Karhutla Meluas, 107.000 Hektare Lahan di Indonesia Terbakar

Fenomena El Nino atau kemarau yang melanda Indonesia saat ini mempercepat terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

oleh Lizsa EgehamDiterbitkan 10 Agustus 2026, 17:53 WIB
Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Djamari Chaniago didampingi Kepala Badan Nasional dan Penanggulangan Bencana Letjen TNI Suharyanto saat jumpa pers usai rapat koordinasi (rakor) penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Jakarta, 10 Agustus 2026. (KLY/Arie Basuki)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Djamari Chaniago mengatakan 107.000 hektare lahan di Indonesia mengalami kebakaran.

Dia menuturkan fenomena El Nino atau kemarau yang melanda Indonesia saat ini mempercepat terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

"Sore ini kami melakukan rapat merespons satu situasi atau cuaca yang kita hadapi sangat keras akan yang biasa disebut El Nino kuat yang sudah berlaku sekarang sampai awal Oktober yang akan datang, keadaan ini akan sangat mempercepat proses tentang kebakaran hutan yang terjadi sekarang," kata Djamari dalam konferensi pers di Kantor Kemenko Polkam, Jakarta, Senin (10/8/2026).

"Sampai dengan hari ini, wilayah kita di Indonesia mulai yang terbakar hutan terhitung 107 ribu hektare lebih sampai hari ini," sambungnya.

Menurut Djamari, pemerintah telah mengerahkan personel dan peralatan untuk mengendalikan karhutla. Salah satunya dengan mengerahkan 43 helikopter untuk memadamkan titik api dari udara.

"Kita sudah mengerahkan banyak sekali tenaga alat-alat peralatan, sebagai catatan, dalam melakukan operasi udara yang misalkan satgas udara kita mengerahkan 43 helikopter sampai hari ini dipakai fixed wing 10-15 sesuai dengan kebutuhan," ujarnya.

Dia menilai operasi udara menjadi opsi yang paling efektif untuk menangani kebakaran saat ini. Djamari mengatakan BNPB juga melakukan modifikasi cuaca untuk menghasilkan hujan buatan guna memadamkan api dan mencegah kebakaran meluas.

"Melihat situasi seperti sekarang ini, upaya yang paling tepat, operasi yang paling tepat dilakukan adalah yang efektif operasi udara sangat efektif membuat hujan buatan yang dilakukan BNPB itu paling efektif, tapi ada satu syarat yang harus diharapkan, yaitu harus ada awan hujan, selama awan hujan tidak ada, kita tidak akan bisa membuat hujan buatan," jelasnya.

"Untuk itu kita akan mewaspadai apapun yang ada awan hujan kita segera modifikasi cuaca, itu yang cukup membantu karena cukup air besar dari udara dalam daerah yang sangat luas," sambung Djamari.

 

6 Provinsi Rawan Karhutla

Dia mengatakan pemerintah memantau enam provinsi yang dinilai rawan mengalami karhutla. Keenam provinsi tersebut yakni Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Riau.

"Yang kita waspadai ada 6 provinsi itu, mulai dari Riau, Jambi, Sumsel, Kalbar, Kalteng, dan Kalsel, dan itu pun sudah kita kendalikan sampai saat ini, beberapa laporan disampaikan gubernur, pada kepala daerah sudah meyakinkan keadaan itu akan kita hadapi dengan cepat," pungkas Djamari.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya