Menakar Peluang Ulama Pati di Bursa Ketum PBNU

Menjelang Muktamar ke-35 NU di Jombang, persaingan menuju kursi ketua PBNU semakin menghangat.

oleh Arief PramonoDiterbitkan 24 Agustus 2026, 18:24 WIB
KH Abdul Ghaffar Rozin terus konsolidasi di jajaran NU berbagai daerah di Indonesia. (Liputan6.com/ Arief Pramono)

Liputan6.com, Pati - Persaingan menuju kursi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), semakin hangat menjelang Muktamar ke-35 NU di Jombang, Jawa Timur, 27 Agustus mendatang.

Di tengah munculnya sejumlah nama dalam bursa calon ketua umum, dukungan terhadap KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin terus bergerak dari berbagai daerah.

Gus Rozin merupakan putra dari ulama kharismatik almarhum KH. Sahal Mahfudh, yang juga mantan Ketua Umum MUI dan Rais Aam PBNU. Ia merupakan ulama dan pengasuh Pondok Pesantren Maslakul Huda di Kajen, Pati.

Selain menjabat sebagai Ketua PWNU Jawa Tengah, Gus Rozin juga sebagai Rektor Institut Pesantren Mathali'ul Falah (IPMAFA) di Kabupaten Pati.

Muktamar ke-35 NU dijadwalkan berlangsung pada 27–31 Agustus 2026. Lokasinya di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang Jawa Timur.

Forum tertinggi NU tersebut akan menjadi momentum penting. Yakni untuk menentukan kepemimpinan PBNU, serta arah organisasi keagamaan terbesar di Indonesia untuk lima tahun ke depan.

Sejumlah nama telah muncul dalam bursa Ketua Umum PBNU. Selain Gus Rozin, ada Ketua Umum PBNU saat ini KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya dan Wakil Ketua Umum PBNU KH Zulfa Mustofa.

Selanjutnya ada pengasuh Pesantren API Tegalrejo Magelang KH Muhammad Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf, Menteri Agama Nasaruddin Umar dan Ketua PWNU Jawa Timur KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin.

Selain itu, nama Pengasuh Pesantren Mamba'ul Ma'arif Denanyar KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam, serta mantan Ketua Umum PB PMII Hery Haryanto Azumi.

Dalam perkembangan terbaru, Gus Yahya telah menyatakan kembali maju sebagai calon Ketua Umum PBNU. Gus Yusuf juga menyatakan kesiapannya maju. Sementara Nasaruddin Umar disebut telah masuk dalam bursa kandidat.

Nama-nama tersebut membuat dinamika menjelang Muktamar ke-35 NU semakin hangat. Konsolidasi di tingkat wilayah dan cabang, menjadi bagian penting dalam proses menuju forum di Jombang.

Di tengah dinamika tersebut, Gus Rozin terus melakukan silaturahim dengan jajaran NU di berbagai daerah.

Dari Aceh hingga Sulawesi dan Gorontalo, ia menyampaikan gagasan mengenai penguatan organisasi dari tingkat cabang, pesantren, hingga jamaah.

Rangkaian pertemuan itu sekaligus menjadi ruang bagi Gus Rozin, untuk memperkenalkan gagasan kepemimpinannya.

Sejumlah pengurus NU daerah menilai, pengalaman organisasi dan rekam jejak Gus Rozin di lingkungan NU menjadi modal penting dalam pencalonan tersebut.

Ketua Tanfidziyah PWNU Aceh Tengku Haji Faisal Ali menilai, pengalaman Gus Rozin mengelola organisasi NU telah teruji dalam berbagai situasi dan jenjang kepengurusan.

Menurut Faisal, pengalaman Gus Rozin tidak hanya berkaitan dengan tata kelola organisasi saja. Namun juga perjuangan memperkuat pesantren sebagai salah satu basis penting NU.

“Perjuangan yang berada di bawah komando Gus Rozin tentu tidak perlu lagi diragukan. Kapasitas, pengalaman, serta kepiawaian beliau dalam memimpin organisasi telah teruji dalam berbagai situasi,” ujar Faisal saat pertemuan PWNU dan PCNU se-Aceh (19/8/2026).

Respons positif juga datang dari sejumlah pengurus cabang NU di Aceh. Rais Syuriyah PCNU Bener Meriah, menilai Gus Rozin memiliki loyalitas dan komitmen dalam menjalankan pengabdian di NU.

Sementara Rais Syuriyah PCNU Aceh Tengah menyoroti pentingnya memperkuat NU dari akar utamanya, yakni pesantren. Ia berharap ada komitmen konkret untuk memperkuat pesantren apabila Gus Rozin mendapat amanah memimpin PBNU.

 

Penguatan Struktur NU di Daerah

Gagasan Gus Rozin tidak hanya berbicara mengenai pergantian kepemimpinan. Ia menawarkan pola hubungan PBNU dengan struktur NU di daerah, yang lebih berfungsi sebagai penghubung, penguat, dan pembuka akses.

Menurut Gus Rozin, keberhasilan yang telah dicapai sebuah cabang seharusnya bisa dibagikan kepada cabang lain. Dengan demikian, setiap PCNU tidak perlu memulai program dari nol.

"Kalau satu PCNU sudah berhasil di satu bidang, PCNU lain tidak harus memulai semuanya dari nol," ujar Gus Rozin melalui keterangan tertulisnya pada Senin (25/8/2026).

Ia menilai PBNU tidak perlu mengambil alih seluruh pekerjaan di daerah. Sebaliknya, pusat harus mampu mempertemukan potensi, membuka akses, memberikan pendampingan, dan memperkuat kapasitas organisasi di tingkat bawah.

"NU tidak akan besar kalau yang kuat hanya PBNU. Yang harus kita kuatkan justru cabang-cabangnya, pesantrennya, jamaahnya. Kalau mereka kuat, dengan sendirinya NU juga akan kuat," katanya.

Konsep tersebut menjadi salah satu narasi utama yang dibawa Gus Rozin dalam rangkaian silaturahimnya. Penguatan PCNU, pesantren, jamaah, dan kemandirian organisasi ditempatkan sebagai fondasi untuk membangun NU yang lebih kuat.

Dengan pola tersebut, PBNU diharapkan tidak hanya menjadi pusat pengambilan keputusan, tetapi juga menjadi simpul yang menghubungkan berbagai potensi NU di seluruh Indonesia.

Rekam Jejak Gus Rozin di NU

 Menguatnya dukungan terhadap Gus Rozin, tidak terlepas dari perjalanan panjangnya di organisasi NU.

Ia pernah menjadi Pengurus Pusat IPNU, Pengurus Pusat GP Ansor, Wakil Ketua LP Ma'arif PBNU, Ketua RMI NU Jawa Tengah, Ketua RMI PBNU, Mustasyar PCNU Kabupaten Pati, hingga Katib Syuriyah PBNU.

Saat ini, Gus Rozin menjabat Ketua PWNU Jawa Tengah periode 2024–2029 sekaligus Ketua Majelis Masyayikh.

Pesantren menjadi salah satu bidang yang menonjol dalam perjalanan pengabdiannya. Saat berada di RMI PBNU, Gus Rozin terlibat dalam sejumlah agenda penguatan pesantren dan santri.

Agenda yang sukses dikawal Gus Rozin yakni lahirnya Undang-Undang Pesantren, Liga Santri Nasional, Gerakan Ayo Mondok, serta berbagai program peningkatan kapasitas pesantren.

Perhatian tersebut berlanjut ketika ia dipercaya berada di Majelis Masyayikh. Fokusnya antara lain penguatan mutu pendidikan pesantren dan Ma'had Aly. Selanjutnya memperjuangkan kepentingan pesantren dalam kebijakan pendidikan nasional.

Bagi Gus Rozin, pesantren bukan sekadar bagian dari tradisi NU. Pesantren merupakan salah satu fondasi utama, yang menentukan kekuatan organisasi dan keberlanjutan kaderisasi NU.

 

Bursa Ketum PBNU

Menjelang Muktamar, persaingan tidak hanya mempertemukan figur-figur dari internal PBNU. Sejumlah tokoh dengan latar belakang pesantren, kepengurusan wilayah, hingga pemerintahan turut masuk dalam pembicaraan.

Gus Yahya misalnya, kembali maju dengan membawa agenda untuk melanjutkan program kepengurusan sebelumnya. Sementara Gus Yusuf menyatakan kesiapan maju dan telah memperoleh dukungan dari sejumlah PCNU di Jawa Tengah.

Nama Gus Kikin, Gus Salam, KH Zulfa Mustofa, Nasaruddin Umar, hingga Hery Haryanto Azumi juga disebut dalam bursa. Banyaknya nama tersebut, menunjukkan kontestasi menuju Muktamar ke-35 berlangsung cukup dinamis.

Sementara itu, Gus Rozin memilih membawa isu penguatan organisasi dari bawah sebagai salah satu tawaran kepemimpinannya. Ia ingin cabang, pesantren, lembaga pendidikan, dan jamaah memiliki ruang lebih besar untuk berkembang.

Keputusan Gus Rozin maju sebagai calon Ketua Umum PBNU disebut melalui proses panjang. Ia mengaku mempertimbangkannya melalui perenungan dan istikharah sebelum akhirnya memutuskan ikut dalam kontestasi.

"Saya ingin proses ini menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk menentukan arah NU ke depan," katanya.

Kini, waktu menuju Muktamar ke-35 NU tinggal hitungan hari. Konsolidasi dan komunikasi antarstruktur NU di berbagai daerah terus berlangsung.

Di tengah banyaknya nama yang muncul, para peserta Muktamar nantinya akan menentukan siapa yang dinilai paling tepat memimpin PBNU untuk periode berikutnya.

Bagi Gus Rozin, kontestasi tersebut bukan semata soal perebutan kursi Ketua Umum PBNU. Ia membawa gagasan agar kekuatan NU tidak hanya bertumpu di tingkat pusat saja. Namun juga tumbuh dari cabang, pesantren, lembaga pendidikan, dan jamaah.

Muktamar ke-35 NU di Jombang akhirnya akan menjadi titik penentuan. Bukan hanya siapa yang memimpin PBNU. Namun ke mana arah organisasi terbesar di kalangan Nahdliyin itu akan dibawa dalam lima tahun mendatang.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya