Liputan6.com, Jakarta - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) meluas di sejumlah daerah Indonesia, salah satunya di Kalimantan. Kebakaran memicu kabut asap pekat yang mengganggu aktivitas masyarakat.
Wahyu, seorang warga di Palangka Raya mengeluhkan jarak pandang yang terbatas bahkan saat di siang hari. Asap tebal membuat siang menjadi seperti malam di Tanah Borneo.
Advertisement
"Siang sekarang gelap penuh asap, jarak pandangan terbatas, sudah banyak yang kena ISPA (Infeksi Saluran Peranapasan Akut)," kata Wahyu, Kamis (20/8/2026).
Bahkan, asap hasil kebakaran hutan yang terjadi di hampir seluruh Kalimantan terjadi sejak bulan Juli. Kondisi ini membuat warga khawatir akan dampak Kesehatan yang ditimbulkan kabut asap.
"Asap sudah mulai dari Juli. Awalnya pagi sama malam saja, sekarang siang juga sudah kabut," kata Koordinator Youth Act Kalimantan, Sarasi Silvester Sinurat.
Fenomena kabut asap tak lepas dari banyaknya titik panas (hotspot) di Kalimantan. Wilayah Kalimantan Barat menjadi daerah dengan titik panas terbanyak.
Desa Tumbang Nusa di Kecamatan Jabiren Raya, Kabupaten Pulang Pisau, Kalteng, menjadi daerah yang paling terdampak asap.
"Karena angin membawa asap ke wilayah ini," katanya.
Titik Kebakaran Hutan Kalimantan
Di Palangka Raya misalnya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat mencatat ada 298 kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla), selama periode 1 Juni hingga 19 Agustus 2026.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Palangka Raya, Heri Fauzi melaporkan, ratusan kejadian tersebut mengakibatkan sekitar 261,41 hektare lahan terbakar, yang titik apinya tersebar di sejumlah kecamatan.
"Kejadian terbanyak berada di Kecamatan Jekan Raya diikuti wilayah di Kecamatan Sabangau," katanya.
Sementara itu, Juru Kampanye Pantau Gambut, Putra Saptian, membeberkan eskalasi karhutla yang terlihat dari lonjakan titik panas di sejumlah wilayah.
Kalimantan Barat mencatat 4.874 titik panas pada Juli 2026, meningkat 1.897 persen dibandingkan Juni. Papua Selatan menyusul dengan 4.220 titik panas, atau naik 457 persen.
Lonjakan juga terjadi di Kalimantan Tengah. Sejak Januari 2026, jumlah titik panas di wilayah tersebut relatif stabil di kisaran 200 titik per bulan. Namun, jumlahnya mencapai 2.821 titik sepanjang Juli 2026.
“Selama perlindungan gambut terus dinegosiasikan, krisis ini akan terus memakan korban,” ujar Putra.
Penderita ISPA Tembus 21 Ribu Orang
Masalah lain muncul karena masyarakat masih kesulitan mendapatkan masker dan layanan kesehatan. Hal ini membuat Youth Act Kalimantan menginisiasi rumah aman asap di Desa Pilang.
"Ini merupakan salah satu solusi yang bisa kami berikan untuk masyarakat, dimana saat masyarakat tidak memiliki akses memadai untuk mendapatkan udara yang sehat, kami menyediakan rumah aman asap ini," katanya.
masyarakat makin terbiasa menghirup asap kebakaran hutan padahal itu sangat berbahaya. Jika disuruh mengungsi, warga juga bingung mau mengungsi kemana karena hampir semua wilayah di Kalimantan terdampak asap kebakaran hutan dan lahan.
"Belum ada yang mengungsi, karena bingung mau ke mana lagi. Sekarang musim kering, penghasilan dari hutan juga sudah tidak ada," katanya.
Sarasi mengungkap data, dari hasil penelitian yang dilakukan Youth Act Kalimantan, angka penderita ISPA hingga Agustus di Kalimantan sudah mencapai 21.000 orang.
"Angkanya naik drastis, apalagi kebanyakan masyarakat adat yang jauh dari apotek dan pelayanan kesehatan," katanya.
Api Sulit Padam, Lahan Gambut jadi Masalah
Sebagai relawan, Sarasi tahu betul betapa sulitnya proses pemadaman api kebakaran hutan dan lahan, terlebih lahan gambut. Menurut Sarasi api sulit dipadamkan karena personel terbatas apalagi medan yang sulit untuk dijangkau.
"Kami pagi sampai sore bekerja padamkan api, sudah capek istirahat, malam karena tidak ada personel lagi malam api besar lagi," katanya.
Sarasi menegaskan, pihaknya semua elemen yang ada sudah dikerahkan untuk berjibaku memadamkan api kebakaran, hanya saja personelnya kurang, termasuk dari pemerintah.
"Kelemahan kita di gambut karena apinya gak kelihatan tuh di atas, karena apinya menjalar di bawah dan biasanya hanya asap yang kelihatan di atas, jadi kalau di gambut dia membara dulu di bawah baru ke atas. Dan kita belum tahu tuh kedalaman apinya, karena kan kita hanya melihat asap," katanya.
Hambatan lainnya, menurut Sarasi adalah sumber air yang terbatas, karena kekeringan di wilayah Kalteng misalnya, sudah sangat parah. Hal itu dapat dilihat dari kondisi sungai-sungai di Kalteng, terutama Sungai Kahayang yang sudah kering, sudah sangat jauh dari pinggir yang biasanya.
"Bagi kami lembaga non-profit, kendala kami kesulitan bahan bakar kita harus antre dulu. Dalam proses antre itu juga kita kan membuang waktu. Banyak waktu terbuang yang seharusnya kita berada di lapangan," katanya.
Tantangan lainnya yang dihadapi relawan Youth Act adalah saat kondisi sudah gelap, titik api sulit terlihat, sehingga ada risiko untuk menginjak bara api.
"Memang sejauh ini belum ada pemadaman yang sampai malam hari," katanya.
Ganggu Ekosistem Hutan
Pakar Kehutanan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Tatag Muttaqin mengatakan karhutla terjadi berulang kali membuat ekosistem kehilangan kesempatan untuk pulih secara alami.
“Hutan yang terbakar berulang kali dapat mengalami perubahan struktur dan komposisi vegetasi. Jenis-jenis yang sensitif terhadap api bisa semakin berkurang, sementara spesies yang lebih toleran terhadap kondisi terbuka dan terganggu dapat mendominasi,” ujar Tatag kepada Liputan6.com, Kamis (20/8/2026).
Menurut Tatag, ancaman tersebut semakin serius apabila kebakaran terjadi di lahan gambut. Api dapat merusak lapisan gambut sekaligus mengganggu fungsi hidrologinya. Ketika fungsi tata air terganggu, gambut menjadi semakin kering dan lebih mudah terbakar.
“Ini kemudian menciptakan semacam lingkaran. Gambut terbakar, fungsi hidrologinya terganggu, menjadi lebih kering, lalu semakin mudah terbakar kembali,” kata Tatag.
Karhutla yang terjadi berulang kali juga berdampak pada keanekaragaman hayati. Kehilangan habitat dan sumber pakan dapat membuat satwa berpindah, kehilangan tempat hidup, bahkan mengalami penurunan populasi.
Dari sisi iklim, kebakaran hutan dan gambut juga melepaskan karbon dalam jumlah besar ke atmosfer. “Artinya, karhutla bukan hanya persoalan lokal, tetapi juga berkaitan dengan persoalan perubahan iklim secara global,” ucap Tatag.