China Bikin Robot yang Bisa Backflip, Apa Bisa Hasilkan Uang?

Robot humanoid China semakin canggih dan murah. Namun, investor masih mempertanyakan kemampuan robot menghasilkan keuntungan dari pekerjaan nyata.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 18 Agustus 2026, 15:00 WIB
Event yang diselenggarakan pada Minggu 19 April 2026 di Beijing, China, diikuti hampir 20 perusahaan robotika dan lebih dari 70 tim robotika yang telah melakukan uji coba intensif sebelum hari perlombaan. Tampak dalam foto, sebuah robot memulai perlombaan Beijing E-Town Half Marathon dan Humanoid Half Marathon yang diadakan di pinggiran Beijing pada Minggu 19 April 2026. (AP Photo/Ng Han Guan)

Liputan6.com, Jakarta - Robot humanoid buatan China semakin menarik perhatian setelah Unitree Robotics, salah satu produsen robot humanoid paling dikenal di negara tersebut, bersiap melantai di bursa.

Namun, di tengah antusiasme investor, muncul pertanyaan besar: apakah robot yang mampu melakukan backflip dan gerakan kung fu itu sudah siap menjalankan pekerjaan yang benar-benar menghasilkan uang?

Dikutip dari CNBC, Selasa (18/8/2026), startup yang berbasis di Hangzhou tersebut menetapkan harga penawaran umum perdana (IPO) sebesar 150,8 yuan atau sekitar US$ 22,4 per saham.

Dari aksi korporasi tersebut, Unitree berhasil mengumpulkan dana sekitar US$ 900 juta dan memiliki valuasi sekitar 61 miliar yuan atau sekitar US$ 9 miliar.

Investor memperkirakan harga saham Unitree akan melonjak pada hari pertama perdagangan. Jika terealisasi, Unitree akan menjadi perusahaan robot humanoid pertama yang melantai di bursa China daratan.

Minat investor ritel juga sangat besar. Penawaran Unitree di pasar STAR Shanghai mengalami kelebihan permintaan lebih dari 5.000 kali. Tingkat keberhasilan investor untuk mendapatkan saham hanya sekitar 0,018 persen.

IPO tersebut juga menarik sejumlah investor strategis, termasuk startup AI DeepSeek.

Di pasar kripto, kontrak perpetual yang terkait dengan Unitree sebelum IPO bahkan diperdagangkan sekitar empat kali lipat dari harga IPO pada Jumat. Hal ini menunjukkan tingginya spekulasi terhadap perusahaan robot tersebut sebelum sahamnya resmi diperdagangkan.

Unitree dikenal lewat robot yang mampu melakukan tendangan kung fu, menari, hingga kembali berdiri setelah terjatuh. Namun, kemampuan tersebut belum otomatis membuktikan bahwa robot dapat digunakan secara luas untuk pekerjaan komersial.

"Untuk robot humanoid ini, sejujurnya, mereka sangat menarik. Mereka bisa menari dan sebagainya - tetapi saya belum pernah melihat mereka melakukan pekerjaan rumah tangga yang nyata," kata Hao Hong, Managing Partner Lotus Asset Management.

 

Pertumbuhan Jumlah Robot Humanoid di Dunia

Ajang ini sekaligus menunjukkan tekad China untuk memimpin perlombaan global dalam teknologi mutakhir robot humanoid. (Pedro PARDO/AFP)

Dalam prospektusnya, Unitree mengakui perkembangan menuju penggunaan robot humanoid secara luas kemungkinan lebih lambat dari perkiraan. Salah satu kendalanya adalah tangan robot yang dinilai belum cukup presisi dan tahan lama untuk digunakan secara berkelanjutan.

Hong menilai tingginya minat investor ritel juga dipengaruhi jumlah perusahaan robot humanoid yang masih sangat terbatas untuk dijadikan pilihan investasi.

Dominik Pross, analis saham di VP Bank, mengatakan robot humanoid yang sudah sangat canggih sekalipun umumnya hanya mampu menjalankan sejumlah kecil tugas. Setelah digunakan beberapa jam, robot juga perlu mengisi ulang baterai.

"Robot harus dilatih secara khusus untuk setiap tugas yang diberikan kepada mereka, bahkan untuk tugas yang paling sederhana," kata Pross.

Menurutnya, aktivitas sehari-hari yang kompleks masih berada di luar kemampuan sebagian besar robot humanoid saat ini.

Sejumlah perusahaan robot China lainnya juga bersiap mengikuti jejak Unitree. Pesaingnya, AgiBot dan Leju Robotics, masing-masing tengah mengupayakan pencatatan saham di Hong Kong dan Shenzhen.

Pendiri LimX Dynamics, Will Zhang, bahkan mengatakan pada bulan lalu bahwa "listing is a must" atau perusahaan harus melantai di bursa.

Salah satu kekuatan utama industri robot China adalah kemampuan memproduksi robot dengan biaya lebih rendah.

Wood Mackenzie memperkirakan jumlah robot humanoid di seluruh dunia akan tumbuh lebih dari 90 persen setiap tahun hingga 2035 dan melampaui 10 juta unit. Pengiriman tahunan diperkirakan mencapai lebih dari 4 juta unit pada periode tersebut.

China saat ini menjadi pemain dominan. Negara tersebut menyumbang lebih dari 70 persen pemasangan robot industri global dan hampir 90 persen robot humanoid yang digunakan pada tahun lalu.

Harga rata-rata robot humanoid juga turun drastis, mencapai 93 persen antara 2020 dan 2025 menjadi sekitar US$ 58.000.

 

Seberapa Besar Investasi yang Mendatangkan Keuntungan

Pertandingan final tersebut berlangsung di Beijing pada hari Minggu (17/08/2025), bersamaan dengan cabang olahraga lari 1.500 meter, 400 meter, estafet 4x100 meter, dan lari gawang 100 meter. (AFP/Pedro Pardo)

Harga yang semakin murah membuat robot humanoid lebih menarik bagi perusahaan. Wood Mackenzie memperkirakan robot G1 milik Unitree yang dibanderol sekitar US$ 16.000 hanya membutuhkan biaya listrik sekitar US$ 82 per tahun jika digunakan delapan jam sehari.

Namun, semakin banyak robot digunakan juga dapat meningkatkan tekanan terhadap sistem kelistrikan yang sudah terbebani oleh kebutuhan energi pusat data AI.

Di sisi lain, perusahaan robot China masih menghadapi pertanyaan mengenai seberapa cepat investasi mereka bisa menghasilkan keuntungan. Linda Sui, pendiri Smart Analytics Global, mengatakan peningkatan produksi memang membantu menurunkan biaya, tetapi diperlukan waktu untuk menguji keuntungan investasi dari penggunaan robot.

Pendapatan Unitree sendiri meningkat lebih dari empat kali lipat tahun lalu. Namun, laba yang telah disesuaikan pada kuartal pertama turun lebih dari 52 persen karena perusahaan meningkatkan belanja penelitian dan pengembangan serta pemasaran.

Skeptisisme juga muncul karena sebagian besar permintaan robot Unitree masih berasal dari kebutuhan penelitian dan demonstrasi. Hampir tiga perempat pendapatan robot humanoid Unitree dalam sembilan bulan pertama 2025 berasal dari sektor penelitian dan pendidikan.

Di sisi geopolitik, Unitree juga menghadapi risiko karena sekitar 13 persen pendapatannya tahun lalu berasal dari Amerika Serikat.

China juga berpotensi menghadapi pembatasan akses terhadap perangkat keras dan perangkat lunak Nvidia yang digunakan untuk mengembangkan robot. Namun, China memiliki keunggulan besar dalam produksi logam tanah jarang yang digunakan pada aktuator dan motor robot humanoid.

Meski industri robot humanoid masih membutuhkan waktu untuk berkembang, potensinya telah mendorong perusahaan seperti Tesla semakin serius menggarap sektor ini. CEO Tesla Elon Musk bahkan mengubah lini produksi mobil listrik di pabrik Fremont untuk memproduksi robot humanoid Optimus, dengan produksi diperkirakan dimulai tahun ini.

Namun, Unitree tidak hanya bertaruh pada robot humanoid. Perusahaan juga memiliki robot berkaki empat yang masih menyumbang bagian cukup besar dari bisnisnya.

Para peneliti menilai robot yang dirancang untuk tugas tertentu bisa lebih murah dan andal untuk pekerjaan industri yang berulang. Sementara robot humanoid lebih cocok untuk lingkungan yang tidak terduga dan tidak memiliki struktur pekerjaan yang jelas.

Dengan demikian, tantangan terbesar Unitree dan industri robot humanoid bukan lagi sekadar membuktikan bahwa robot bisa melakukan aksi spektakuler, melainkan menunjukkan bahwa robot tersebut bisa bekerja secara konsisten, berguna, dan menghasilkan keuntungan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya