Liputan6.com, Jakarta - Duta Besar (Dubes) Kerajaan Belanda untuk Indonesia Marc Gerritsen mengunjungi RT 008 RW 004, Kelurahan Malaka Jaya, Duren Sawit, Jakarta Timur, bertepatan dengan perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia (RI), Senin (17/8/2026).
Dubes Gerritsen datang bersama istrinya, Yvonne, keluarga, serta jajaran Kedutaan Besar (Kedubes) Kerajaan Belanda. Mereka membaur bersama warga untuk melihat langsung berbagai inovasi lingkungan dan pemberdayaan masyarakat yang dikembangkan dari tingkat RT.
Advertisement
Kunjungan tersebut turut didampingi Lurah Malaka Jaya Eko Purnomo Asih, Ketua RT 008 RW 004 Malaka Jaya Taufiq Supriadi Yusuf, serta warga setempat.
Dubes Gerritsen bersama keluarga duduk bersama warga di gang sempit dengan beralaskan terpal. Mereka mendengarkan berbagai upaya yang dilakukan lingkungan permukiman tersebut dalam menghadapi persoalan sampah, pangan, air, energi, perubahan iklim, hingga ketahanan masyarakat.
Di bawah kepemimpinan Taufiq, lingkungan tersebut mengembangkan konsep Survival Architecture Indonesia/Eco Edufarm Indonesia, yakni pendekatan ketahanan masyarakat dengan sistem yang saling terhubung atau closed-loop system.
Salah satu penerapannya dimulai dari pengelolaan sampah organik rumah tangga. Sampah organik dimanfaatkan untuk budi daya maggot yang kemudian digunakan sebagai pakan ikan dan ayam.
Ayam menghasilkan telur setiap 25 jam untuk dikonsumsi. Sementara itu, berbagai sisa dari proses tersebut kembali dimanfaatkan untuk tanaman dan ekosistem lain sehingga jumlah residu yang dibuang semakin kecil.
Ekosistem itu kemudian berkembang dengan berbagai inovasi lain, mulai dari pengolahan sampah, budi daya ikan dan ayam, penghijauan dan tanaman produktif, pengelolaan air, energi terbarukan, hingga pemberdayaan ekonomi warga.
Taufiq mengatakan kunjungan Dubes Belanda tersebut memiliki arti khusus karena berlangsung tepat pada HUT ke-81 RI.
"Kemerdekaan bagi kami juga berarti kemampuan masyarakat untuk semakin mandiri. Mandiri mengelola sampahnya, menjaga airnya, menghasilkan sebagian pangannya, menggunakan energi dengan lebih bijaksana, dan membangun ketahanan bersama dari lingkungan terkecil," tutur Taufiq.
Menurut Taufiq, berbagai kegiatan yang dilakukan warga RT 008 berangkat dari gagasan bahwa persoalan dunia dapat mulai diselesaikan dari unit masyarakat yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari.
"Kami bekerja dari tempat yang kecil. Tetapi ternyata dari tempat yang sempit, suara dan aksi kita bisa terdengar ke mana-mana. Hari ini seorang Duta Besar, keluarga dan jajarannya datang langsung untuk melihat apa yang dilakukan warga," kisah Taufiq.
Lurah Eko mengapresiasi konsistensi warga RT 008 RW 004 dalam membangun berbagai inovasi lingkungan dan sosial.
Menurut Eko, berbagai upaya tersebut tidak hanya memberikan manfaat bagi lingkungan setempat, tetapi juga membawa nama Malaka Jaya, Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur, hingga Indonesia ke tingkat internasional.
"Apa yang dilakukan RT 8 RW 4 Malaka Jaya ini luar biasa. Mereka membantu Malaka Jaya, ikut menjaga Duren Sawit dan Jakarta Timur, menjaga Jakarta, bahkan turut mengharumkan nama bangsa Indonesia di kancah dunia. Sudah perwakilan dari 10 negara datang ke lingkungan ini. Tentu ini menjadi kebanggaan bagi kami," ujar Eko.
Hingga kini, lingkungan RT 008 RW 004 Malaka Jaya telah menerima kunjungan dan perhatian dari berbagai pihak, termasuk perwakilan dan masyarakat dari sekitar 10 negara.
Lencana Simbol Persahabatan
Di akhir kunjungan, Dubes Gerritsen menyerahkan lencana bergambar bendera Belanda dan Indonesia kepada Eko. Lencana tersebut kemudian disematkan oleh Taufiq di bagian leher baju Lurah Malaka Jaya, disaksikan keluarga Dubes Belanda, jajaran Kedubes Belanda, pengurus RT, dan warga.
Taufiq menyebut momen tersebut sebagai bentuk people-to-people diplomacy.
"Hari ini, tepat pada Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, kami tidak hanya berbicara mengenai sejarah. Kami berbicara mengenai masa depan tentang bagaimana Indonesia, Belanda, dan masyarakat dunia bisa bersama-sama menjaga bumi untuk generasi berikutnya," ujar Taufiq.
Menurut Taufiq, kunjungan Dubes Belanda tersebut semakin memperkuat keyakinan bahwa perubahan besar tidak selalu harus dimulai dari proyek yang besar.
"Kalau persoalan lingkungan terlalu besar untuk kita selesaikan sekaligus, jangan mulai dari dunia. Mulailah dari diri sendiri, dari rumah, lalu dari RT. Kami percaya, dari situlah perubahan bisa tumbuh," ungkapnya.
Bagi warga RT 008 RW 004 Malaka Jaya, kunjungan dan perhatian dari berbagai pihak tersebut bukan semata-mata soal pengakuan internasional, melainkan bukti bahwa pengetahuan dan inovasi masyarakat lokal Indonesia memiliki sesuatu yang dapat dibagikan kepada dunia.