Kementerian ESDM Ungkap Penyebab Guncangan Gempa NTT Terasa Kuat

Kementerian ESDM mengungkap kondisi geologi di sekitar episentrum gempa Nagekeo yang dapat memperkuat guncangan.

oleh Arief Rahman HDiterbitkan 15 Agustus 2026, 12:30 WIB
Anggota Tim SAR gabungan mengevakuasi korban terdampak gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 di Maumere, Nusa Tenggara Timur, Sabtu, 15 Agustus 2026. (Basarnas)

Liputan6.com, Jakarta - Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Timur Laut Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2026) dini hari. Guncangan dirasakan di sejumlah wilayah NTT hingga Nusa Tenggara Barat (NTB), Bali, dan Sulawesi Selatan. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) meminta masyarakat tetap tenang dan meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan gempa susulan.

Melalui Badan Geologi Kementerian ESDM, masyarakat diminta mengikuti arahan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat, memeriksa kondisi bangunan, serta mematuhi rambu dan jalur evakuasi.

Warga juga diimbau tidak mudah percaya terhadap informasi mengenai gempa bumi maupun tsunami yang sumbernya tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Lana Saria menjelaskan gempa terjadi pada Sabtu (15/8/2026) pukul 04.58.23 WIB. Berdasarkan data BMKG, episentrum awal berada pada koordinat 8,33 LS-121,32 BT di Timur Laut Nagekeo, NTT, dengan magnitudo awal M7,0 dan kedalaman 10 kilometer.

Parameter gempa kemudian diperbarui menjadi M7,7 dengan kedalaman 15 kilometer. Sementara itu, data GeoForschungsZentrum (GFZ) mencatat episentrum pada koordinat 8,375 LS-121,545 BT dengan magnitudo M6,25 pada kedalaman 10 kilometer.

Lana mengatakan episentrum gempa berada di laut. Wilayah terdekat memiliki kondisi morfologi yang beragam, mulai dari dataran, berombak, bergelombang, perbukitan, hingga pegunungan.

Mekanisme Sesar Naik

Anggota Tim SAR gabungan mengevakuasi korban terdampak gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 di Maumere, Nusa Tenggara Timur, Sabtu, 15 Agustus 2026. (Basarnas)

Menurut Badan Geologi Kementerian ESDM, wilayah di sekitar episentrum tersusun atas batuan gunung api berumur Tersier serta batuan sedimen berumur Kuarter. Kondisi geologi tersebut menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam memahami intensitas guncangan gempa di permukaan.

"Batuan yang telah mengalami pelapukan maupun sedimen permukaan berpotensi memperkuat guncangan gempa bumi. Berdasarkan data tapak lokal Vs30, daerah sekitar episenter terklasifikasi dalam Kelas Tanah C (tanah sangat padat/batuan lunak), Kelas Tanah D (tanah sedang), dan Kelas Tanah E (tanah lunak). Keberadaan kelas tanah yang lebih lunak ini berarti potensi guncangan gempa bumi di area tersebut terasa lebih intens," ujar Lana Saria.

Berdasarkan parameter sumber, gempa tersebut memiliki mekanisme sesar naik yang berasosiasi dengan Zona Sesar Naik Busur Belakang Flores atau Flores Back Arc Thrust. Badan Geologi menyatakan wilayah tersebut termasuk Kawasan Rawan Bencana Gempa Bumi Menengah hingga Tinggi.

Berdasarkan informasi BMKG, intensitas guncangan mencapai IV-V MMI di Ruteng, V MMI di Kota Bima dan Kabupaten Dompu, serta IV-V MMI di Ende, Labuan Bajo, Maumere, dan Sumba Timur.

Kementerian ESDM mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada terhadap kemungkinan gempa susulan. Warga juga diminta menghindari area tebing yang berpotensi mengalami pergerakan tanah, terutama ketika hujan.

Masyarakat di wilayah terdampak diimbau tetap tenang, mengikuti informasi resmi dari BMKG dan BPBD, serta tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya