ISEW 2026 Jadi Jembatan Investasi Energi Bersih Indonesia

Berkolaborasi dengan IndoSolar, ISEW 2026 fokus pada matchmaking proyek energi terbarukan guna mempercepat implementasi transisi energi nasional.

oleh Immanuel ChristianDiterbitkan 11 Agustus 2026, 16:45 WIB
Direktur Transmisi, Ketenagalistrikan, Kedirgantaraan, dan Antariksa Bappenas Yusuf Suryanto dalam konferensi ISEW 2026, di Kantor GIZ Selasa (11/8/2026).

Liputan6.com, Jakarta - Indonesia Sustainable Energy Week (ISEW) 2026 diarahkan tidak hanya menjadi forum pembahasan transisi energi, tetapi juga menjadi jembatan untuk mempertemukan proyek, investor, teknologi, dan pelaku usaha dalam pengembangan energi bersih di Indonesia.

Direktur Transmisi, Ketenagalistrikan, Kedirgantaraan, dan Antariksa Bappenas, Yusuf Suryanto, mengatakan pemerintah membutuhkan proyek energi yang siap dan layak agar agenda pembangunan dapat benar-benar diimplementasikan.

“Yang pertama tentu kesiapan proyek, bagaimana kita bisa membuat proyek-proyek yang kita rancang ini siap, layak, termasuk bankability-nya, sehingga kemudian implementasi bisa kita arahkan,” kata Yusuf dalam konferensi ISEW 2026 di Kantor GIZ, Selasa (11/8/2026).

Menurut Yusuf, kesiapan proyek saja belum cukup. Pemerintah juga perlu memastikan dukungan kebijakan, regulasi, pembiayaan, sumber daya manusia, hingga keterlibatan masyarakat.

Khusus pengembangan infrastruktur ketenagalistrikan, dia menyebut kesiapan sistem atau jaringan listrik juga menjadi salah satu tantangan utama.

“Setelah proyek siap itu tentu perlu adanya berbagai dukungan, baik itu yang sifatnya policy, regulatory, pembiayaan, sumber daya manusia, ataupun social inclusion,” ujarnya.

Yusuf mengatakan penyelenggaraan ISEW sejalan dengan agenda perencanaan pembangunan nasional, termasuk penguatan delivery program prioritas pemerintah dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2027.

 

Solusi Bisnis

Direktur Transmisi, Ketenagalistrikan, Kedirgantaraan, dan Antariksa Bappenas Yusuf Suryanto dalam konferensi ISEW 2026, di Kantor GIZ Selasa (11/8/2026).

Sementara itu, Director of the Indonesia/ASEAN Energy Programme GIZ, Lisa Tinschert, mengatakan ISEW 2026 mulai memperbesar porsi keterlibatan sektor swasta. Menurutnya, forum tersebut tidak hanya membahas kebijakan dan aspek transisi energi, tetapi juga mencari solusi bisnis dan peluang investasi.

“Kami tidak hanya berbicara tentang kebijakan atau just transition, tetapi juga apa peran perusahaan atau bisnis dalam membawa solusi ke Indonesia, termasuk investasi,” kata Lisa.

ISEW 2026 juga mempertemukan investor, penyedia teknologi, dan pemilik proyek melalui sesi matchmaking. GIZ berharap forum tersebut dapat memperkuat kerja sama Indonesia-Jerman, termasuk dalam pertukaran teknologi, pengetahuan, dan riset.

Di sisi lain, Ketua Umum Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI), Mada Ayu Habsari, mengatakan penyelenggaraan ISEW 2026 yang berkolaborasi dengan IndoSolar diarahkan untuk memperluas akses investor global terhadap pelaku usaha energi surya domestik.

 

Mitra Lokal untuk Proyek Besar

Menurut Mada, salah satu persoalan investor asing yang ingin masuk ke Indonesia adalah menemukan mitra lokal yang memiliki kapasitas untuk mengembangkan proyek berskala besar.

“Kita sekarang sebetulnya sudah memiliki kemampuan itu, dan untuk itulah kita ingin melakukan exposure-nya ini di acara IndoSolar in conjunction with ISEW,” kata Mada.

Dia mengatakan kolaborasi tersebut juga diharapkan mendorong pertumbuhan local content dan memperkuat industri PLTS nasional.

AESI saat ini memiliki sekitar 170 anggota yang mencakup berbagai rantai ekosistem PLTS, mulai dari produsen lokal, pengembang (developer), utilitas (utility), distributor, EPC, lembaga inspeksi teknis, hingga institusi keuangan.

Dengan format yang lebih berorientasi pada investasi, teknologi, dan matchmaking, ISEW 2026 diharapkan tidak berhenti pada diskusi mengenai transisi energi, tetapi turut mempercepat terbentuknya proyek energi bersih yang siap direalisasikan di Indonesia.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya