Liputan6.com, Jakarta - Perbedaan data jumlah bantuan logistik untuk korban gempa Flores memicu ketegangan antara Camat Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur, Agustinus Supratman, dan seorang staf Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Agustinus bahkan menolak menandatangani berita acara penyerahan bantuan karena menilai jumlah barang yang tercatat dalam dokumen tidak sesuai dengan kondisi fisik logistik yang tersedia di posko pengungsian.
Advertisement
Perselisihan tersebut terjadi di lokasi pengungsian Kecamatan Lamba Leda Utara, Jumat (21/8/2026), atau hari keenam setelah gempa bermagnitudo 7,7 mengguncang Flores.
Dalam video yang beredar di media sosial, Agustinus terlihat berdebat dengan seorang petugas BNPB. Ia mengaku tertekan karena harus mengatur distribusi bantuan untuk masyarakat di 11 desa dengan total sekitar 21.171 jiwa."
Saya sudah tidak kuat lagi, saya stres, pak datang hanya tekan saya. Kita urus masyarakat, jangan bawa jabatan di sini,” ucap Agustinus dalam video tersebut.
Agustinus juga sempat membanting logistik di depan tenda pengungsian sambil meminta petugas BNPB melihat langsung kondisi bantuan yang tersedia."
"Bawa pak punya bantuan, ini pak punya bantuan, saya stres ditekan,” katanya.
Sejumlah warga yang berada di lokasi kemudian meminta para kepala desa turut hadir. Mereka menyebut sebagian besar pekerjaan penanganan di lapangan dilakukan oleh camat.
“Kasihan, pak camat yang atur setengah mati di sini,” celetuk salah seorang warga.
Camat Ungkap Rincian Bantuan
Saat dikonfirmasi, Agustinus menjelaskan ketegangan tersebut dipicu informasi yang menurutnya tidak sesuai dengan kondisi bantuan yang diterima Kecamatan Lamba Leda Utara.
Ia menyebut klaim bahwa bantuan logistik dari pemerintah pusat telah mengalir dalam jumlah besar tidak sesuai dengan kondisi di lapangan.
"Kenyataan bantuan yang diterima saat ini, 300 tas paket inpres yang isinya gula satu kg, daun teh satu kotak, susu Indomilk satu kotak, margarin dua bungkus, kopi kapal api 350 gram, beras merek boneka sawah kurang lebih 2 kg, ikan sarden satu kaleng,” ungkapnya.
Berdasarkan data pihak kecamatan, bantuan paket sembako yang diterima baru sebanyak 300 tas. Setiap paket berisi satu kilogram gula, satu kotak teh, satu kotak susu Indomilk, dua bungkus margarin, 350 gram kopi Kapal Api, sekitar dua kilogram beras merek Boneka Sawah, dan satu kaleng ikan sarden.
Selain sembako, bantuan nonpangan yang diterima di posko kecamatan terdiri atas lima karung selimut atau total 3.375 lembar, lima koli matras atau 1.250 lembar, 16 ikat telur, 20 dus air minum, 20 tenda keluarga, dan 50 paket Hygiene Kit.
Perbedaan data tersebut kemudian memicu adu mulut antara Agustinus dan petugas BNPB.
Agustinus mengaku tersulut emosi karena petugas BNPB terus menyampaikan bahwa bantuan yang telah disalurkan dalam jumlah besar. Ia kemudian mengajak petugas tersebut melihat langsung kondisi logistik di posko.
Menurut Agustinus, seluruh bantuan yang masuk ke kecamatan langsung didistribusikan secara transparan kepada 11 desa terdampak. Ketegangan semakin memuncak ketika pihak BNPB meminta Agustinus menandatangani berita acara penyerahan barang.
Agustinus menolak menandatangani dokumen tersebut karena menilai jumlah fisik bantuan yang tersedia di posko lebih sedikit dibandingkan jumlah yang tercantum dalam berita acara.