar hingga Rp 622,2 miliar (asumsi kurs Rp 17.784 per dolar AS).

Di luar unsur sejarah dan kemewahannya, ada alasan praktis di balik pembelian ini. Kantor pusat internasional Meta berlokasi di Dublin, berjarak sekitar 125 mil (201,1 km) dari Kastil Strancally. Meski keluarga Zuckerberg tidak akan menetap di sana secara penuh, kastil ini akan menjadi markas utama mereka di Eropa. Dewan Kota dan Kabupaten Waterford juga menyoroti keindahan garis pantai berbatu serta kawasan sekitar saat dimintai tanggapan mengenai pembelian tersebut.

"Mark dan keluarganya sangat antusias untuk merawat hunian bersejarah ini dan menantikan saat-saat menghabiskan waktu di Irlandia, tempat kantor pusat internasional Meta berada," ujar juru bicara Zuckerberg, Brian Baker, kepada Fortune.

 

Tren Konglomerat AS Memborong Properti di Eropa

Miliarder Amerika Serikat Ken Griffin.

Zuckerberg hanya satu dari sekian banyak orang kaya Amerika yang memperluas portofolio propertinya ke luar negeri.

Pada 2019, miliarder pengelola dana lindung nilai (hedge fund), Ken Griffin, membeli rumah mewah bergaya Georgia senilai US$ 122 juta (Rp 2,16 triliun) di dekat Istana Buckingham. Kala itu, transaksi tersebut menjadi penjualan termahal di London dalam lebih dari satu dekade. Rumah seluas 1.486,4 meter persegi di 3 Carlton Gardens tersebut dilengkapi fasilitas spa, kolam renang dalam ruangan, serta memiliki nilai sejarah karena pernah menjadi markas perang Charles de Gaulle.

Deretan tokoh kenamaan lain seperti George Clooney, Tom Ford, hingga mantan CEO Google Eric Schmidt juga telah menambah koleksi hunian mewah mereka di Eropa.

Tidak hanya selebritas dan tokoh ternama, makin banyak warga kaya AS lainnya yang mulai mengincar hunian di Inggris. Mereka mencari stabilitas di tengah lonjakan biaya hidup, polarisasi politik, dan ketidakpastian ekonomi di dalam negeri AS.

Tahun ini, London mencatat lonjakan tajam pada transaksi properti di atas nilai 15 juta poundsterling (sekitar US$ 20 juta atau Rp 355,3 miliar) yang didorong oleh pembeli asal Amerika. Menurut perusahaan properti mewah Beauchamp Estates, total transaksi mencapai 1,24 miliar poundsterling (US$ 1,66 miliar atau Rp 29,4 triliun) dari 34 transaksi sepanjang Januari hingga Juni 2026.

Angka ini melonjak dari periode yang sama tahun 2025 yang mencatatkan 27 transaksi senilai 694,1 juta poundsterling (US$ 928 juta atau Rp 16,4 triliun).

 

Penyebab Miliarder AS Borong Properti di Luar Negeri

Pada semester pertama tahun ini, warga AS menyumbang 30% dari seluruh pembelian hunian di atas US$ 20 juta (Rp 355,3 miliar)—naik dari 20% pada akhir 2025. Tren ini menyumbang peningkatan nilai transaksi sebesar 546 juta poundsterling (US$ 730 juta atau Rp 12,9 triliun) hanya dalam kurun waktu enam bulan.

Beauchamp Estates menyatakan bahwa kombinasi antara kekayaan baru dari sektor teknologi, kondisi pembelian yang menguntungkan, serta ketidakpastian seputar pemerintahan Trump menjadi pendorong utama warga AS beralih ke pasar properti mewah di London.

"Pertumbuhan ekonomi dan pesatnya sektor teknologi AS telah menghasilkan kekayaan yang signifikan. Namun, kekhawatiran terhadap kepemimpinan Trump turut memicu kenaikan 10% pembeli Amerika yang mengalihkan sebagian dananya ke luar negeri untuk membeli properti di London," ujar Rosy Khalastchy, Direktur Beauchamp Estates Kantor St John's Wood, dalam siaran persnya.

Selain itu, nilai tukar mata uang yang menguntungkan, peluang mendapatkan diskon, serta reputasi London sebagai basis bisnis Eropa yang strategis turut menjadi pertimbangan utama. Di luar faktor finansial, warga Amerika memilih London karena kehidupan sosialnya yang dinamis serta sistem pendidikan berkualitas tinggi. Bahkan, Duke dan Duchess of Sussex, Harry dan Meghan, baru-baru ini mendaftarkan anak-anak mereka ke sekolah di Inggris setelah kembali dari California.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya