Suhu Laut Dunia Capai Rekor Tertinggi Dipicu El Nino

El Nino dan pemanasan global mendorong suhu lautan dunia ke rekor tertinggi Juli 2026.

oleh Septian DenyDiterbitkan 12 Agustus 2026, 21:04 WIB
Ilustrasi laut. (Information Systems Technician 1st Class Vincent Aguirre/U.S. Coast Guard via AP)

Liputan6.com, London - Suhu lautan dunia mencapai rekor tertinggi yang pernah tercatat untuk bulan Juli 2026. Kondisi tersebut sebagian dipicu oleh perkembangan El Nino di Samudra Pasifik, menurut layanan pemantauan iklim Uni Eropa.

Dikutip dari BBC, Rabu (12/8/2026), layanan Perubahan Iklim Copernicus (C3S) mencatat, suhu rata-rata permukaan laut atau sea surface temperature (SST) di luar wilayah kutub dunia, yakni antara 60 derajat lintang utara dan 60 derajat lintang selatan, mencapai 20,96 derajat Celsius pada Juli.

Angka tersebut melampaui rekor sebelumnya sebesar 20,89 derajat Celsius yang tercatat pada 2023.

Secara global, Juli juga menjadi Juli terpanas kedua bersama dalam catatan, dengan suhu 1,47 derajat Celsius lebih tinggi dibandingkan perkiraan rata-rata pada era praindustri.

Di Eropa Barat, kondisi panas dan kering yang berlangsung berkepanjangan turut membuat Juni dan Juli menjadi periode terpanas yang pernah tercatat. Kondisi tersebut memicu kebakaran hutan ekstrem di berbagai wilayah.

Sementara itu, Inggris bersiap menghadapi gelombang panas kelima tahun ini pada pekan ini. Cuaca kering yang terus berlangsung meningkatkan tekanan terhadap pasokan air dan berpotensi membuat lebih banyak wilayah secara resmi dinyatakan mengalami kekeringan.

Di sejumlah wilayah Eropa, suhu permukaan laut pada Juli juga mencapai rekor tertinggi di sepanjang pesisir Atlantik dan Mediterania bagian barat. Kondisi ini berkontribusi terhadap meluasnya gelombang panas laut yang kuat hingga ekstrem.

Suhu laut juga tetap sangat tinggi di sebagian besar wilayah Pasifik tropis. Kondisi El Nino tengah berkembang di kawasan tersebut dan diperkirakan menguat dalam beberapa bulan mendatang.

 

Pola Cuaca Alami

El Nino merupakan pola cuaca alami di Samudra Pasifik yang, ketika berpadu dengan pemanasan global akibat aktivitas manusia, dapat menyebabkan lonjakan suhu dan cuaca yang lebih ekstrem.

Lautan memiliki peran penting dalam mengatur iklim. Laut menyerap sebagian besar panas berlebih yang dihasilkan oleh emisi gas rumah kaca sekaligus menghasilkan sekitar setengah oksigen di Bumi.

Dampak terbesar dari pemanasan laut terlihat pada kenaikan permukaan air laut. Ketika air laut menghangat, volumenya mengembang. Ekspansi termal ini menyumbang sekitar sepertiga dari kenaikan permukaan laut yang telah tercatat para ilmuwan hingga saat ini. Air yang terus naik kemudian merambah wilayah pesisir rendah dan negara-negara kepulauan.

Laut yang semakin panas juga mendorong gelombang panas laut berlangsung lebih lama dan menjadi lebih kuat. Kondisi tersebut telah menyebabkan pemutihan terumbu karang dalam skala besar, sekaligus menghancurkan hutan kelp dan mengurangi perikanan.

Permukaan laut yang lebih hangat juga membuat lebih banyak panas dan uap air menguap ke atmosfer. Kondisi ini dapat memperkuat badai tropis dan membuatnya membawa curah hujan yang lebih deras.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya