3.002 Gempa Susulan Guncang NTT, Warga Dibayangi Cemas dan Sulit Tidur

Gempa susulan yang terus terjadi membuat warga terdampak NTT sulit merasa aman, mudah cemas, hingga mengalami gangguan tidur.

oleh Tisha Maulida FazriahDiterbitkan 20 Agustus 2026, 17:02 WIB
Warga mencuci peralatan masak di samping tenda di sebuah lapangan terbuka di Marapokot, Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, Senin, 17 Agustus 2026, (AFP/ Juni Kriswanto)

Liputan6.com, Jakarta - Gempa susulan yang terus terjadi di Nusa Tenggara Timur (NTT) tidak hanya mengancam keselamatan fisik warga, tetapi juga dapat memengaruhi kondisi psikologis masyarakat terdampak.

Gempa yang berulang membuat sebagian warga terus berada dalam kondisi waspada karena khawatir guncangan kembali terjadi. Kondisi tersebut dapat memicu kecemasan, mudah terkejut, sulit tidur, hingga kesulitan berkonsentrasi.

Psikolog klinis Diah Nurayu mengatakan seseorang yang pernah mengalami gempa besar cenderung lebih sensitif terhadap tanda-tanda bahaya di lingkungan sekitarnya, terutama ketika belum merasa aman.

"Setelah mengalami gempa yang besar otak itu akan menjadi lebih sensitif terhadap tanda-tanda bahaya, karena memang lingkungannya dirasa belum aman. Maka dari itu, seseorang yang berada di lokasi bencana atau mungkin orang yang mengalami bencana biasanya lebih mudah merasa terkejut, cemas, sulit tidur, mungkin juga mengalami kesulitan fokus dan akhirnya terus-menerus memantau keadaan lingkungan sekitar," ucap Diah saat dihubungi Liputan6.com, Rabu (19/8/2026).

Kondisi tersebut semakin berat ketika gempa susulan terus terjadi. Menurut Diah, frekuensi gempa dan ketidakpastian mengenai kapan guncangan berikutnya terjadi dapat membuat korban sulit mendapatkan kesempatan untuk benar-benar merasa aman.

“Jadi bukan hanya gempa, besarnya gempa yang berpengaruh, tapi juga kita bisa lihat dari frekuensi gempanya, ketidakpastian yang sedang dihadapi dan juga pengalaman sebelumnya saat gempa besar terjadi,” ujar psikolog lulusan Universitas Indonesia (UI) itu.

3.002 Gempa Susulan

Berdasarkan hasil monitoring Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) hingga 19 Agustus 2026 pukul 14.00 WIB, tercatat 3.002 aktivitas gempa bumi susulan di NTT.

Gempa susulan tersebut memiliki magnitudo antara 1,1 hingga 6,2. BMKG menyebut aktivitas tersebut merupakan bagian dari proses pelepasan energi setelah gempa utama bermagnitudo 7,7.

BMKG juga memprediksi aktivitas gempa susulan masih dapat terjadi dalam beberapa waktu ke depan.

Situasi tersebut membuat masyarakat terdampak harus menghadapi ketidakpastian yang dapat memengaruhi kondisi psikologis mereka.

 

 

 

Reaksi Stres Akut Tak Sama dengan PTSD

Pengungsi gempa NTT. (Istimewa)

Diah mengingatkan masyarakat agar tidak langsung menganggap rasa takut, cemas, sulit tidur, atau mudah terkejut setelah bencana sebagai Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD).

Menurutnya, reaksi tersebut dapat menjadi bagian dari respons stres akut setelah mengalami bencana.

“Perlu dibedakan antara PTSD dengan reaksi stres akut setelah bencana. Jadi memang pada fase awal setelah adanya bencana wajar sekali sebetulnya untuk merasa takut, cemas, mungkin juga jadi mudah terkejut, kesulitan tidur, atau mungkin jadi mengalami ruminasi, yaitu memikirkan secara terus menerus kejadian yang merupakan respon akibat dari bencana tersebut. Namun, tidak berarti setiap orang yang mengalami reaksi tersebut langsung didiagnosis PTSD,” tuturnya.

Dia menjelaskan PTSD tidak dapat didiagnosis hanya berdasarkan gejala yang muncul setelah bencana. Diperlukan pemeriksaan lebih lanjut oleh tenaga profesional untuk memastikan kondisi tersebut.

“Memang untuk bisa didiagnosis PTSD ini perlu ada pemeriksaan yang lebih lanjut, tapi sangat wajar sekali kalau mereka mengalami yang disebut dengan reaksi stres akut pascabencana,” jelasnya.

Namun, risiko masalah psikologis dapat meningkat apabila korban tidak mendapatkan penanganan dan dukungan yang memadai.

“Risiko masalah psikologis ini mungkin juga akan semakin meningkat, jika misalnya ada anggota keluarga yang mungkin hilang atau meninggal akibat dari adanya bencana tersebut mungkin juga mengalami luka tidak berdaya dan juga kesulitan untuk mendapatkan dukungan sosial dan lainnya,” tambah Diah.

 

Kewaspadaan Terus-Menerus Bisa Menguras Tubuh

Menurut Diah, kondisi waspada yang berlangsung terus-menerus juga dapat berdampak terhadap kondisi fisik korban.

Ketika tubuh terus berada dalam kondisi siap menghadapi ancaman, seseorang dapat kesulitan beristirahat dan memulihkan energi.

“Memang kewaspadaan terus menerus ini ‘kan mengeluarkan energi secara terus-menerus, jadi energi psikologis maupun fisiologis ketika dia terus-terusan berada dalam kondisi harus siap kalau ada gempa susulan sewaktu-waktu, ini akhirnya membuat tubuh kita benar-benar sulit untuk merasa aman dan istirahat dalam jangka waktu tertentu," katanya.

Kondisi tersebut, lanjut Diah, dapat memicu kelelahan, gangguan tidur, kesulitan berkonsentrasi, hingga perubahan emosional seperti mudah tersinggung.

"Apalagi kalau bencana ini bisa menyebabkan kesulitan tidur dan kalau ini memang terus-terusan terjadi ini juga membuat seseorang semakin waspada jadi kelelahannya akan semakin terasa seperti itu,” tandas Diah.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya