Liputan6.com, Jakarta - Selain Ketua Umum PBNU dan 9 AHWA, posisi sentral di organisasi Nahdlatul Ulama adalah Rais Aam. Posisi inilah yang merepresentasikan pemegang otoritas keagamaan, dan penentuan arah organisasi juga berada dalam pertimbangannya. Menjelang muktamar ke-35 NU, ada baiknya mengenal kembali sosok para Rais Aam yang menjadi kompas arah perjalanan warga NU dari masa ke masa.
Era Pendiri dan Konsolidasi Awal
Advertisement
Pada masa awal, kepemimpinan NU bertumpu pada ulama kharismatik yang berfokus pada pergerakan kemerdekaan serta konsolidasi akidah. Di era ini NU dipimpin oleh tiga ulama kharismatik, yaitu:
1. KH Hasyim Asy'ari
KH Hasyim Asy'ari yang menjabat dari 1926 sampai1947, merupakan peletak dasar jam'iyah NU dan satu-satunya tokoh yang menyandang gelar istimewa Rais Akbar. Beliau adalah pencetus Resolusi Jihad 1945 yang menjadi tonggak perlawanan umat Islam melawan penjajah.
2. KH Abdul Wahab Chasbullah
KH Abdul Wahab Chasbullah menjabat Rais Aam dari tahun 1947 hingga tahun 1971. Beliau dikenal sebagai inisiator dan motor penggerak utama NU. Kepemimpinannya sangat dinamis dan luwes, mengawal NU melewati berbagai fase transisi dari era revolusi kemerdekaan, Orde Lama, hingga awal Orde Baru.
3. KH Bisri Syansuri
KH Bisri Syansuri menjabat dari tahun 1971 hingga tahun 1980. Beliau merupakan ahli fiqih yang sangat memegang teguh hukum-hukum syariat. Beliau banyak mewarnai kebijakan politik NU di era Orde Baru, termasuk dengan tegas menolak RUU Perkawinan yang dinilai bertentangan dengan ajaran Islam.
Era Pembaruan dan Penguatan Khittah
Pada periode ini NU berada dalam masa krusial sekembalinya dari hiruk-pikuk politik praktis menuju organisasi yang menabalkan diri sebagai jam'iyah yang berorientasi pada sosial-keagamaan. Pada periode ini NU dipimpin oleh ulama-ulama kharismatik:
1. KH Ali Maksum
KH Ali Maksum menjabat Rais Aam dari tahun 1981 sampai tahun 1984. Beliau membawa corak kepemimpinan kultural dan intelektual. Pengasuh Pesantren Krapyak ini berperan penting dalam meredam gejolak internal dan mengawal NU menjelang momen bersejarah kembali ke Khittah 1926.
2. KH Ahmad Shiddiq
KH Ahmad Shiddiq menjabat dari tahun 1984 hingga tahun 1991. Beliau adalah tokoh pemikir brilian yang berhasil merumuskan landasan teologis bagi NU untuk menerima Pancasila sebagai asas tunggal. Lewat langkah ini, NU telah membuktikan bahwa keislaman dan kebangsaan tidak saling bertentangan.
3. Prof. KH. Ali Yafie
Prof. K.H. Ali Yafie menjabat sebagai Penjabat (Pjs) Rais Aam PBNU pada tahun 1991 hingga 1992. Beliau naik menggantikan posisi K.H. Achmad Siddiq yang wafat pada awal 1991. Di samping sebagai Pjs Rais Aam, beliau merupakan akademisi dan rektor di Institut Ilmu al-Qur'an. Beliau juga dikenal sebagai penggagas wacana "Fiqhul Bi'ah" atau fiqih lingkungan, sebagai respons atas persoalan lingkungan yang kala itu berada di titik yang cukup memprihatinkan.
4. KH Ilyas Ruhiat
KH Ilyas Ruhiat menjabat dari tahun 1992 hingga 1999. Beliau adalah ulama kharismatik dari Cipasung yang memimpin NU melewati masa krisis menjelang Reformasi 1998. Beliau dikenal karena pendekatannya yang mengedepankan kehati-hatian dan kebijaksanaan.
Era Fiqih Sosial dan Organisasi Modern
Di periodisasi ketiga, yaitu era di mana fiqih sosial dan administrasi organisasi modern menjadi tumpuan arah organisasi. Pada era ini, fokus kepemimpinan di dalam tubuh NU bergeser pada tata kelola organisasi, kemandirian ekonomi, dan implementasi ajaran agama dalam isu-isu sosial kekinian. Di era ini NU dikawal oleh ulama-ulama terkemuka, yaitu:
1. KH Sahal Mahfudh
KH Sahal Mahfudh yang menjabat Rais Aam dari tahun 1999 sampai tahun 2014, merupakan pencetus paradigma fiqih sosial. Fiqih sosial sendiri merupakan sebuah pendekatan yang membumikan teks-teks kitab kuning klasik ke dalam solusi praktis untuk mengentaskan kemiskinan, kesehatan, dan kesejahteraan masyarakat.
2. KH. Musthofa Bisri
Setelah KH. Sahal Mahfudh wafat pada tahun 2014, posisi Rais Aam dilanjutkan oleh KH. Musthofa Bisri sebagai Pejabat Rais menggantikan, beliau hingga pada perhelatan muktamar ke-33 di Tebuireng, Jombang, tahun 2015. KH. Musthofa Bisri tidak hanya menjadi kyai, juga sebagai budayawan dan sastrawan. Banyak sekali puisi-puisi yang diciptakan oleh beliau yang menginspirasi, serta berderet dengan puisi-puisi sastrawan lain.
3. KH Ma'ruf Amin
KH Ma'ruf Amin menjabat dari tahun 2015 sampai 2018. Beliau adalah sosok ulama yang yang ahli di bidang ekonomi syariah untuk memperkuat kemandirian finansial umat, sebelum akhirnya beliau mengundurkan diri untuk menjabat sebagai Wakil Presiden RI pada tahun 2019.
4. KH Miftachul Akhyar
KH Miftachul Akhyar menjabat Rais Aam PBNU dari tahun 2018 sampai sekarang. Beliau memfokuskan kepemimpinannya pada kedisiplinan organisasi dan berupaya mensinergikan kekuatan struktural PBNU agar lebih solid dari tingkat pusat hingga ke tingkat ranting di daerah.