Erupsi Anak Krakatau Meningkat, Ada Kaitannya dengan Gempa NTT?

Aktivitas Gunung Anak Krakatau meningkat dan memicu pertanyaan soal kaitannya dengan gempa NTT. Petugas pemantauan memastikan keduanya tidak berhubungan.

oleh Ardi MuntheDiterbitkan 20 Agustus 2026, 15:40 WIB
Aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK) di perairan Selat Sunda, Lampung Selatan, kembali meningkat dalam beberapa waktu terakhir. (Liputan6.com/Istimewa).

 

Liputan6.com, Jakarta - Aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK) di perairan Selat Sunda, Lampung Selatan, kembali meningkat dalam beberapa waktu terakhir. Rentetan erupsi ini memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat, salah satunya soal kemungkinan kaitannya dengan gempa bumi yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT).

Namun, Petugas Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau di Desa Hargo Pancuran, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, Andi Suwardi, memastikan peningkatan aktivitas GAK tidak berkaitan dengan gempa NTT.

Menurut Andi, aktivitas vulkanik Anak Krakatau sudah meningkat sebelum gempa NTT terjadi.

“Tidak ada kaitannya. Sebelum NTT juga Krakatau sudah aktif. Ini karena aktivitas Krakatau memang sedang meningkat,” kata Andi, Kamis (20/8/2026).

Andi menjelaskan, peningkatan aktivitas Anak Krakatau lebih berkaitan dengan proses vulkanik di dalam tubuh gunung api. Karena itu, rangkaian erupsi yang terjadi tidak dapat disebut sebagai dampak gempa bumi di NTT.

Bukan Semata karena Cincin Api

Meningkatnya aktivitas Anak Krakatau juga dikaitkan sebagian masyarakat dengan posisi Indonesia yang berada di kawasan Cincin Api Pasifik (Ring of Fire).

Andi meluruskan anggapan tersebut.

Menurut dia, kawasan Cincin Api memang dikenal sebagai wilayah dengan aktivitas gunung api dan tektonik yang tinggi. Namun, setiap gunung api memiliki sistem magma masing-masing.

“Ini hanya jalur. Tiap gunung api punya dapur magmanya sendiri,” sebutnya.

Dengan demikian, aktivitas Anak Krakatau tidak dapat dijelaskan hanya karena gunung tersebut berada di kawasan Cincin Api Pasifik.

Sepanjang 2026, aktivitas Anak Krakatau tercatat cukup intens. Berdasarkan data MAGMA Indonesia, sedikitnya 51 erupsi tercatat sejak Januari hingga Juli 2026.

Aktivitas kemudian kembali meningkat pada Agustus. Pada 16-17 Agustus 2026, sejumlah erupsi kembali terjadi dalam waktu berdekatan.

Frekuensi erupsi tersebut juga memunculkan kekhawatiran mengenai kemungkinan adanya akumulasi energi yang dapat memicu letusan lebih besar.

Andi menjelaskan, energi vulkanik yang cukup untuk mendorong magma ke permukaan akan dilepaskan melalui erupsi.

“Itu karena energinya cukup untuk mendorong magma ke permukaan sudah dikeluarkan. Nanti energinya berkurang dan dikumpulkan lagi,” katanya.

Sebaliknya, jika energi vulkanik tidak dilepaskan dalam waktu cukup lama, potensi terjadinya erupsi yang lebih besar tetap ada.

“Kalau energinya lama tidak dikeluarkan, bisa menyebabkan erupsi yang agak besar atau besar,” ungkapnya.

Karena itu, perkembangan aktivitas Anak Krakatau terus dipantau, termasuk kondisi kegempaan dan perubahan visual gunung.

 

 

 

 

 

Abu Vulkanik Capai Pulau Sebesi

Gunung Anak Krakatau tercatat erupsi sebanyak empat kali pada Minggu, 16 Agustus 2026. (Liputan6.com/ Dok PVMBG)

Peningkatan aktivitas Anak Krakatau mulai dirasakan masyarakat di wilayah sekitar, terutama Pulau Sebesi, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan.

Debu vulkanik berwarna hitam terbawa angin hingga mencapai permukiman warga. Abu tersebut dilaporkan mengotori halaman dan bagian luar rumah.

Dinas Kesehatan Lampung Selatan telah membagikan masker kepada warga sebagai langkah antisipasi paparan abu vulkanik.

Masyarakat juga diimbau mengenakan masker dan kacamata ketika harus beraktivitas di luar rumah. Aktivitas di luar ruangan sebaiknya dikurangi, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lanjut usia, dan ibu hamil.

Saat ini Gunung Anak Krakatau masih berstatus Level III atau Siaga.

Andi meminta masyarakat tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi, termasuk kabar yang mengaitkan aktivitas Anak Krakatau dengan gempa di wilayah lain.

Masyarakat diminta mengikuti informasi resmi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) serta instansi terkait.

Dengan status Siaga, masyarakat, wisatawan, pengunjung, maupun pendaki dilarang mendekati atau melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif.

“Lebih baik jangan ke sana dulu selama status Siaga,” kata Andi.

 

Aktivitas Anak Krakatau Meningkat Sejak Juli

Petugas Puskesmas melalui Pustu di Pulau Sebesi telah membagikan masker kepada warga yang terdampak abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. (Liputan6.com/Istimewa).

Aktivitas erupsi Anak Krakatau kembali terekam pada Juli 2026 dengan kolom abu mencapai sekitar 200 meter di atas puncak. Sepanjang Juli tercatat sekitar 17 kali letusan dengan tinggi kolom abu berkisar 100-400 meter.

Status Gunung Anak Krakatau kemudian dinaikkan dari Level II atau Waspada menjadi Level III atau Siaga pada 2 Juli 2026.

Memasuki Agustus, aktivitas kembali meningkat. Pada 16 Agustus terjadi sejumlah erupsi susulan, sedangkan pada 17 Agustus MAGMA Indonesia mencatat sekitar 19-20 kali erupsi dalam sehari.

Pada 17 Agustus, erupsi tercatat memiliki amplitudo maksimum 30-64 milimeter dengan durasi 21-197 detik. Kolom abu teramati mencapai 400 meter di atas puncak atau sekitar 557 meter di atas permukaan laut.

Arah sebaran abu antara lain menuju utara dan barat laut. Material vulkanik tersebut kemudian terbawa angin hingga mencapai Pulau Sebesi.

Hingga kini, aktivitas Gunung Anak Krakatau masih terus dipantau untuk mengantisipasi perubahan aktivitas vulkanik dan memastikan masyarakat memperoleh informasi yang akurat mengenai kondisi gunung.

 

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya