Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak dunia melemah pada perdagangan Kamis, 13 Agustus 2026 (Jumat pagi Jakarta). Koreksi harga minyak dunia terjadi setelah Menteri Energi Chris Wright menyatakan, ekspor melalui Selat Hormuz lebih tinggi daripada banyak perkiraan independen.
Mengutip CNBC, Jumat (14/8/2026), kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun 2,4% dan ditutup ke posisi US$ 81,25 per barel. Harga minyak Brent terpangkas 2%, dan menetap di US$ 87,07.
Advertisement
Harga minyak telah naik sekitar 4% pekan ini seiring kesepakatan antara Washington dan Teheran untuk meningkatkan lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz belum juga terwujud.
Wright menuturkan, ekspor minyak melalui Selat Hormuz telah mendekati rata-rata tujuh hari sebesar 9 juta barel per hari. Ekspor dari kawasan Teluk meningkat menjadi sekitar 15 juta barel per hari jika aliran melalui pipa juga diperhitungkan. Sebelum perang, sekitar 20 juta barel per hari minyak dan produksi minyak melintasi Selat Hormuz.
Data ekspor yang disampaikan oleh menteri energi tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan perkiraan banyak perusahaan independen.
"Sebagai contoh, TD Securities memperkirakan ekspor melalui Hormuz berada di kisaran 5 juta barel per hari. Angka ini "sama sekali tidak memadai bagi pasar," kata Direktur TD Securities Ryan McKay, dalam sebuah catatan pada Rabu.
Dalam unggahan media sosial pada Rabu, Wright menyatakan, militer AS dan Departemen Energi memiliki "data terbaik yang tersedia terkait minyak dan produk minyak yang keluar dari Teluk Arab."
"Banyak perusahaan swasta kurang menghitung jumlah kapal yang keluar dari Selat Hormuz karena adanya kapal-kapal yang bergerak secara diam-diam melintasi jalur perairan tersebut," ujarnya.
Permintaan Minyak Diprediksi Turun
Menurut Badan Energi Internasional (IEA), permintaan minyak diperkirakan turun sebesar 1,6 juta barel per hari tahun ini, angka yang lebih tinggi sekitar 510.000 barel per hari dibandingkan perkiraan sebelumnya.
IEA menyatakan, konflik yang kembali memanas di kawasan Teluk telah menghambat upaya peningkatan pasokan minyak global. Pasokan tercatat 6,3 juta barel per hari lebih rendah secara tahunan pada Juli. Hal ini ditunjukkan dari produksi sebesar 8,3 juta barel per hari di kawasan Teluk terhenti, ungkap badan tersebut.
Situasi keamanan di Timur Tengah masih rawan bagi perusahaan pelayaran, menyusul serangan terhadap sejumlah kapal di Teluk Oman dan Laut Merah minggu ini.
Sementara itu, kelompok Houthi di Yaman yang bersekutu dengan Iran mengklaim pada Kamis kalau mereka telah menyerang kilang minyak di Jizan, Arab Saudi, menggunakan pesawat nirawak (drone).
Konflik AS-Iran
Amerika Serikat dan Iran berselisih paham mengenai pihak yang menguasai Selat Hormuz pekan ini. Teheran mengklaim telah menutup selat tersebut dan menyatakan hanya akan membukanya kembali setelah Washington memenuhi tuntutan mereka. Sementara itu, Presiden Donald Trump mengklaim bahwa AS memegang kendali penuh atas Selat Hormuz.
Pemerintahan Trump pekan lalu sempat mengisyaratkan kemungkinan adanya kesepakatan dengan Iran untuk meningkatkan lalu lintas pelayaran di selat tersebut, tetapi kesepakatan itu belum juga terwujud.
"Satu hal yang pasti, kita harus mengabaikan pernyataan-pernyataan politis. Pernyataan-pernyataan itu sama sekali tidak relevan dengan situasi yang sebenarnya terjadi," ujar Mantan Penasihat Energi Presiden Joe Biden, kepada CNBC pada Kamis, Amos Hochstein.
"Itu semua omong kosong belaka. Itu hanyalah upaya pengaturan pasar,” ia menambahkan.