Investor Ini Prediksi Aksi Jual Besar-besaran di Wall Street

Investor Michael Burry memperingatkan ada potensi aksi jual besar-besaran seperti tekanan terhadap pasar saham pada 1987.

oleh Cahya Alena FauzaDiterbitkan 12 Agustus 2026, 12:00 WIB
Ekspresi spesialis Michael Pistillo (kanan) saat bekerja di New York Stock Exchange, Amerika Serikat, Rabu (11/3/2020). Bursa saham Wall Street anjlok pada akhir perdagangan Rabu (11/3/2020) sore waktu setempat setelah WHO menyebut virus corona COVID-19 sebagai pandemi. (AP Photo/Richard Drew)

Liputan6.com, Jakarta - Investor Michael Burry yang terkenal karena kejadian yang diadaptasikan ke layar lebar, “The Big Short,” tetap teguh dengan investasi bearish-nya meskipun S&P 500 meroket lebih tinggi dari sebelumnya.

Dia memperingatkan kenaikan harga ini masih bisa berakhir dengan aksi jual besar-besaran yang mirip dengan kehancuran pasar saham 1987.

“Saya tetap percaya kita sedang mendekati titik puncak yang signifikan, dan mungkin akan terjadi penurunan seperti pada tahun 1987," ujar Burry di sebuah postingan Substack pada hari Selasa, 4 Agustus 2026.

Melansir CNBC, Rabu (12/8/2026), S&P 500 mengalami kenaikan 1,9% pada Selasa pekan lalu, mencapai penutupan rekor pertamanya sejak Juni, didorong oleh laporan laba perusahaan yang lebih baik dari perkiraan serta penurunan harga minyak yang kembali terjadi seiring meningkatnya harapan Selat Hormuz akan dibuka kembali.

Indeks Nasdaq Composite yang didominasi saham-saham teknologi melonjak 2,7%, sehingga memperpanjang kenaikan yang dicatatkannya hanya dalam dua hari pertama pekan ini menjadi hampir 5%.

Burry sudah lama menjadi salah satu investor yang menyuarakan ketidaksetujuannya akan AI. Dia mengatakan bahwa permintaan infrastruktur AI didorong oleh rencana finansial yang mungkin tidak akan bertahan. Burry juga berpendapat kenaikan pasar ini menciptakan siklus yang saling memperkuat, di mana penurunan volatilitas mendorong investor sistematis untuk meningkatkan eksposur mereka.

“Ingat, kenaikan pasar di tengah penurunan volatilitas memaksa dana yang berfokus pada volatilitas untuk meningkatkan leverage, dan membuat leverage dari strategi momentum lainnya ikut berperan,” tulisnya.

Di tengah kenaikan harga ini, Burry mengatakan bahwa ia masih memegang posisi short pada ETF iShares Semiconductor (SOXX), Micron, Nvidia, Caterpillar, Palantir, Tesla, dan Applied Materials.

 

 

Tak Setuju Posisi Short Selling

Pedagang bekerja di New York Stock Exchange, New York, 10 Agustus 2022. (AP Photo/Seth Wenig, file)

Investor tersebut menyatakan tetap optimistis terhadap prospek jangka panjang dari posisi-posisi tersebut, meskipun ia menambahkan akan memotong kerugiannya jika pergerakan pasar secara tegas berlawanan dengannya. Semua posisi tersebut masih menguntungkan kecuali posisi dia yang bertaruh melawan Nvidia.

"Mengambil posisi short tidak cocok untuk semua orang,” tulis Burry.

 "Saya harus melakukannya. Sebagian besar orang sebaiknya jangan," kata dia.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya