Badan Geologi Ungkap Ancaman Tak Terlihat Oro-Oro Kesongo Blora

Di balik semburan lumpur Gas Oro-Oro Kesongo Blora, terdapat potensi bahaya lain yang tidak selalu terlihat.

oleh Ahmad AdirinDiterbitkan 11 Agustus 2026, 14:18 WIB
Oro-Oro Kesongo Blora ketika kembali meletus. (Liputan6.com/ Ahmad Adirin)

Liputan6.com, Blora - Aktivitas Oro-Oro Kesongo di Kabupaten Blora kembali menunjukkan gejala semburan lumpur dan gas pada Jumat (7/8/2026) lalu. Fenomena geologi yang telah berulang selama bertahun-tahun itu kembali menyedot perhatian masyarakat, terutama setelah dilaporkan terjadi beberapa kali semburan dengan ketinggian awal yang disebut mencapai sekitar 10 hingga 15 meter.

Badan Geologi mengingatkan masyarakat agar tidak melihat fenomena tersebut semata-mata sebagai tontonan alam. Di balik semburan lumpur, terdapat potensi bahaya lain yang tidak selalu terlihat, termasuk pelepasan gas, rekahan tanah, amblesan lokal, hingga kondisi permukaan yang dapat menjadi lunak dan tidak stabil.

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Siti Sumilah Rita Susilawati, menjelaskan bahwa Oro-Oro Kesongo bukanlah gunung api yang aktivitasnya digerakkan oleh magma. Secara geologi, Kesongo merupakan fenomena gunung lumpur atau mud volcano.

"Oro-Oro Kesongo merupakan fenomena gunung lumpur atau mud volcano, bukan gunung api yang aktivitasnya digerakkan oleh magma,” katanya saat dihubungi Liputan6.com, Selasa (11/8/2026).

Menurut Rita Susilawati, Oro-Oro Kesongo Blora berkembang pada sebuah cekungan sedimen yang memiliki lapisan kaya material lempungan, fluida dan gas di bawah permukaan. Dalam kondisi tekanan pori yang tinggi, material lumpur bersama fluida dan gas dapat bergerak menuju permukaan melalui zona lemah, rekahan maupun struktur geologi.

Material tersebut kemudian muncul di permukaan dalam bentuk rembesan atau semburan. Secara geologi, fenomena tersebut bukan sesuatu yang baru terbentuk. Kajian terdahulu menunjukkan Kesongo berada di Zona Rembang, tepatnya pada struktur Antiklin Gabus.

Penelitian bawah permukaan di kawasan tersebut juga menunjukkan keberadaan sistem tekanan luap atau overpressure serta struktur geologi yang dapat berperan dalam proses migrasi fluida dari bawah permukaan menuju atas.

Sementara Formasi Tawun yang berumur Miosen telah diinterpretasikan sebagai salah satu sumber material lumpur dalam sistem Oro-Oro Kesongo Blora. Kondisi tersebut membuat aktivitas Kesongo dapat berulang setelah mengalami periode relatif tenang.

"Fenomena semburan di Kesongo bukan fenomena yang baru terbentuk. Ini merupakan manifestasi dari sistem geologi bawah permukaan yang sudah berkembang sejak lama dan aktivitasnya dapat berulang," ujar Siti.

Meski demikian, Badan Geologi belum dapat menyimpulkan apakah semburan pada 7 Agustus 2026 menandai adanya perubahan sistem geologi bawah permukaan dibandingkan kejadian-kejadian sebelumnya.

Menurut Rita Susilawati, pengamatan terhadap semburan di permukaan saja belum cukup untuk memastikan adanya perubahan tersebut.

"Belum dapat disimpulkan bahwa kejadian 7 Agustus 2026 menunjukkan perubahan sistem bawah permukaan dibandingkan kejadian sebelumnya hanya berdasarkan pengamatan semburan di permukaan," tegasnya.

Untuk mengetahui kondisi sebenarnya, tim perlu memeriksa sejumlah indikator, antara lain perubahan lokasi pusat semburan, munculnya rekahan baru, perubahan morfologi permukaan, karakter lumpur dan fluida, temperatur, serta komposisi dan konsentrasi gas yang dilepaskan.

Atas dasar itulah Badan Geologi mengirimkan tim ke lapangan untuk melakukan pemeriksaan langsung.

Data lapangan tersebut nantinya digunakan untuk memastikan karakter aktivitas terbaru, mengevaluasi potensi bahaya dan menjadi dasar penyusunan rekomendasi kepada pemerintah daerah serta masyarakat.

 

Gas Menjadi Ancaman yang Tak Terlihat

Meski aktivitas Oro-Oro Kesongo Blora telah berulang dalam rentang waktu panjang, Badan Geologi menyatakan belum ada dasar ilmiah yang cukup untuk menetapkan bahwa semburan tersebut memiliki periode tetap.

Artinya, tidak ada pola sederhana yang dapat digunakan untuk mengatakan Oro-Oro Kesongo Blora akan kembali menyembur setelah beberapa bulan, beberapa tahun, atau pada interval tertentu.

"Kesongo memang mempunyai karakter aktivitas berulang, tetapi sampai saat ini belum ada dasar ilmiah yang cukup untuk menyatakan bahwa semburannya mempunyai periode tetap, misalnya setiap sekian bulan atau sekian tahun," jelas Siti.

Catatan kejadian menunjukkan episode semburan dapat kembali terjadi setelah periode relatif tenang. Pada kejadian 7 Agustus 2026, berdasarkan laporan yang diterima Badan Geologi dan pemberitaan dari lapangan, terjadi beberapa kali semburan sejak pagi. Ketinggian semburan pertama dilaporkan masyarakat sekitar 10 hingga 15 meter.

Namun, Badan Geologi menegaskan angka tersebut masih merupakan laporan lapangan masyarakat dan bukan hasil pengukuran langsung tim Badan Geologi. Secara ilmiah, aktivitas mud volcano dapat berubah akibat dinamika tekanan fluida dan gas di bawah permukaan.

Perubahan permeabilitas batuan, terbuka atau tertutupnya jalur rekahan serta perubahan kondisi mekanik lapisan batuan juga dapat memengaruhi bagaimana fluida dan gas bergerak.

Dalam sistem tersebut, gas dan fluida tidak selalu keluar dengan laju yang sama. Tekanan dapat terakumulasi di bawah permukaan dan kemudian dilepaskan ketika tersedia jalur yang memungkinkan fluida bergerak menuju permukaan.

"Gas dan fluida tidak selalu keluar dengan laju yang konstan. Tekanan dapat terakumulasi dan kemudian dilepaskan ketika tersedia jalur yang memungkinkan fluida bergerak menuju permukaan," kata Rita Susilawati.

Faktor eksternal juga tidak sepenuhnya dapat diabaikan. Literatur ilmiah menunjukkan bahwa pada kondisi tertentu gangguan eksternal, termasuk guncangan gempa, dapat memengaruhi sistem mud volcano yang sudah berada dalam kondisi kritis.

Namun hal itu tidak berarti setiap semburan gunung lumpur disebabkan oleh gempa bumi.

Begitu pula dengan hujan. Badan Geologi memilih berhati-hati sebelum mengaitkan semburan dengan faktor tertentu tanpa didukung data ilmiah.

"Kami berhati-hati untuk menyatakan suatu kejadian sebagai akibat langsung hujan, gempa bumi, atau faktor tertentu apabila belum ada data yang membuktikannya," ujar Rita Susilawati.

Kejadian yang waktunya berdekatan, menurutnya, tidak dengan sendirinya membuktikan adanya hubungan sebab-akibat.

 

Lontaran Material

Tim Badan Geologi juga akan mengevaluasi apakah pada aktivitas terbaru terdapat perubahan lokasi semburan, rekahan baru, perubahan manifestasi permukaan maupun kondisi lainnya yang dapat membantu menjelaskan episode aktivitas kali ini.

Di sisi lain, bahaya Oro-Oro Kesongo Blora tidak berhenti pada semburan lumpur. Semburan dan lontaran material merupakan salah satu risiko yang harus diperhitungkan. Selain itu terdapat kemungkinan pelepasan gas, perubahan morfologi permukaan, rekahan, amblesan lokal hingga kondisi tanah di sekitar pusat aktivitas yang dapat menjadi sangat lunak dan tidak stabil.

Badan Geologi memberikan perhatian khusus terhadap gas karena keberadaannya tidak selalu dapat dilihat atau dikenali manusia.

Kajian ilmiah terdahulu terhadap sistem gunung lumpur Kesongo menunjukkan adanya pelepasan gas, terutama metana (CH₄) dan karbon dioksida (CO₂).

Penelitian terhadap rembesan gas di Kesongo juga menunjukkan adanya kandungan metana yang signifikan. Metana memiliki sifat mudah terbakar dan dalam konsentrasi tinggi dapat menggantikan oksigen di udara.

Sementara karbon dioksida dapat menyebabkan kondisi kekurangan oksigen apabila terakumulasi pada konsentrasi tinggi, khususnya di lokasi rendah atau kawasan dengan sirkulasi udara buruk.

Gas lain yang berpotensi berbahaya, termasuk hidrogen sulfida (H₂S), juga perlu diperiksa. Namun, Badan Geologi belum ingin menyatakan komposisi maupun konsentrasi gas pada aktivitas terbaru sebelum dilakukan pengukuran langsung.

"Komposisi dan konsentrasi gas dapat berbeda menurut lokasi dan waktu," kata Rita Susilawati.

Badan Geologi juga meluruskan istilah “lumpur panas” yang selama ini kerap digunakan untuk menggambarkan Oro-Oro Kesongo Blora.

Menurutnya, Oro-Oro Kesongo Blora merupakan gunung lumpur, bukan gunung api magmatik. Karena itu, temperatur material yang keluar tidak dapat begitu saja diasumsikan tinggi seperti material dari aktivitas gunung api.

Suhu lumpur dan fluida harus diukur secara langsung di lapangan. Ancaman yang tidak terlihat inilah yang membuat Badan Geologi meminta masyarakat tidak mendekati lokasi hanya untuk menyaksikan semburan, mengambil foto maupun membuat video.

"Dalam fenomena seperti ini, salah satu bahaya justru dapat berasal dari sesuatu yang tidak terlihat, yaitu gas, selain kondisi tanah di sekitar pusat aktivitas yang mungkin tidak stabil," jelas Rita Susilawati.

Dari sisi pemantauan, Oro-Oro Kesongo Blora juga memiliki karakter berbeda dibandingkan gunung api aktif. Gunung api aktif umumnya memiliki jaringan pemantauan yang dapat mencakup parameter seismik, deformasi, gas dan visual secara kontinu.

Untuk sistem gunung lumpur seperti Kesongo, sejumlah parameter yang relevan antara lain frekuensi, durasi dan tinggi semburan, perubahan jumlah serta lokasi titik keluarnya gas atau lumpur, kemunculan rekahan baru, perubahan morfologi permukaan, suhu fluida serta komposisi dan konsentrasi gas.

Kajian terdahulu menunjukkan Oro-Oro Kesongo Blora memiliki sejumlah manifestasi permukaan seperti gryphon, salsa, pool atau kolam lumpur, rembesan gas dan rekahan.

Gryphon merupakan kerucut lumpur kecil yang menjadi salah satu tempat keluarnya lumpur, air dan gas. Salsa merupakan genangan atau danau lumpur yang relatif lebih besar, sedangkan pool merupakan kolam lumpur yang lebih kecil.

Perubahan lokasi, jumlah maupun aktivitas manifestasi tersebut menjadi informasi penting untuk didokumentasikan dan dibandingkan dari waktu ke waktu.

Kajian terdahulu bahkan menunjukkan lokasi gryphon aktif di Oro-Oro Kesongo Blora dapat berubah. Hal ini mengindikasikan bahwa jalur keluarnya fluida menuju permukaan tidak selalu berada di titik yang sama.

Namun, hingga kini belum terdapat satu parameter yang dapat digunakan sebagai “alarm” pasti untuk menentukan kapan Oro-Oro Kesongo Blora akan menyembur dan seberapa besar kekuatannya.

"Sampai saat ini belum terdapat parameter tunggal yang dapat digunakan untuk memprediksi secara pasti kapan dan seberapa besar semburan Kesongo berikutnya akan terjadi," tegas Rita Susilawati.

Karena itu, masyarakat tidak boleh menganggap Oro-Oro Kesongo Blora telah memiliki sistem peringatan dini yang mampu memberikan prediksi waktu semburan sebagaimana ramalan waktu kejadian.

Dinamika tekanan dan jalur migrasi fluida di bawah permukaan sangat kompleks.

Badan Geologi akan menggunakan hasil pemeriksaan terbaru untuk mengevaluasi kebutuhan peningkatan sistem pemantauan ke depan, termasuk menentukan parameter apa yang paling efektif untuk mendukung mitigasi jangka panjang.

Untuk kondisi saat ini, pesan Badan Geologi kepada masyarakat sangat jelas, yakni jangan mendekati pusat semburan. Warga diminta mematuhi pembatasan yang telah ditetapkan aparat dan pemerintah daerah.

Masyarakat juga diminta tidak memasuki kawasan aktivitas untuk menonton, mengambil foto atau video, menggembalakan ternak maupun melakukan kegiatan lain selama masih terdapat semburan atau pelepasan gas yang signifikan.

Jika berada di sekitar kawasan dan mengalami pusing, mual, sesak napas, atau melihat kondisi tidak normal pada manusia maupun hewan, masyarakat diminta segera menjauh menuju tempat terbuka dengan sirkulasi udara yang baik dan mengikuti arahan petugas.

Masyarakat juga dilarang mencoba mendekati sumber gas hanya untuk memastikan asalnya.

 

Pendekatan Berbasis Bahaya Geologi

Untuk jangka panjang, Badan Geologi menilai kawasan Kesongo perlu dikelola menggunakan pendekatan berbasis bahaya geologi, terlebih apabila kawasan tersebut juga dimanfaatkan untuk kegiatan masyarakat maupun geowisata.

Penataan akses, informasi bahaya yang mudah dipahami, prosedur pembatasan atau penutupan kawasan ketika aktivitas meningkat, edukasi masyarakat dan pengunjung serta kajian mengenai batas aman menjadi bagian penting dalam mitigasi.

Namun, Badan Geologi belum menetapkan angka radius aman tertentu sebelum memperoleh data lapangan terbaru. Menurut Rita Susilawati, zona aman tidak dapat ditentukan sekadar dengan menggunakan angka umum.

"Zona aman harus ditetapkan berdasarkan pertimbangan teknis dan karakter bahaya yang ditemukan, bukan sekadar menggunakan angka umum," ujarnya.

Hasil pemeriksaan tim Badan Geologi di Oro-Oro Kesongo nantinya akan digunakan untuk memastikan kondisi terkini, mengevaluasi potensi bahaya dan menyusun rekomendasi teknis yang tepat bagi pemerintah daerah maupun masyarakat.

Bagi warga sekitar, fenomena Oro-Oro Kesongo Blora yang telah berulang seharusnya tidak membuat kewaspadaan menurun.

Sebab, meskipun merupakan fenomena geologi lama, karakter aktivitas dan jalur keluarnya fluida dapat berubah, sementara gas berbahaya dapat hadir tanpa terlihat.

"Pesan kami kepada masyarakat adalah bahwa fenomena Kesongo memang sudah dikenal dan telah berulang sejak lama, tetapi bukan berarti tanpa bahaya," kata Rita Susilawati.

Ia meminta masyarakat mengenali fenomena tersebut, tidak mendekati pusat aktivitas, mematuhi pembatasan dan arahan petugas serta memberikan ruang kepada tim teknis untuk melakukan pemeriksaan.

"Yang paling penting, jangan menjadikan fenomena yang menarik untuk dilihat sebagai alasan untuk mengabaikan keselamatan," pungkasnya.

Sebelumnya, aktivitas Oro-Oro Kesongo Blora kembali menjadi perhatian setelah dilaporkan mengalami beberapa kali semburan pada 7 Agustus 2026. Pemberitaan sebelumnya menyebut semburan pertama dilaporkan mencapai sekitar 10–15 meter dan aktivitas tersebut kemudian menjadi perhatian aparat serta masyarakat di sekitar kawasan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya