Perundingan AS-Iran Temui Jalan Buntu Membayangi Pasar Keuangan Global

Sentimen geopolitik, salah satunya perkembangan negosiasi Amerika Serikat (AS) dan Iran.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 16 Agustus 2026, 17:29 WIB
Sebuah perahu kecil berlayar melewati kapal kargo dan kapal komersial lainnya yang sedang berlabuh di Selat Hormuz, di lepas pantai Bandar Abbas, Iran, Rabu, 5 Agustus 2026. (Amirhosein Khorgooi/ISNA via AP)

Liputan6.com, Jakarta - Pekan lalu, sentimen eksternal dan internal membayangi pasar keuangan global. Salah satunya perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran terkait Selat Hormuz.

Mengutip riset Ashmore Asset Management Indonesia, ditulis Minggu (16/8/2026),pada pekan ini, harga minyak mentah naik 5,25% dan indeks Nikkei bertambah 4,74%. Sedangkan, harga bitcoin melemah 3,27% dan indeks Hang Seng turun 2,15%.

Optimisme pekan lalu perlahan memudar seiring Iran mengajukan syarat untuk kembali membuka Selat Hormuz, termasuk pelonggaran sanksi dan ganti rugi perang.

Sementara itu, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menegaskan, AS memiliki kendali penuh atas jalur perairan itu. Perundingan menemui jalan buntu karena kedua belah pihak bersikap semakin keras dan serangan terhadap kapal tanker terus berlanjut.

Harga minyak pun menguat dan memulihkan hampir seluruh penurunan pekan lalu.  Harga minyak Brent naik sekitar 10% dan ditutup mendekati US$ 88 per barel.Aktivitas pelayaran melalui selat itu masih jauh di bawah tingkat sebelum perang. Selain itu, Badan Informasi Energi Amerika Serikat (EIA) pekan ini memperingatkan produksi Timur Tengah tidak akan kembali normal hingga awal 2027.

Data AS menunjukkan sinyal yang bertolak belakang: laporan ketenagakerjaan Juli jauh lebih lemah dari perkiraan. Di mana ekonomi kehilangan 23.000 lapangan kerja berlawanan dengan prediksi penambahan 85.000 pekerjaan, serta adanya revisi penurunan angka dua bulan sebelumnya dengan total 103.000 pekerjaan.

Tingkat pengangguran turun tipis menjadi 4,1%, meskipun hal ini mencerminkan keluarnya tenaga kerja dari pasar kerja, sementara pertumbuhan upah melambat menjadi 3,2%, angka terendah dalam lima tahun terakhir.

Namun, inflasi mereda; harga konsumen Juli naik 3,4% dibandingkan tahun sebelumnya dan tingkat inflasi inti melandai ke angka 2,5%.

Inflasi yang lebih rendah mengurangi kemungkinan kenaikan suku bunga AS pada September, tetapi pasar tenaga kerja yang melemah di tengah tingkat inflasi yang masih jauh di atas target menempatkan Federal Reserve pada pilihan yang sulit.

 

Sentimen Domestik

Karyawan melintasi layar yang menampilkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Dari domestik, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun pekan ini, dan ditutup ke level 6.402. Selain itu, investor asing melakukan aksi jual saham US$ 30 juta atau Rp 534,81 miliar (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 17.830). Sektor saham industri dan barang konsumen nonsiklikal mencatat koreksi terbesar masing-masing 5,14% dan 1,98%. Sementara itu, sektor saham transportasi dan logistik masing-masing naik 5,19% dan 2,97%.

Pada pekan ini, Presiden Prabowo menominasikan Pelaksana Tugas (Plt.) Gubernur Destry Damayanti sebagai calon tunggal untuk memimpin Bank Indonesia, serta mengajukan tiga pejabat karier bank sentral lainnya untuk posisi deputi.

“Pasar menafsirkan pemilihan sosok internal yang berpengalaman ini sebagai sinyal keberlanjutan kebijakan,” demikian seperti dikutip dari riset Ashmore Asset Management Indonesia.

Nilai tukar Rupiah menguat ke level 17.825, dan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun (IndoGB 10Y) turun sekitar 10 basis poin menjadi 7,18%; level terendah dalam lebih dari satu bulan.

"Hal ini meredakan kekhawatiran mendesak akibat pengunduran diri mendadak gubernur sebelumnya, meskipun pertanyaan yang lebih luas mengenai independensi baru akan terjawab melalui keputusan-keputusan yang diambil seiring berjalannya waktu," demikian seperti dikutip dari riset Ashmore.

 

Sentimen MSCCI

Layar monitor menunjukkan pergerakan pasar saham di lantai Bursa Efek Indonesia menjelang aktivitas perdagangan. (BAY ISMOYO/AFP)

Tinjauan MSCI bulan Agustus mengeluarkan dua perusahaan Indonesia dari indeks global utamanya dan sembilan perusahaan lainnya dari indeks small-cap tanpa adanya penambahan, sembari tetap mempertahankan pembatasan yang diberlakukan terhadap pasar Indonesia awal tahun ini. Perubahan tersebut mulai berlaku pada akhir Agustus.

“Dampaknya sebagian besar bersifat teknis dan terbatas pada saham-saham yang terdampak, serta Indonesia tetap mempertahankan status pasar berkembangnya; namun, hal ini menjadi pengingat bahwa reformasi masih perlu menunjukkan hasil sebelum tinjauan berikutnya pada 11 November,” demikian seperti dikutip dari riset Ashmore.

Dalam riset Ashmore menyebutkan, bagi obligasi Indonesia, kombinasi antara inflasi AS yang melandai, nilai tukar rupiah yang menguat, dan kepemimpinan bank sentral yang lebih jelas memberikan dukungan positif, sementara imbal hasil (yield) tetap menarik bagi investor yang mencari pendapatan yang dapat diandalkan.

 

Sentimen Ini Perlu Dicermati

Di pasar berkembang secara lebih luas, inflasi AS yang lebih rendah memberikan sentimen positif, meskipun kenaikan harga minyak kembali menciptakan perbedaan nasib antara negara eksportir dan importir.

"Hal-hal utama yang perlu dicermati adalah pengesahan kepemimpinan baru bank sentral oleh parlemen serta perkembangan negosiasi Selat Hormuz dan harga minyak,” demikian seperti dikutip dari riset Ashmore.

 

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual saham. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya