Teleskop Surya Rilis Foto Matahari, Permukaannya Tampak Bergelombang

Bagaimana proses pengambilan foto Matahari dengan teleskop surya milik para ilmuwan?

oleh Nasywa FakhirahDiterbitkan 11 Agustus 2026, 19:30 WIB
Penampakan Permukaan Matahari (AP/National Solar Observatory)

Liputan6.com, Washington D.C - Para ilmuwan berhasil mengabadikan permukaan Matahari dengan tingkat detail tertinggi yang pernah dicapai. Gambar tersebut memperlihatkan pola-pola menyerupai bulu yang bergelombang dan bergerak dinamis di lapisan luar Matahari.

Citra tersebut diperoleh menggunakan Teleskop Surya Daniel K. Inouye milik National Science Foundation (NSF) yang berada di Pulau Maui, Hawaii, Amerika Serikat. Teleskop ini memungkinkan para peneliti mengamati permukaan Matahari tanpa harus melihatnya secara langsung, yang dapat membahayakan mata.

Dikutip dari AP News, Selasa (11/8/2026), para ilmuwan awalnya mengambil gambar tersebut untuk menguji sekaligus meningkatkan kemampuan teleskop. Namun, setelah menganalisis hasil pengamatan, mereka menyadari bahwa teleskop tersebut berhasil merekam lapisan luar Matahari dengan resolusi yang belum pernah dicapai sebelumnya.

Dalam citra tersebut, para peneliti menemukan pola menyerupai bulu-bulu bergelombang yang muncul di permukaan Matahari. Pola itu menggambarkan riak yang tidak stabil pada plasma, yakni materi yang terdiri dari partikel bermuatan dan dipengaruhi medan magnet.

Fisikawan Matahari dari Stanford University yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut, Ruizhu Chen, mengatakan tampilan permukaan Matahari dalam citra itu mengingatkannya pada karya seni terkenal.

"Itu mengingatkanku pada lukisan-lukisan terkenal, seperti langit yang berputar-putar dalam lukisan 'Starry Night' milik Van Gogh," kata Chen.

Menurut para peneliti, riak tersebut muncul karena aliran plasma bermagnet bergerak dengan kecepatan yang berbeda dan saling berinteraksi. Fenomena itu menyerupai pola gelombang yang terbentuk ketika angin bertiup di atas permukaan air.

Fenomena serupa sebenarnya telah diamati di Bumi maupun planet lain, termasuk Jupiter dan Saturnus. Namun, pengamatan dengan tingkat detail seperti ini belum pernah dilakukan terhadap permukaan Matahari.

"Fenomena ini belum pernah diamati pada tingkat tersebut di permukaan Matahari," kata Friedrich Woger, salah satu penulis studi dari National Solar Observatory.

Hasil penelitian tersebut telah dipublikasikan dalam jurnal Nature pada Rabu pekan lalu.

Pengamatan dengan resolusi tinggi ini juga diharapkan membantu ilmuwan memahami mekanisme yang terjadi di bagian dalam Matahari. Pengetahuan tersebut penting untuk mempelajari fenomena ledakan energi besar yang dikenal sebagai lontaran massa korona (coronal mass ejection/CME).

CME dapat melontarkan awan besar partikel bermuatan dari Matahari ke luar angkasa dan, dalam kondisi tertentu, bergerak menuju Bumi. Jika mencapai Bumi, fenomena tersebut dapat memicu badai geomagnetik yang berpotensi mengganggu sistem komunikasi dan navigasi, termasuk GPS.

Di sisi lain, badai matahari juga dapat menghasilkan fenomena aurora dengan warna-warni yang terlihat di langit malam.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya