Liputan6.com, Jakarta - Harga kripto kapitalisasi pasar terbesar yakni bitcoin (BTC) kembali melesat setelah terjebak dalam pasar yang terus merosot selama berbulan-bulan. Hal itu juga mendorong pendukung kripto tiba-tiba kembali bersemangat.
Mengutip data coinmarketcap.com, harga bitcoin naik 0,27% menjadi US$ 77.058,74 dalam 24 jam terakhir saat dipantau pukul 11.05 WIB. Nilai itu setara Rp 1,36 miliar (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 17.680). Selama sepekan terakhir, harga BTC melambung 21,44%.
Advertisement
Harga bitcoin melonjak tajam mendekati US$ 80.000. Harga bitcoin mencatat kenaikan mingguan terbaik dalam beberapa tahun terakhir. Selain itu, seruan HODL dan keyakinan kalau momentum itu sendiri mampu mendorong harga kripto lebih tinggi.
Emoji roket kembali bermunculan di X, narasi kematian pasar bearish (pasar lesu) kembali mengemuka, dan Michael Saylor mengunggah meme klub malam buatan AI yang mengajak para pengikutnya untuk "membeli Bitcoin, menyimpannya selama 10 tahun, mengabaikan kebisingan pasar, dan bertahan menghadapi ketakutan."
Pemicu awal hal ini sebagian datang dari pasar obligasi. Rencana Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent untuk setidaknya melipatgandakan pembelian kembali (buyback) obligasi pemerintah jangka panjang awalnya menurunkan imbal hasil dan melemahkan dolar, sementara harga emas melonjak.
Kombinasi tersebut menghidupkan kembali apa yang disebut sebagai debasement trade (perdagangan antisipasi penurunan nilai mata uang). Ini gagasan tekanan fiskal yang meningkat dan kondisi keuangan yang lebih longgar memperkuat argumen bagi aset langka di luar sistem moneter pemerintah.
Bagi para pendukung kenaikan harga (bulls) Bitcoin, ini merupakan amunisi makro baru yang datang tepat saat posisi bearish (taruhan harga turun) sudah mencapai titik jenuh.
Pujian Ray Dalio
Bahkan Ray Dalio, sosok yang bukan merupakan pendukung fanatik kripto, turut memuji Bitcoin dengan menyoroti spiral utang yang "tidak berkelanjutan".
"Sangat menyenangkan melihat tanda-tanda kehidupan di pasar kripto. Dan reli kali ini terasa berbeda dibandingkan lonjakan sesaat yang rapuh dalam beberapa bulan terakhir," ujar Penulis buletin "Crypto Is Macro Now", Noelle Acheson.
Harapan terbesar dunia kripto selalu terletak pada gagasan kalau momentum dapat menciptakan momentum lebih lanjut.
Begitulah cara lonjakan harga sebelumnya terus membesar dengan sendirinya. Kenaikan harga memaksa pelaku short-selling (penjual yang bertaruh harga turun) untuk menutup posisi mereka, menarik lebih banyak dana ke dalam ETF spot, mendongkrak saham-saham terkait kripto dan perusahaan yang menyimpan aset digital dalam kas mereka, serta memberikan kapasitas lebih besar bagi perusahaan-perusahaan tersebut untuk menggalang dana dan membeli lebih banyak Bitcoin.
Harga yang lebih tinggi kemudian menarik kembali investor yang sebelumnya wait-and-see, sehingga menambah lapisan permintaan baru.
ETF Bitcoin Mencatat Arus Dana Masuk
Pekan lalu memberikan gambaran nyata pertama mengenai mesin penggerak pasar tersebut yang mulai berputar kembali. Gelombang taruhan bearish dalam jumlah rekor musnah, volume perdagangan spot melonjak, dan ETF Bitcoin mencatatkan arus masuk dana segar.
Latar belakang kebijakan juga turut berperan: Presiden Donald Trump kembali mendesak Kongres untuk mengesahkan Clarity Act, yang memperkuat sikap pemerintah yang secara umum mendukung aset digital sepanjang siklus ini.
"Premi risiko regulasi kini dinilai ulang menjadi lebih rendah setelah Trump kembali mendesak Kongres untuk mengesahkan undang-undang mengenai struktur pasar kripto; hal ini penting karena aturan yang lebih jelas memudahkan institusi untuk menanggung risiko eksposur," ujar Analis Riset di Bitget Wallet, Lacie Zhang.
Kenaikan harga terjadi begitu pesat hingga Bitcoin melampaui rata-rata pergerakan (moving average) 100 hari dan 200 hari, indikator teknis yang banyak dipantau—sementara Relative Strength Index (RSI) 14-hari bergerak masuk ke wilayah yang dianggap overbought (jenuh beli) oleh pelaku pasar.
Prediksi Harga BTC
Sementara itu, di Standard Chartered, Geoffrey Kendrick melihat potensi bagi reli ini untuk terus memacu dirinya sendiri. Ia menyoroti rekor likuidasi posisi short berdasarkan data sejak 2021 serta arus masuk mingguan ke ETF Bitcoin spot yang melebihi US$ 1 miliar.
Ia berpendapat harga yang lebih tinggi dapat menarik arus dana tambahan dan pada akhirnya memancing kembali para pedagang yang menggunakan leverage ke dalam pasar.
"Untuk pertama kalinya tahun ini, muncul risiko bahwa perkiraan akhir tahun saya (sebesar US$ 100.000) terlalu rendah," tulisnya dalam sebuah catatan.
"Begitu investor teringat betapa cepatnya harga dapat melonjak naik, dan setelah kita melewati tanggal 6 Oktober (12 bulan setelah rekor harga tertinggi), lonjakan melampaui rekor tertinggi sepanjang masa (US$ 126.000) sebelum akhir tahun mungkin saja terjadi,” ujar dia.
Namun, satu minggu yang luar biasa tidak membuktikan bahwa momentum kenaikan yang saling memperkuat (flywheel effect) telah kembali berjalan. Mata uang kripto terbesar di dunia ini baru sekadar kembali ke level yang terakhir terlihat pada Mei dan masih berada sekitar 43% di bawah rekor Oktober, serta belum cukup kuat untuk membentuk rentang perdagangan yang baru.
Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.