Bursa Asia Menguat, Nikkei dan Kospi Naik Tajam

Bursa Asia menguat dipimpin Kospi dan Nikkei setelah data inflasi AS sesuai ekspektasi, sementara investor menanti rilis PPI Amerika Serikat.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 13 Agustus 2026, 08:30 WIB
Orang-orang berjalan melewati layar monitor yang menunjukkan indeks bursa saham Nikkei 225 Jepang dan lainnya di sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo, Jepang. (AP Photo/Eugene Hoshiko)

Liputan6.com, Jakarta - Bursa Asia menguat pada awal perdagangan Kamis (13/8/2026) setelah data inflasi Amerika Serikat yang sesuai ekspektasi meredakan kekhawatiran kenaikan suku bunga The Fed. 

Mengutip CNBC, indeks Kospi Korea Selatan melonjak 4%, menjadi penguatan terbesar di kawasan. Indeks Nikkei 225 Jepang naik 1,5%, sedangkan indeks acuan Australia S&P/ASX 200 melemah tipis 0,12%.

Kontrak berjangka saham Amerika Serikat bergerak nyaris tanpa perubahan pada perdagangan Rabu malam (12/8/2026) waktu setempat. Pelaku pasar masih menunggu data inflasi tambahan sekaligus mencermati laporan kinerja emiten terbaru.

Kontrak berjangka Dow Jones Industrial Average diperdagangkan sedikit di atas garis datar. Sementara itu, S&P 500 futures melemah tipis dan Nasdaq-100 futures turun sekitar 0,1%.

Perhatian investor global kini tertuju pada rilis Indeks Harga Produsen (Producer Price Index/PPI) Amerika Serikat untuk periode Juli yang dijadwalkan diumumkan pada Kamis pukul 08.30 waktu New York.

PPI merupakan indikator yang mengukur perubahan harga yang dibayar pedagang grosir untuk bahan baku dan material. Ekonom yang disurvei Dow Jones memperkirakan indeks tersebut naik 0,2% dibanding bulan sebelumnya.

 

Peluang Kenaikan Suku Bunga

Seorang pria berdiri didepan indikator saham elektronik sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo, Jepang. (AP Photo/Shizuo Kambayashi)

Inflasi konsumen AS pada Juli tercatat naik 0,1% secara bulanan, sama dengan perkiraan analis. Data yang relatif terkendali tersebut mendorong penguatan S&P 500, yang akhirnya ditutup naik untuk pertama kalinya setelah tiga sesi perdagangan sebelumnya melemah.

Data inflasi yang sesuai ekspektasi juga membuat pelaku pasar mengurangi taruhan terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada September mendatang.

Ekonom Senior Interactive Brokers, José Torres, mengatakan peluang kenaikan suku bunga pada September memang menurun, tetapi pasar masih melihat kemungkinan pengetatan kebijakan pada akhir tahun.

“Meski demikian, peluang masih lebih besar untuk kenaikan suku bunga pada Oktober atau Desember, setelah pejabat kebijakan moneter memiliki waktu untuk menilai kondisi ekonomi dari dua sisi mandat bank sentral,” ujar Torres.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya