El Nino Menguat, 2027 Berpotensi Catat Rekor Tahun Terpanas

Fenomena El Nino terakhir kali terjadi pada periode 2023–2024 dan saat ini kembali terjadi setelah sempat melewati fase netral dan La Nina singkat.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 22 Agustus 2026, 17:29 WIB
Orang-orang melindungi diri dari terik matahari dengan payung di dekat Koloseum selama gelombang panas awal musim di Roma pada Kamis 28 Mei 2026. (Tiziana FABI/AFP)

Liputan6.com, Inggris - El Nino yang sedang berkembang di Samudra Pasifik diperkirakan menjadi yang terkuat dalam beberapa generasi terakhir. Demikian peringatan badan cuaca Inggris, Met Office.

Fenomena iklim alami ini dapat mendorong kenaikan suhu global sekaligus meningkatkan risiko terjadinya cuaca ekstrem. El Nino diperkirakan terus menguat hingga mendekati puncaknya pada akhir tahun ini, sementara pengaruhnya terhadap suhu global biasanya paling terasa pada tahun berikutnya.

Karena itu, di tengah pemanasan global akibat aktivitas manusia, Met Office memperingatkan bahwa 2027 "sangat mungkin" menjadi tahun terpanas yang pernah tercatat di dunia.

Tanda-tanda pengaruh El Nino terhadap cuaca di berbagai belahan dunia juga mulai terlihat. Curah hujan monsun di India berada di bawah rata-rata, sementara aktivitas badai tropis di Samudra Atlantik lebih rendah dari biasanya.

Di Inggris, El Nino dapat meningkatkan risiko musim gugur yang lebih basah dan penuh badai. Prakiraan jangka panjang bahkan mulai menunjukkan adanya periode cuaca yang sangat tidak menentu.

"Kita harus menegaskan bahwa ini merupakan peristiwa yang belum pernah terjadi sebelumnya," kata Kepala Prakiraan Jangka Panjang Met Office Prof Adam Scaife seperti dikutip dari laporan BBC.

"Saya belum pernah melihat sinyal El Nino sekuat ini dalam prakiraan kami."

 

 

 

Apa itu El Nino?

Di tengah gelombang panas ekstrem, polisi mengerahkan meriam air untuk membantu mendinginkan warga di Lapangan Heroes, Budapest, Hungaria. (Dok. AFP)

El Nino adalah fenomena iklim alami yang biasanya terjadi setiap dua hingga tujuh tahun sekali dan berlangsung sekitar satu tahun.

Fenomena ini bermula ketika angin pasat yang biasanya bertiup dari timur ke barat melintasi Samudra Pasifik melemah atau bahkan berbalik arah. Akibatnya, air laut hangat bergerak lebih jauh ke arah timur.

Panas dari laut kemudian dilepaskan ke atmosfer. Kondisi ini mendorong kenaikan suhu global sekaligus mengubah pola curah hujan di berbagai wilayah.

Para ilmuwan biasanya menyatakan El Nino terjadi ketika suhu permukaan laut di wilayah tertentu di Samudra Pasifik mencapai setidaknya 0,5 derajat Celsius di atas rata-rata jangka panjang.

Pengukuran terbaru menunjukkan suhu di wilayah tersebut kini sudah lebih dari 2 derajat Celsius di atas kondisi normal.

Prakiraan terbaru Met Office menunjukkan selisih suhu itu dapat melampaui 3 derajat Celsius pada akhir tahun ini ketika El Nino mendekati puncaknya.

Jika mencapai tingkat tersebut, pemanasan laut akibat El Nino akan menjadi yang tertinggi dalam catatan sejak 1950. Met Office bahkan memperkirakan El Nino yang sedang berkembang ini dapat menjadi yang terkuat sejak Abad ke-19.

Suhu yang sangat tinggi juga ditemukan di lapisan laut yang lebih dalam. Di sejumlah lokasi, suhu pada kedalaman sekitar 100 meter tercatat sekitar 8 derajat Celsius di atas normal.

Cadangan air yang sangat hangat di bawah permukaan laut ini dapat semakin memperkuat El Nino karena terus memasok panas yang dibutuhkan untuk mempertahankan fenomena tersebut.

"Peristiwa ini masih akan terus berkembang selama berbulan-bulan. Itu menjadi salah satu alasan mengapa kami semakin yakin El Nino ini akan mencetak rekor," kata ilmuwan iklim dari kelompok riset AS Berkeley Earth Zeke Hausfather.

Sejumlah lembaga iklim lain bahkan memperkirakan El Nino yang sedang berkembang ini bisa lebih kuat daripada proyeksi Met Office, dengan suhu mencapai 4 derajat Celsius di atas rata-rata.

Jika itu benar-benar terjadi, Hausfather mengatakan, "bukan sesuatu yang mustahil untuk menyebutnya sebagai El Nino terkuat dalam 500 atau bahkan 1.000 tahun terakhir."

Apakah Perubahan Iklim Memperparah El Nino?

Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menyatakan "tidak ada bukti" bahwa perubahan iklim meningkatkan frekuensi ataupun kekuatan El Nino.

Namun, hubungan keduanya masih terus diteliti dan menjadi perdebatan di kalangan ilmuwan.

Laporan Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) pada 2021 menyebut intensitas El Nino tampaknya meningkat sejak 1950 dibandingkan dengan periode yang dapat ditelusuri hingga sekitar tahun 1400.

Meski demikian, catatan sejarah menunjukkan kekuatan El Nino memang naik-turun secara signifikan selama ribuan tahun. Karena itu, sulit memastikan apakah penguatan dalam beberapa dekade terakhir berkaitan langsung dengan pemanasan global.

Yang sudah jelas, El Nino yang sedang berkembang saat ini terjadi ketika suhu Bumi telah lebih tinggi dibandingkan masa lalu. Kondisi tersebut membuat dampaknya terhadap cuaca berpotensi menjadi lebih ekstrem.

Dampak Cuaca di Berbagai Belahan Dunia

Perubahan penyebaran panas di Samudra Pasifik dan pergeseran pola angin di atmosfer dapat memengaruhi cuaca hingga ke berbagai belahan dunia.

Setiap El Nino memiliki karakter yang berbeda sehingga dampaknya terhadap cuaca tidak selalu sama. Namun, tanda-tanda pengaruh El Nino yang sedang berkembang saat ini sudah mulai terlihat.

Di Asia Selatan, misalnya, El Nino dapat membuat curah hujan yang dibawa monsun barat daya lebih sedikit. Sepanjang 2026 sejauh ini, curah hujan monsun di kawasan tersebut memang berada jauh di bawah normal.

Pengaruh El Nino dapat jauh lebih besar di wilayah yang dekat dengan kawasan tropis Samudra Pasifik. Bagian utara Amerika Selatan dan Australia, misalnya, menghadapi risiko kekeringan dan kebakaran hutan yang lebih tinggi.

Di sisi lain, El Nino dapat meningkatkan risiko banjir di sejumlah wilayah, termasuk Peru, Ekuador, dan bagian selatan Amerika Serikat.

Pada kejadian El Nino sebelumnya, perubahan cuaca juga menekan hasil panen berbagai komoditas seperti kopi, beras, dan kakao di banyak negara.

Dampaknya kemudian merembet ke perekonomian. Harga pangan dapat melonjak, sementara gagal panen dan gangguan perdagangan dapat mengacaukan rantai pasok. Secara global, kerugiannya pernah mencapai ratusan miliar dolar AS dalam produk domestik bruto.

Awal bulan ini, Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) memperingatkan bahwa El Nino yang sedang berkembang ini dapat membuat puluhan juta orang di negara-negara berisiko menghadapi kerawanan pangan akut hingga tingkat krisis.

Meski memicu cuaca ekstrem di banyak wilayah, El Nino justru dapat membawa dampak sebaliknya di kawasan lain.

Perubahan pola angin di Karibia dan wilayah tropis Atlantik, misalnya, dapat menghambat terbentuknya badai. Sejauh musim badai tahun ini berlangsung, baru tiga badai yang telah diberi nama tercatat terjadi.

Pengaruh El Nino terhadap cuaca Inggris jauh lebih kecil dibandingkan di wilayah tropis. Fenomena ini diperkirakan tidak berperan besar dalam gelombang panas pemecah rekor yang mendominasi musim panas tahun ini.

Namun, pengaruhnya dapat lebih terasa pada musim gugur dan awal musim dingin. El Nino dapat meningkatkan peluang terjadinya cuaca basah dan penuh badai di wilayah barat laut Eropa, termasuk Inggris.

Menariknya, El Nino juga dapat meningkatkan peluang terjadinya cuaca dingin menjelang akhir musim dingin, meski hubungan antara keduanya tidak terlalu kuat.

2027 "Sangat Mungkin" Jadi Tahun Terpanas

Seseorang berlindung di bawah payung di depan museum Louvre di Paris saat gelombang panas yang memecahkan rekor melanda sebagian besar Eropa Barat pada Kamis 28 Mei 2026. (SIMON WOHLFAHRT/AFP)

Suhu rata-rata global telah meningkat sekitar 1,4 derajat Celsius sejak akhir Abad ke-19 akibat aktivitas manusia, termasuk pembakaran bahan bakar fosil.

Ketika El Nino terjadi, laut melepaskan lebih banyak panas ke atmosfer. Kondisi ini dapat mendorong suhu global naik selama periode El Nino.

Ilmuwan iklim Met Office Nick Dunstone mengatakan, pengaruh tersebut biasanya paling terasa pada tahun kalender setelah El Nino mencapai puncaknya pada musim dingin. Karena El Nino yang sedang berkembang ini diperkirakan mencapai puncak pada musim dingin 2026–2027, dampak kenaikan suhunya akan lebih terasa sepanjang 2027.

"Karena itu, 2027 sangat mungkin menggantikan 2024 sebagai tahun terpanas yang pernah tercatat," katanya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terbaru

    Berita Terkini Selengkapnya