Liputan6.com, Jakarta - Nahdlatul Ulama memasuki abad kedua dengan modal sosial yang sangat besar. Berbagai estimasi menyebut jumlah Nahdliyin mencapai lebih dari 100 juta orang, sementara jaringan pesantren, lembaga pendidikan, organisasi sosial, dan komunitas ekonomi tersebar di hampir seluruh wilayah Indonesia.
Namun, besarnya jumlah jamaah tidak otomatis menjadi kekuatan peradaban. Tantangan NU setelah satu abad justru terletak pada kemampuan mengubah jumlah menjadi kualitas, jaringan menjadi ekosistem, dan tradisi menjadi kekuatan yang mampu menjawab persoalan manusia pada masa depan.
Advertisement
Dalam konteks tersebut, agenda transformasi NU tidak cukup berhenti pada penguatan organisasi. Abad kedua membutuhkan strategi yang menyentuh data Nahdliyin, kualitas sumber daya manusia, pendidikan, kemandirian ekonomi, lingkungan hidup, serta kemampuan membawa gagasan Islam Indonesia ke panggung global.
Al-Qur’an memberikan prinsip perubahan yang sangat relevan melalui Surah Ar-Ra’d ayat 11:
“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.”
Ayat tersebut menempatkan transformasi sebagai tanggung jawab manusia.
Gagasan tersebut sejalan dengan pemikiran Muhammad Iqbal dalam The Reconstruction of Religious Thought in Islam.
Iqbal menulis, “The Qur’an is a book which emphasizes ‘deed’ rather than ‘idea’.” Bagi NU, pesan tersebut berarti tradisi harus diwujudkan menjadi tindakan nyata.
Dari Jumlah Nahdliyin Menuju Kekuatan Data dan SDM
Besarnya populasi Nahdliyin merupakan modal demografis yang luar biasa, tetapi demografi baru menjadi kekuatan apabila diketahui secara lebih presisi. NU membutuhkan data mengenai pendidikan, profesi, kompetensi, persebaran, kondisi ekonomi, serta potensi talenta warga.
Data tersebut tidak seharusnya dipahami sekadar sebagai instrumen administrasi organisasi. Dalam perspektif manajemen modern, data merupakan fondasi pengambilan keputusan, sehingga NU membutuhkan ekosistem data Nahdliyin yang terintegrasi, aman, mutakhir, dan tetap menghormati perlindungan data pribadi.
Dengan basis data yang kuat, NU dapat mengetahui wilayah yang membutuhkan intervensi pendidikan, kelompok yang membutuhkan penguatan ekonomi, serta generasi muda yang memiliki kompetensi tertentu untuk dikembangkan menjadi kader profesional dan pemimpin masa depan.
Persoalan SDM menjadi semakin penting karena perubahan teknologi berlangsung sangat cepat. NU membutuhkan ulama yang memahami teknologi, tetapi juga membutuhkan ilmuwan yang memahami etika, ekonom yang memiliki kepekaan sosial, serta teknokrat yang memiliki kedalaman moral.
Dengan demikian, agenda SDM abad kedua harus diarahkan pada pembentukan talenta peradaban, yaitu manusia yang memiliki kompetensi profesional, karakter, kemampuan berpikir kritis, dan komitmen terhadap kemaslahatan masyarakat.
Pendidikan: Dari Santri Saleh Menuju Manusia Berkompetensi
Pendidikan merupakan fondasi paling strategis bagi transformasi NU karena pesantren telah menjadi kekuatan historis dalam menjaga tradisi keilmuan Islam, membentuk karakter, dan melahirkan jaringan sosial yang bertahan menghadapi berbagai perubahan zaman.
Namun, dunia yang dihadapi generasi santri sekarang berbeda dengan masa sebelumnya. Kecerdasan buatan, bioteknologi, ekonomi digital, perubahan iklim, geopolitik, dan transformasi industri menuntut pendidikan yang mampu mempertemukan tradisi keislaman dengan perkembangan ilmu pengetahuan.
Al-Qur’an membuka wahyu pertama dengan perintah iqra, membaca. Perintah tersebut dapat dipahami bukan hanya sebagai aktivitas membaca teks, tetapi juga sebagai dorongan memahami realitas. Pendidikan NU karena itu harus mengajarkan kemampuan membaca agama sekaligus membaca perubahan zaman.
Santri abad kedua idealnya mampu membaca kitab kuning sekaligus memahami algoritma, menguasai fikih sekaligus ekonomi digital, memahami sejarah Islam sekaligus geopolitik, serta memiliki kemampuan penelitian yang memungkinkan mereka menghasilkan pengetahuan baru.
Pandangan filsuf Alasdair MacIntyre juga relevan dalam konteks tersebut. Ia mendefinisikan kebajikan sebagai kualitas manusia yang diperoleh melalui proses pembentukan dan memungkinkan seseorang mencapai kebaikan yang melekat dalam praktik sosial tertentu.
Pesantren karena itu tidak cukup menjadi tempat transfer pengetahuan. Pesantren harus menjadi ruang pembentukan karakter, kompetensi, disiplin, kepemimpinan, dan kebajikan sehingga tradisi keilmuan NU menghasilkan manusia yang mampu menghadapi dunia modern.
Ekonomi Nahdliyin: Dari Jamaah Konsumtif Menuju Jamaah Produktif
Besarnya basis Nahdliyin menyimpan potensi ekonomi yang sangat besar karena terdapat jutaan konsumen, pelaku usaha, pekerja, petani, nelayan, pedagang, profesional, dan pengusaha yang dapat dihubungkan dalam sebuah ekosistem ekonomi produktif.
Namun, jumlah konsumen tidak otomatis menciptakan kesejahteraan apabila tidak terdapat jaringan produksi, pembiayaan, distribusi, inovasi, dan pasar yang memungkinkan masyarakat meningkatkan produktivitas serta memperoleh nilai ekonomi yang lebih besar.
Karena itu, agenda ekonomi NU perlu bergerak dari sekadar membangun badan usaha menuju pembangunan ekosistem ekonomi Nahdliyin yang menghubungkan koperasi, pesantren, UMKM, pengusaha, lembaga keuangan, petani, pelaku industri halal, dan pasar digital.
Penguatan koperasi, digitalisasi UMKM, pengembangan industri halal, pertanian modern, ekonomi kreatif, wakaf produktif, pembiayaan usaha kecil, serta pemasaran produk pesantren dapat menjadi bagian dari strategi membangun kemandirian ekonomi warga.
Al-Qur’an dalam Surah Al-Qashash ayat 77 mengingatkan manusia agar tidak melupakan bagian kehidupannya di dunia. Pesan tersebut menunjukkan bahwa spiritualitas tidak berarti meninggalkan aktivitas ekonomi, melainkan mengarahkannya agar menghasilkan kesejahteraan dan kemaslahatan.
Ukuran keberhasilan ekonomi NU karena itu bukan hanya jumlah badan usaha atau besarnya aset, melainkan peningkatan produktivitas, penciptaan lapangan kerja, kenaikan pendapatan, penguatan UMKM, serta meningkatnya mobilitas sosial masyarakat Nahdliyin.
Merawat Jagat: Ekologi sebagai Agenda Peradaban
Memasuki abad kedua, NU juga menghadapi tantangan ekologis yang semakin serius. Perubahan iklim, banjir, kekeringan, krisis air, pencemaran, kerusakan hutan, dan persoalan sampah telah menjadi persoalan sosial yang memengaruhi kualitas kehidupan masyarakat.
Gagasan merawat jagat karena itu perlu diterjemahkan menjadi program nyata. Pesantren hijau, konservasi air, pengelolaan sampah, energi terbarukan, pertanian berkelanjutan, rehabilitasi hutan, dan pendidikan lingkungan dapat menjadi bagian dari gerakan ekologis Nahdliyin.
Al-Qur’an dalam Surah Ar-Rum ayat 41 menyebut bahwa kerusakan di darat dan laut terjadi akibat perbuatan manusia. Pesan tersebut memperlihatkan bahwa persoalan lingkungan bukan hanya persoalan teknis, tetapi juga persoalan moral mengenai tanggung jawab manusia.
Dalam perspektif Islam, manusia memiliki posisi sebagai khalifah sekaligus ‘abd. Sebagai khalifah, manusia memperoleh mandat untuk mengelola bumi, sedangkan sebagai hamba, manusia memiliki tanggung jawab moral kepada Allah atas cara mereka memperlakukan ciptaan.
Konsep tersebut dapat menjadi basis etika ekologis NU. Dengan jaringan pesantren dan komunitas yang luas, kesadaran lingkungan dapat dikembangkan menjadi gerakan sosial yang menghubungkan nilai keagamaan, perubahan perilaku, konservasi alam, ekonomi hijau, dan keadilan antargenerasi.
Dari Indonesia untuk Dunia: Diplomasi Peradaban NU
NU memiliki pengalaman penting dalam mempertemukan Islam, demokrasi, kebangsaan, dan masyarakat plural. Modal historis tersebut dapat dikembangkan menjadi kekuatan diplomasi peradaban yang memperkenalkan pengalaman Islam Indonesia kepada masyarakat internasional.
Gagasan Humanitarian Islam, Fiqh Peradaban, dan forum Religion of Twenty menunjukkan adanya upaya membawa pemikiran NU dari persoalan internal umat menuju persoalan global seperti perdamaian, konflik, perubahan iklim, ekonomi, dan hubungan antaragama.
Dalam perspektif hubungan internasional, kekuatan semacam itu dapat disebut soft power, yakni kemampuan memengaruhi pihak lain melalui gagasan, kebudayaan, nilai, keteladanan, dan legitimasi moral, bukan semata-mata melalui kekuatan ekonomi ataupun militer.
Al-Qur’an dalam Surah Al-Hujurat ayat 13 menyebut manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal. Prinsip ta’aruf tersebut memiliki relevansi kuat dengan diplomasi global yang mengutamakan dialog, penghormatan, dan kerja sama.
Diplomasi NU abad kedua karena itu perlu bergerak dari diplomasi identitas menuju diplomasi kemanusiaan. NU tidak hanya menjelaskan Islam kepada dunia, tetapi juga menawarkan pengalaman sosial dan gagasan yang dapat berkontribusi terhadap penyelesaian persoalan kemanusiaan.
Dari Jamaah Menuju Peradaban
Pada akhirnya, transformasi NU menuju abad kedua bukan sekadar persoalan memperbesar organisasi, menambah lembaga, atau memperluas struktur. Persoalan utamanya adalah bagaimana modal sosial yang sangat besar tersebut menghasilkan perubahan nyata dalam kehidupan manusia.
Keberhasilan itu dapat dilihat dari kualitas pendidikan anak-anak Nahdliyin, meningkatnya produktivitas ekonomi, lahirnya ilmuwan dan profesional, berkembangnya pesantren inovatif, terjaganya lingkungan, serta semakin kuatnya kontribusi NU dalam membangun perdamaian dunia.
Muhammad Iqbal membantu kita memahami bahwa gagasan keagamaan membutuhkan tindakan, sementara MacIntyre mengingatkan bahwa kebajikan lahir melalui praktik dan komunitas. Dua pemikiran tersebut dapat menjadi fondasi filosofis bagi transformasi NU dari organisasi massa menjadi kekuatan peradaban.
Jika abad pertama merupakan fase membangun fondasi jamaah dan menjaga tradisi, abad kedua membutuhkan keberanian mengubah fondasi tersebut menjadi kekuatan peradaban, dengan tetap mempertahankan prinsip keislaman, kebangsaan, kemanusiaan, dan keseimbangan.
Karena itu, pertanyaan terpenting NU memasuki abad kedua bukan sekadar berapa banyak warga yang berada di dalamnya, tetapi bagaimana mereka dididik, diberdayakan, dihubungkan, dan diarahkan untuk menghasilkan kemaslahatan bagi Indonesia serta masyarakat dunia.
Dari jamaah menuju peradaban pada akhirnya adalah perjalanan dari kuantitas menuju kualitas, dari identitas menuju kontribusi, dan dari warisan menuju penciptaan masa depan. Di situlah makna abad kedua NU akan benar-benar diuji.
Oleh: Zainal Habib, Dosen UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dan Ketua PP Ikatan Sarjana NU (PP ISNU)