Bursa Saham Asia Hari Ini Beragam, Investor Menanti Data Inflasi hingga Simposium The Fed

Mengawali pekan ini, bursa saham Asia Pasik bervariasi pada perdagangan Senin, (24/8/2026).

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 24 Agustus 2026, 08:51 WIB
Seorang wanita berjalan melewati layar monitor yang menunjukkan indeks bursa saham Nikkei 225 Jepang dan lainnya di sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo, Jepang. (AP Photo/Eugene Hoshiko)

Liputan6.com, Jakarta - Bursa saham Asia Pasifik bervariasi pada perdagangan saham Senin, (24/8/2026). Pergerakan bursa saham Asia Pasifik itu terjadi di tengah lonjakan imbal hasil obligasi di seluruh dunia.

Mengutip CNBC, indeks Nikkei 225 di Jepang turun 0,10%. Indeks topix mendatar. Indeks Kospi di Korea Selatan merosot 0,71%. Sementara itu, indeks Kosdaq menguat 0,94%. Indeks acuan di Australia naik 0,33%.

Di Amerika Serikat (AS), kontrak berjangka saham turun tipis pada Minggu malam waktu setempat. Pelaku pasar berupaya bangkit dari pekan yang alami koreksi akibat lonjakan tajam imbal hasil atau yield obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) atau treasury. Kontrak berjangka Dow Jones turun 44 poin atau 0,1%. Kontrak berjangka S&P 500 dan Nasdaq masing-masing turun 0,1% dan 0,2%.

Pasar saham tertekan oleh kenaikan imbal hasil obligasi di seluruh dunia. Imbal hasil obligasi Treasury AS tenor 30 tahun sempat melampaui 5,3% pekan lalu, mencapai level tertinggi dalam hampir 20 tahun terakhir. Suku bunga di Jepang, Prancis, dan Jerman juga melonjak ke level tertinggi dalam beberapa tahun.

Investor khawatir, perang AS-Iran akan berkepanjangan, sehingga menjaga harga minyak tetap tinggi dan memicu kenaikan inflasi. Menteri Keuangan Scott Bessent memang mengumumkan langkah-langkah untuk membantu menstabilkan kurva imbal hasil obligasi AS tenor panjang, tetapi dampak positifnya hanya berlangsung singkat.

"Menurut saya, keputusan mendadak Departemen Keuangan untuk meningkatkan pembelian kembali (buyback) obligasi tenor panjang secara taktis pada dasarnya merupakan 'Operation Twist' yang dipimpin oleh Departemen Keuangan yang dirancang untuk merespons perubahan kondisi pasar jangka pendek dan bukan bentuk pelonggaran kuantitatif (QE)," tulis Chief Market Strategist Jefferies, David Zervos.

"Meskipun pembelian kembali tidak menciptakan cadangan dana dan karenanya tidak memiliki mekanisme pencetakan uang secara langsung seperti QE, saya yakin langkah ini membuka ruang bagi ekspansi fiskal dan memberikan efek reflasi yang mirip dengan QE,” ia menambahkan.

 

 

Investor Bakal Cermati Data Inflasi dan Simposium the Fed

Seorang pria berdiri didepan indikator saham elektronik sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo, Jepang. (AP Photo/Shizuo Kambayashi)

Pekan ini, investor akan menerima data inflasi baru berupa indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) Juli pada Rabu. Selain itu, Federal Reserve akan menggelar simposium tahunan di Jackson Hole, Wyoming, tempat Ketua Kevin Warsh diperkirakan menyampaikan pidato.

Kecerdasan buatan (AI) juga akan menjadi sorotan, dengan Nvidia dan Marvell Technology dijadwalkan masing-masing akan melaporkan kinerja keuangan mereka pada Rabu dan Kamis.

Data kinerja tersebut akan dirilis setelah Bloomberg News melaporkan pada akhir pekan lalu mengutip sejumlah sumber, Nvidia telah memberi tahu para kliennya mengenai kenaikan harga lebih dari 15% untuk server yang menggunakan cip Vera Rubin dan Blackwell.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya