Liputan6.com, Jakarta - Bursa Efek Indonesia (BEI) menghentikan sementara (suspensi) perdagangan efek PT Adhi Karya Tbk (ADHI) di seluruh pasar sejak pre-opening perdagangan efek pada Senin, (24/8/2026).
Mengutip keterbukaan informasi BEI, Senin pekan ini, BEI suspensi saham ADHi berdasarkan pada surat PT Adhi Karya (Persero) Tbk nomor 014-19/2026/010 pada 21 Agustus 2026 perihal informasi kesiapan dana pembayaran jatuh tempo obligasi berkelanjutan III tahap III Tahun 2022 seri B dan C. Selain itu, surat PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) Nomor KSEI-6083/DIR/0826 pada 21 Agustus 2026 perihal penundaan pembayaran bunga obligasi berkelanjutan III Adhi Karya Tahap III Tahun 2022 seri B-C ke-17.
Advertisement
Perseroan telah menunda pembayaran bunga obligasi yang dijadwalkan pada 24 Agustus 2026 antara lain:
1. Bunga ke-17 Obligasi Berkelanjutan III Adhi Karya Tahap III Tahun 2022 Seri B (ADHI03BCN3).
2. Bunga ke-17 Obligasi Berkelanjutan III Adhi Karya Tahap III Tahun 2022 Seri C (ADHI03CCN3).
“Atas penundaan pembayaran bunga tersebut, mengindikasikan adanya permasalahan pada kelangsungan usaha Perseroan,” demikian seperti dikutip dari keterbukaan informasi BEI.
Seiring hal itu, bursa meminta kepada pihak-pihak terkait untuk selalu memperhatikan keterbukaan informasi yang disampaikan oleh perseroan.
Adhi Karya Cetak Kontrak Baru Rp 18,1 Triliun per Desember 2025
Sebelumnya, PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) mencatat, hingga 31 Desember 2025 perolehan kontrak baru sebesar Rp 18,1 triliun. Berdasarkan lini bisnis perolehan kontrak baru terdiri dari 91% engineering dan konstruksi, 5% manufaktur, 3% properti dan hospitality, dan 1% investasi & konsesi.
Mengutip Keterbukaan Informasi BEI, Selasa (7/4/2026), berdasarkan tipe pekerjaan, 43% pekerjaan Gedung, 15% infrastruktur Sumber Daya Air, 14% Jalan & Jembatan, dan sisanya lainnya.
Berdasarkan sumber pendanaan 69% pemerintah, 23% BUMN, dan sisanya swasta. Total produksi ADHI di sepanjang tahun 2025 senilai Rp 16,6 triliun yang langsung dibukukan sebagai Pendapatan Usaha Non JO sebesar Rp 9,7 Triliun dan sisanya tercermin dari Laba JO sebesar Rp 462 miliar.
Kontribusi terbesar pendapatan usaha ADHI berasal dari proyek infrastruktur seperti proyek Jalan Tol Yogyakarta-Bawen, Jalan Tol Yogyakarta-Solo-Kulon Progo, dan proyek PUSRI III-B.
Disisi lain, ADHI membukukan EBITDA positif sebesar Rp 763,8 miliar yang menunjukkan bahwa kemampuan Perseroan menghasilkan arus kas dari kegiatan usaha operasi pada tahun berjalan.
Anak Usaha
Biaya non-operasional tersebut merupakan hasil dari tiga langkah penyehatan yang dilakukan serentak. Pertama, penyesuaian nilai wajar aset Perusahaan seiring program penyehatan BUMN Karyadari Danantara.
Penyesuaian ini berdampak dominan pada dua anak perusahaan properti, yaitu Adhi Persada Properti dan Adhi Commuter Properti. Perlambatan bisnis makro properti dan penurunan daya beli masyarakat menyebabkan koreksi Nilai Realisasi Bersih (NRV) berdasarkan appraisal KJPP, yang dicatat sebagai Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN).
Kedua, evaluasi CKPN atas piutang Adhi Persada Gedung, anak perusahaan di bidang kontraktor gedung yang sebagian besar portofolio pelanggannya berada di sektor properti yang mengalami tekanan dan proses kepailitan. Ketiga, tindak lanjut temuan audit yang meminta Perseroan melakukan pencadangan yang cukup dan konservatif.
Aset ADHI
Adapun total aset ADHI per 31 Desember 2025 tercatat sebesar Rp 28,8 triliun dan liabilitas Perseroan tercatat sebesar Rp 25,5 Triliun. Hal ini disebabkan oleh penurunan liabilitas jangka pendek sejalan dengan pengelolaan kewajiban dan arus kas Perseroan.
Pada laporan laba rugi, ADHI mencatatkan rugi yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 5,4triliun, perubahan ini seluruhnya berasal dari pembukuan biaya non-operasional.
Sementara itu, ekuitas Perseroan tercatat sebesar Rp 3,3 Triliun, sejalan dengan pencatatan biaya penyehatan pada periode berjalan. Rasio DER berbasis Interest Bearing Debt masih di bawah covenant, tercatat sebesar 2,41 kali.
Meskipun mencatatkan penyesuaian nilai, Perseroan memiliki beberapa pondasi untuk pemulihan. ADHI masih memiliki piutang atas beberapa proyek besar yakni LRT Jabodebek dan piutang atas proyek Tol Aceh-Sigli. Realisasi piutang-piutang ini diharapkan berdampak langsung pada penerimaan kas Perseroan.