Liputan6.com, Jakarta - Seorang ahli biologi Rusia, Ilya Ivanov berusaha untuk menyilangkan manusia dan simpanse (Humanzee) pada 1920-an.
Eksperimen ini terjadi di tengah perdebatan publik tentang evolusi manusia dan hukum Tennessee pada masa itu, yang melarang guru sekolah negeri mengajarkan manusia berasal dari "makhluk kehidupan yang lebih rendah".
Advertisement
Dikutip dari Popsci, Selasa (18/8/2026), Ivanov berargumen bahwa keberhasilan menciptakan “humanzee” akan membuktikan kontinuitas biologis antara kedua spesies tersebut. Para ilmuwan menyebut proses ini sebagai hibridisasi interspesifik.
Para sejarawan mengemukakan beberapa alasan terkait eksperimen Ivanov. Langkah ini mungkin diharapkan sebagai propaganda anti-agama bagi Uni Soviet yang memiliki keyakinan ateis atau ingin menciptakan "Manusia Soviet Baru" secara biologis.
Eksperimen itu dimulai oleh Ivanov pada 1926 di Guinea Prancis (sekarang Guinea). Di sana, ia menangkap beberapa simpanse dewasa hidup untuk menginseminasi betina dengan sperma manusia.
Ia juga sempat ingin menginseminasi wanita lokal dengan sperma kera tanpa persetujuan mereka dengan dalih pemeriksaan medis namun dihalangi oleh otoritas kolonial Prancis.
Eksperimen Ivanov tidak ada yang berhasil dan berakhir kembali ke Uni Soviet. Ia kembali dengan membawa 20 simpanse dan menyisakan empat ekor yang selamat. Ivanov sempat merekrut lima wanita sukarelawan untuk melanjutkan eksperimennya, tetapi tidak dilanjutkan karena hanya tersisa satu kera (orangutan).
Pada 1930, Ivanov ditangkap dan diasingkan atas tuduhan politik yang tidak berkaitan dengan eksperimennya. Motivasi Ivanov melakukan eksperimen yang berkaitan dengan gagasan hierarki ras ini tidak pernah terungkap secara pasti.
Etiskah Menciptakan "Humanze"?
James Mallet, ahli biologi evolusi di Universitas Harvard menjelaskan bahwa penciptaan hibrida manusia-simpanse sangat tidak etis karena berpotensi menimbulkan masalah kepada keturunan yang dihasilkan.
Mallet juga menjelaskan penciptaan humanzee secara teoritis mungkin terjadi namun tidak mungkin secara biologis karena terdapat divergensi evolusi kurang lebih 6 juta tahun.
Hibridisasi bisa terjadi secara alami di alam liar meskipun batas reproduksi antarspesies umumnya mencegah terjadinya pembuahan.
Mallet memperkirakan sekitar 10% spesies hewan dan 25% spesies tumbuhan bisa berhibridisasi. Misalnya, buah pisang yang diperjual belikan, liger (harimau-singa), serta perkawinan silang antara Neanderthal dan Homo sapiens di masa lalu.