Healthkathon 2026 Digelar, BPJS Kesehatan Dorong Pemanfaatan AI untuk Perkuat JKN

Healthkathon 2026 resmi dibuka. BPJS Kesehatan mengajak talenta digital mengembangkan AI dan data analytics untuk memperkuat penyelenggaraan JKN.

oleh Wuri AnggariniDiterbitkan 14 Agustus 2026, 17:29 WIB
Foto dok. BPJS Kesehatan

Liputan6.com, Jakarta - Pemanfaatan teknologi Artificial Intelligence (AI) dan data analytics mulai didorong untuk membantu menjawab berbagai tantangan yang semakin kompleks dalam penyelenggaraan Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

Direktur Teknologi Informasi BPJS Kesehatan, Setiaji, mengatakan perkembangan teknologi memungkinkan pengolahan data dalam jumlah besar sekaligus membantu mengenali pola, mendeteksi anomali, hingga memprediksi risiko.

Kemampuan tersebut dinilai dapat membantu BPJS Kesehatan mengidentifikasi potensi risiko dalam penyelenggaraan JKN dan mendukung proses pengambilan keputusan yang berbasis data.

“Pemanfaatan AI untuk mendeteksi potensi fraud sejak dini menjadi salah satu langkah yang dapat kita kembangkan. Ketika indikasi risiko dapat diketahui lebih awal, kita memiliki ruang yang lebih besar untuk melakukan pencegahan sebelum berdampak lebih jauh terhadap penyelenggaraan JKN," kata Setiaji.

Kebutuhan untuk menghadirkan solusi terhadap berbagai tantangan JKN tersebut kemudian mendorong BPJS Kesehatan membuka ruang kolaborasi dengan masyarakat, talenta digital, serta para ahli.

Kolaborasi itu diwujudkan melalui Healthkathon 2026, yang mengajak berbagai pihak menghadirkan ide dan inovasi berbasis teknologi untuk menjawab kebutuhan nyata dalam penyelenggaraan JKN.

Healthkathon 2026 Dorong Inovasi Berbasis Masalah Nyata

Setiaji melanjutkan, pemanfaatan teknologi dalam Healthkathon tidak diarahkan sekadar untuk menghasilkan aplikasi atau teknologi baru. Peserta didorong untuk memahami terlebih dahulu persoalan yang ingin diselesaikan sebelum menentukan teknologi yang digunakan.

“Teknologi akan memberikan dampak ketika mampu menjawab kebutuhan nyata. Karena itu, saya mendorong peserta memahami persoalan yang ingin diselesaikan sebelum menentukan teknologi yang paling tepat, sehingga inovasi yang dihasilkan dapat memberikan manfaat nyata bagi JKN,” katanya.

Pendekatan tersebut menjadi penting karena solusi yang dikembangkan dalam ekosistem JKN tidak hanya dituntut mampu bekerja secara teknis, tetapi juga harus mempertimbangkan keamanan, manfaat, serta dampaknya terhadap peserta dan penyelenggaraan program.

“Harapannya, Healthkathon tahun ini tidak berhenti pada kompetisi dan prototype, tetapi dapat melahirkan gagasan yang relevan, aman, bertanggung jawab, dan berpotensi dikembangkan menjadi solusi nyata bagi JKN. Mari kita jadikan kegiatan ini sebagai ruang untuk belajar, berkolaborasi, dan berani menghadirkan perspektif baru,” ujarnya.

Healthkathon 2026 membuka kriteria kompetisi, yakni efisiensi risiko pada peserta, fasilitas kesehatan, dan pemberi kerja. Pendaftaran terbuka bagi masyarakat umum dan praktisi teknologi informasi mulai 14 Agustus hingga 14 September 2026 melalui laman resmi Healthkathon BPJS Kesehatan healtkathon.bpjs-kesehatan.go.id.

Kualitas Data Jadi Kunci Pemanfaatan AI

Presiden Asosiasi Manajemen Data Indonesia, Alex Budiyanto mengatakan pemanfaatan AI sangat bergantung pada kualitas data yang digunakan. Data yang tidak lengkap, tidak konsisten, atau mengandung kesalahan dapat memengaruhi hasil analisis dan prediksi, sehingga pengelolaan data yang akurat dan konsisten menjadi bagian penting dalam pengembangan solusi berbasis AI.

“Kita ingin pemanfaatan AI tidak berhenti pada kemampuan memprediksi apa yang mungkin terjadi, tetapi juga membantu menentukan langkah yang paling tepat berdasarkan data dan berbagai kemungkinan skenario. Dengan begitu, teknologi dapat mendukung keputusan yang lebih terukur, baik dalam pelayanan medis, pengelolaan risiko, maupun perumusan kebijakan JKN,” tegas Alex.

Alex menyebut penerapan AI dalam ekosistem JKN perlu tetap menempatkan keputusan manusia sebagai bagian penting dalam prosesnya. AI dapat membantu menyaring data dan mengidentifikasi klaim atau pola berisiko secara lebih cepat, tetapi keputusan akhir, termasuk dalam proses pemeriksaan dan penindakan, tetap membutuhkan pertimbangan manusia untuk menjaga akurasi, mencegah kesalahan, serta melindungi data peserta.

"Karena itu, pengembangan inovasi melalui Healthkathon didorong menggunakan pendekatan problem-first, yaitu memahami persoalan sebelum menentukan teknologi yang digunakan. Peserta perlu melihat masalah yang ingin diselesaikan, kebutuhan pengguna, ketersediaan data, serta potensi dampak dan risiko agar solusi yang dikembangkan benar-benar relevan dengan kebutuhan penyelenggaraan JKN," tegas Alex.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya