Liputan6.com, Jakarta: Impian Puspa hidup senang di kampung halaman kandas. Duit hasil memeras keringat di Malaysia raib. Bukan hanya itu. Kegadisan Puspa pun direnggut paksa. Kini, Puspa sebatang kara. Ia tidak berani pulang ke Kupang, Nusatenggara Timur. Hidupnya terlunta-lunta di tempat penampungan milik sebuah lembaga swadaya masyarakat di Jakarta.
Kejadian tragis itu terjadi pada pertengahan Juli ini. Semula, Puspa hendak pulang ke Kupang melalui Pelabuhan Tanjungpriok, Jakarta Utara. Entah kenapa, kapal ke Kupang baru merapat satu pekan lagi. Puspa risau tak punya tujuan. Ketika didera kebingungan, ia berkenalan dengan Linda dan dua temannya. Puspa bersedia diajak ke rumah Linda. "Pigi ke rumah kawan yang sama-sama berasal dari Kupang," kata dia.
Keempat perempuan itu lantas pergi ke kawasan Penjaringan, Jakut. Tiba di rumah kontrakan, Linda sempat mengenalkan beberapa kawan lelakinya. "Semua baik, saya tak curiga," lanjut wanita berumur 31 tahun ini. Merasa diperlakukan dengan baik, niat Puspa berubah. Ia ingin menginap beberapa hari untuk mencari kerja di Ibu Kota.
Keesokan harinya, Puspa pergi mencari pekerjaan untuk membunuh waktu. Tapi setelah seharian mencari, Puspa tak kunjung mendapat pekerjaan. Menjelang petang, perempuan ini pulang dengan gontai. Tawaran Linda untuk membelikan makanan disambut baik. Ketika menunggu makanan, seorang dari enam lelaki yang tengah mabuk-mabukan di dekat kontrakan mendekati Puspa. Awalnya Christian Naas hanya mengajak Puspa mengobrol. Belakangan, Chris merayu minta dilayani. Puspa menolak. Chris lantas mengancam dengan pisau. Perlawanan Puspa tak berarti. Kehormatan gadis itu direnggut.
Seorang teman Chris bernama Marco Mailani datang. Marco juga minta giliran. Usai memuaskan nafsu, keduanya keluar dari kamar. Belum lagi Puspa beranjak, Adi menyerbu. Mimpi buruk Puspa berlanjut. Setelah Adi, Puspa dikerjai Dikson Rasi, Sarbana, dan seorang tersangka lain. Perempuan itu lemas dan jatuh pingsan. Tragisnya, duit Puspa senilai Rp 700 ribu juga digasak para pemerkosa sebelum melarikan diri. "Itu uang saku untuk pulang," kata dia.
Satu jam kemudian Puspa siuman. Ia kemudian mengadu ke Kantor Kepolisian Sektor Penjaringan. Menurut Kepala Polsek Komisaris Polisi Krishna Murti, lima dari enam pemerkosa Puspa telah diciduk. "Empat kami tangkap, seorang lagi menyerahkan diri," kata Krishna. Seorang pemerkosa lagi hingga kini, masih diburu. Sementara Linda dikabarkan menghilang ke Batam.(KEN/Tim Derap Hukum)
Kejadian tragis itu terjadi pada pertengahan Juli ini. Semula, Puspa hendak pulang ke Kupang melalui Pelabuhan Tanjungpriok, Jakarta Utara. Entah kenapa, kapal ke Kupang baru merapat satu pekan lagi. Puspa risau tak punya tujuan. Ketika didera kebingungan, ia berkenalan dengan Linda dan dua temannya. Puspa bersedia diajak ke rumah Linda. "Pigi ke rumah kawan yang sama-sama berasal dari Kupang," kata dia.
Keempat perempuan itu lantas pergi ke kawasan Penjaringan, Jakut. Tiba di rumah kontrakan, Linda sempat mengenalkan beberapa kawan lelakinya. "Semua baik, saya tak curiga," lanjut wanita berumur 31 tahun ini. Merasa diperlakukan dengan baik, niat Puspa berubah. Ia ingin menginap beberapa hari untuk mencari kerja di Ibu Kota.
Keesokan harinya, Puspa pergi mencari pekerjaan untuk membunuh waktu. Tapi setelah seharian mencari, Puspa tak kunjung mendapat pekerjaan. Menjelang petang, perempuan ini pulang dengan gontai. Tawaran Linda untuk membelikan makanan disambut baik. Ketika menunggu makanan, seorang dari enam lelaki yang tengah mabuk-mabukan di dekat kontrakan mendekati Puspa. Awalnya Christian Naas hanya mengajak Puspa mengobrol. Belakangan, Chris merayu minta dilayani. Puspa menolak. Chris lantas mengancam dengan pisau. Perlawanan Puspa tak berarti. Kehormatan gadis itu direnggut.
Seorang teman Chris bernama Marco Mailani datang. Marco juga minta giliran. Usai memuaskan nafsu, keduanya keluar dari kamar. Belum lagi Puspa beranjak, Adi menyerbu. Mimpi buruk Puspa berlanjut. Setelah Adi, Puspa dikerjai Dikson Rasi, Sarbana, dan seorang tersangka lain. Perempuan itu lemas dan jatuh pingsan. Tragisnya, duit Puspa senilai Rp 700 ribu juga digasak para pemerkosa sebelum melarikan diri. "Itu uang saku untuk pulang," kata dia.
Satu jam kemudian Puspa siuman. Ia kemudian mengadu ke Kantor Kepolisian Sektor Penjaringan. Menurut Kepala Polsek Komisaris Polisi Krishna Murti, lima dari enam pemerkosa Puspa telah diciduk. "Empat kami tangkap, seorang lagi menyerahkan diri," kata Krishna. Seorang pemerkosa lagi hingga kini, masih diburu. Sementara Linda dikabarkan menghilang ke Batam.(KEN/Tim Derap Hukum)