Penjualan Barang Mewah Global Merosot 10% di China

Langkah China untuk membendung arus keluar modal dan memulihkan penerimaan pajak berdampak terhadap penjualan barang mewah global.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 24 Agustus 2026, 20:40 WIB
Pengunjung masuk toko Louis Vuitton di mal. (AP Photo/Gemunu Amarasinghe)

Liputan6.com, Jakarta - Merek-merek barang mewah global menghadapi penurunan penjualan yang semakin dalam di China. Hal ini seiring dengan upaya China mengenakan pajak atas kekayaan yang disimpan di luar negeri. Langkah ini berdampak luas mulai dari pasar saham hingga lantai kasino, dan menekan pengeluaran konsumen terkaya di China.

Mengutip the Star, Senin, (24/8/2026), penjualan 25 merek barang mewah terbesar di China turun lebih dari 10% pada Juli, menurut data dari tiga perusahaan riset yang disurvei oleh Bloomberg.

Angka ini lebih buruk dibandingkan perlambatan yang terjadi pada Juni, sekaligus menandai perubahan drastis dari kinerja bisnis yang sempat sangat kuat pada awal tahun ini.

Merek-merek di bawah naungan LVMH seperti Louis Vuitton dan Dior, serta merek-merek Kering SA seperti Gucci, Bottega Veneta, dan Balenciaga, semuanya mencatat penurunan penjualan dua digit. Sementara itu, kinerja Hermès berbalik dari pertumbuhan menjadi penurunan. Pertumbuhan Chanel dan Prada juga melambat secara signifikan, menurut perusahaan-perusahaan riset tersebut.

Bagi raksasa barang mewah global, penurunan ini menambah ketidakpastian terhadap prospek bisnis di salah satu pasar terpenting mereka.

China pernah menjadi motor penggerak pertumbuhan industri barang mewah selama beberapa dekade, tetapi persaingan untuk memikat pembeli terkaya kini semakin ketat, sementara konsumen kelas menengah mulai mengurangi pengeluaran di tengah perlambatan ekonomi negara tersebut.

Penurunan ini terjadi bersamaan dengan upaya besar-besaran China untuk membendung arus keluar modal dan memulihkan penerimaan pajak, termasuk melalui pengendalian yang lebih ketat terhadap perdagangan saham lintas batas serta kewajiban bagi warga negara untuk membayar pungutan bernilai miliaran dolar AS atas aset luar negeri dan keuntungan investasi.

Ekonomi China Tumbuh 4,3% Kuartal II 2026, Terlemah Sejak 2022

Komuter yang memakai masker berjalan melintasi persimpangan di kawasan pusat bisnis pada hari dengan tingkat polusi udara yang tinggi di Beijing, China. Pejabat ekonomi China menyatakan keyakinannya bahwa mereka dapat memenuhi target pertumbuhan tahun ini sekitar 5 persen dengan menghasilkan 12 juta pekerjaan baru dan mendorong pengeluaran konsumen setelah berakhirnya kontrol antivirus yang membuat jutaan orang tetap di rumah. (AP Photo/Mark Schiefelbein)

Sebelumnya, Ekonomi China pada kuartal kedua tumbuh pada laju terlemah sejak kuartal keempat 2022. Pertumbuhan ekonomi China itu memperkuat seruan untuk kebijakan stimulus karena penurunan investasi yang semakin cepat memperdalam tekanan pada pertumbuhan. Sementara itu, konsumsi tetap lesu.

Mengutip CNBC, Rabu, (15/7/2026), pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) tercatat 4,3% pada April-Juni 2026, berdasarkan data dari Biro Statistik Nasional. Hal ini meleset dari perkiraan ekonomi sebesar 4,5% dalam jajak pendapat Reuters, dan melambat dari 5% pada kuartal pertama.

Pertumbuhan ekonomi kuartal kedua itu berada di bawah kisaran target pertumbuhan tahunan Beijing 4,5%-5%, target yang dinilai paling tidak ambisius dalam beberapa dekade. Target pertumbuhan itu di tengah ketegangan dengan mitra dagang, termasuk Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa, serta permintaan domestik yang lesu.

 

Langkah Stimulus

Pekerja membongkar kotak dari bagian belakang truk di luar pusat perbelanjaan di Beijing, China. Pejabat ekonomi China menyatakan keyakinannya bahwa mereka dapat memenuhi target pertumbuhan tahun ini sekitar 5 persen dengan menghasilkan 12 juta pekerjaan baru dan mendorong pengeluaran konsumen setelah berakhirnya kontrol antivirus yang membuat jutaan orang tetap di rumah. (AP Photo/Mark Schiefelbein)

Mengingat pertumbuhan ekonomi yang mengecewakan, Ekonom Senior Economist Intelligence Unit, Tianchen Xu memperkirakan, langkah-langkah stimulus akan ditingkatkan pada kuartal ketiga, termasuk pemotongan suku bunga untuk merangsang permintaan investasi.

Investasi aset tetap perkotaan, termasuk pengembangan real estat dan proyek infrastruktur, menurun 5,7% dalam enam bulan pertama dibandingkan tahun sebelumnya, lebih buruk dari perkiraan penurunan 4,9% dalam jajak pendapat Reuters, dan semakin tajam dari kontraksi 4,1% dalam lima bulan pertama.

Xu menghubungkan penurunan investasi yang semakin tajam ini dengan pemerintah daerah yang mengalihkan sumber daya ke restrukturisasi utang dan kekurangan proyek yang memenuhi syarat dalam tahap perencanaan. “Meningkatkan investasi infrastruktur akan menjadi fokus utama untuk menstabilkan pertumbuhan,” ujar dia.

 

Penjualan Ritel China

Seorang pekerja membersihkan pintu kaca toko barang mewah di sebuah pusat perbelanjaan di Beijing, China, Senin (6/3/2023). Pejabat ekonomi China menyatakan keyakinannya bahwa mereka dapat memenuhi target pertumbuhan tahun ini sekitar 5 persen dengan menghasilkan 12 juta pekerjaan baru dan mendorong pengeluaran konsumen setelah berakhirnya kontrol antivirus yang membuat jutaan orang tetap di rumah. (AP Photo/Mark Schiefelbein)

Pada Juni, penjualan ritel China tumbuh 1%, pulih dari penurunan 0,6% pada bulan sebelumnya dan melebihi perkiraan ekonom untuk penurunan 0,1%. Penjualan ritel pada Mei mencatat penurunan bulanan pertama sejak akhir 2022, terhambat oleh permintaan yang lesu dan diskon besar-besaran dari para pelaku pasar.

Produksi industri meningkat 5,3% pada Juni dibandingkan tahun lalu, lebih kuat dari perkiraan pertumbuhan 4,7%, dan meningkat dari ekspansi 4,5% pada Mei.

Ekonomi China bergulat dengan ketidakseimbangan pasokan-permintaan yang semakin dalam. Produksi industri dan ekspor yang kuat, yang terkait dengan booming investasi Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan global, terus mendorong pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan, meskipun konsumsi dan investasi swasta melemah di tengah penurunan pasar properti yang berkepanjangan dan harga energi yang bergejolak.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya