Liputan6.com, Jakarta - Gunung Anak Krakatau (GAK) tercatat mengalami 34 kali gempa letusan atau erupsi pada Selasa (25/8/2026) dalam periode pukul 06.00 hingga 12.00 WIB.
Berdasarkan laporan pengamatan yang ditulis Rioboniek Situmorang dan diunggah melalui Magma Indonesia, gempa letusan tersebut memiliki amplitudo 44-69 milimeter dengan durasi 25-290 detik.
Advertisement
Selain gempa letusan, aktivitas vulkanik GAK juga ditandai dengan 132 kali gempa hembusan. Gempa tersebut memiliki amplitudo 13-66 milimeter dengan durasi 7-21 detik.
"132 kali gempa hembusan dengan amplitudo 13-66 mm dan lama gempa 7-21 detik," tulis Rioboniek Situmorang dalam laporannya yang dikutip pada Selasa (25/8/2026) pukul 15.19 WIB.
Gunung api yang berada di perairan Selat Sunda dengan ketinggian 157 meter di atas permukaan laut (mdpl) itu juga terpantau menyemburkan abu vulkanik dengan intensitas tebal. Kolom abu teramati mencapai ketinggian sekitar 100 hingga 400 meter.
Aktivitas lainnya berupa empat kali gempa harmonik dengan amplitudo 37-61 milimeter dan durasi 17-83 detik.
"Satu kali gempa low frequency dengan amplitudo 44 mm, dan lama gempa 12 detik," tulis Rioboniek.
Selain itu, tercatat 23 kali gempa hybrid atau fase banyak dengan amplitudo 17-53 milimeter dan durasi 7-21 detik.
Terjadi Satu Kali Gempa Tremor
Aktivitas Gunung Anak Krakatau juga ditandai dengan satu kali gempa tremor menerus dengan amplitudo 3-60 milimeter dan amplitudo dominan 20 milimeter.
Gunung Anak Krakatau merupakan gunung api aktif di Selat Sunda yang pernah mengalami erupsi besar pada 2018. Aktivitas tersebut memicu tsunami yang menerjang sejumlah wilayah pesisir Banten dan Lampung.
Dalam laporan tersebut, masyarakat dan wisatawan diminta tidak mendekati Gunung Anak Krakatau.
"Masyarakat hingga wisatawan dilarang mendekati Gunung Anak Krakatau atau beraktivitas dalam radius 3km dari kawah aktif," tuturnya.