Bos Tether Bantah Rumor Blockchain

Dalam sebuah riset mengelompokkan Tether bersama Circle, Striper ingin memiliki infrastruktur tempat token beroperasi sehingga timbul rumor stableccoin.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 16 Agustus 2026, 15:13 WIB
Ilustrasi tether (Foto: DrawKit Illustrations/Unsplash)

Liputan6.com, Jakarta - CEO Tether, Paolo Ardoino menuturkan, perseroan tidak sedang membangun blockchain tetherdan tidak memiliki rencana untuk meluncurkannya.

Pernyataan ini menepis analisis yang beredar luas yang menyebut penerbit stablecoin tersebut terlibat dalam perlombaan senilai US$ 1 miliar atau Rp 17,82 triliun (asumsi dolar AS terhadap rupiah di kisaran 17.830). Demikian mengutip Yahoo Finance, Minggu (16/8/2026).

Ardoino menuturkan bantahan Tether itu pada Sabtu, 15 Agustus 2026 sehari setelah CoinMarketCap menerbitkan riset mengenai apa yang disebagai stablechain. Jaringan-jaringan ini memiliki satu fungsi utama memindahkan dolar digital dengan biaya murah.

Mengapa Klaim Blockhain Tether Muncul?

Riset itu mengelompokkan Tether bersama Striper dan Circle. Analisis itu menilai, ketiganya ingin memiliki infrastruktur (jalur) tempat token beroperasi. Mereka secara kolektif telah menggalangan dana lebih dari US$ 1 miliar untuk upaya tersebut.

Stripe memimpin kelompok ini dengan Tempo, sebuah jaringan pembayaran yang telah menangani pembayaran stablecoin untuk kurir DoorDash. Circle menyusul dengan Arc, sebuah  jaringan yang ditujukan untuk penyelesaian transaksi institusional.

Tether tampak sebagai pihak ketiga dalam kelompok ini karena mereka telah mendukung Plasma dan Stable, dua jaringan stablecoin yang terpisah. Stable menargetkan institusi dan menggunakan USDT untuk membayar biaya jaringan. Plasma menyasar pengguna ritel dan berhasil menggalang dana sekitar US$ 373 juta atau Rp 6,64 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah 17.830) melalui penjualan token.

Namun, mendanai sebuah jaringan tidak sama dengan mengoperasikannya. Ardoino sendiri menegaskan perbedaan tersebut.

USDT Tetap Beroperasi di Jaringan yang Bukan Miliknya

Oleh karena itu, Tether terus mengedarkan USDT melalui jaringan-jaringan yang tidak mereka kendalikan. Tron dan Ethereum masih menampung sebagian besar pasokan USDT, dan perusahaan telah mengandalkan jangkauan jaringan-jaringan tersebut selama bertahun-tahun.

 

Kapitalisasi Pasar USDT

Ilustrasi perusahaan penerbit stablecoin USDT, Tether. (Gambar by AI)

Pilihan tersebut bukannya tanpa biaya. Menurut riset CoinMarketCap, pemegang USDT membayar biaya sekitar US$ 2,9 miliar atau Rp 51,6 triliun per tahun kepada jaringan pihak luar. Jika memiliki jaringan sendiri, Tether bisa mendapatkan pendapatan tersebut.

Akibatnya, bantahan tersebut mencerminkan sebuah keputusan strategis yang disengaja. Tether memilih melepas pendapatan dari biaya transaksi demi mempertahankan jangkauan distribusi, yang tetap menjadi aset terkuat mereka dalam menghadapi para pesaing.

Di sisi lain, pendekatan yang tidak terikat pada satu jaringan (agnostik) memberikan keuntungan yang tidak bisa didapatkan oleh jaringan privat. Pendekatan ini menjaga likuiditas kapitalisasi pasar USDT yang mencapai US$ 183 miliar atau Rp 3.262 triliun di berbagai platform secara bersamaan.

 

Tekanan Persaingan

(Ilustrasi Tether by AI Gemini)

Hal ini juga memungkinkan Tether untuk bertindak cepat saat regulator meminta tindakan, seperti saat mereka membekukan USDT di jaringan Tron bekerja sama dengan Office of Foreign Assets Control (OFAC) Amerika Serikat.

Meski demikian, tekanan persaingan terus meningkat. Circle berhasil menguasai pasar nasional yang penting dengan USDC, sementara posisi USDT di Eropa terdesak setelah Revolut menghapus token tersebut dari daftar perdagangannya akibat aturan MiCA, yakni kerangka regulasi kripto Uni Eropa. Sebagai gantinya, Tether menjawab melalui pembuktian kepercayaan, dengan meraih audit KPMG yang bersih untuk pertama kalinya bulan ini.

 

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya