Liputan6.com, Bogota - Amerika Serikat (AS) mengucurkan bantuan senilai US$ 15,5 juta atau sekitar Rp 275,8 miliar untuk Kolombia setelah gempa magnitudo 7,4 mengguncang negara tersebut pada Senin.
Bantuan itu akan digunakan untuk penyediaan tempat penampungan, makanan, perlindungan, serta asesmen dampak gempa.
Advertisement
Kementerian Luar Negeri AS mengumumkan bantuan tersebut melalui platform X pada Senin.
"Kami mendoakan rakyat Kolombia dan siap mendukung Presiden Abelardo de la Espriella serta pemerintahannya dalam mengidentifikasi kebutuhan di lapangan," kata Kementerian Luar Negeri AS dalam pernyataan.
Data Asosiasi Kota-Kota Ibu Kota Kolombia (Asocapitales) menyebutkan sedikitnya 132 orang tewas dan 570 lainnya terluka akibat gempa. Organisasi tersebut sebelumnya mengikuti rapat penanganan bencana bersama presiden.
Asosiasi itu mengatakan, sebanyak 60 korban tewas dilaporkan di Kota Pereira. Adapun jumlah total bangunan yang runtuh di wilayah perkotaan tercatat sebanyak 86 gedung roboh.
Otoritas penerbangan sipil Kolombia (Aerocivil Colombia) mengonfirmasi penutupan operasional hanya dilakukan pada enam bandara di wilayah barat untuk inspeksi keselamatan landasan pacu. Bandara tersebut berada di:
- Pereira
- Manizales
- Quibdo
- Armenia
- Cartago
- Buenaventura
Status Bencana Nasional
Pemerintah Kolombia telah menetapkan status bencana nasional pasca gempa.
Penetapan status tersebut memungkinkan pemerintah mengerahkan sumber daya tambahan ke wilayah-wilayah yang paling terdampak.
Menurut Asocapitales, keputusan itu diumumkan Presiden Abelardo de la Espriella saat memimpin rapat komite penanganan bencana yang turut mereka hadiri.
"Gempa Terkuat Abad Ini"
Badan Geologi Kolombia menyatakan gempa pada Senin merupakan yang terkuat yang tercatat di negara itu pada Abad ke-21.
Direktur Badan Geologi Kolombia Julio Fierro Morales menjelaskan, wilayah barat Kolombia berada di zona subduksi, yakni kawasan tempat satu lempeng tektonik bergerak masuk ke bawah lempeng lainnya.
"Karena itu, wilayah ini sepanjang sejarahnya telah mengalami gempa dengan kekuatan cukup besar," kata Fierro Morales. "Salah satu catatan sejarahnya adalah gempa pada 23 November 1979 dengan magnitudo 7,2."
Menurut catatan National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), gempa pada 1979 tersebut menewaskan puluhan orang dan menyebabkan ratusan lainnya terluka.